murniramli

Tutup botol dan aging society di Jepang

In Belajar Kepada Alam, Serba-Serbi Jepang on November 1, 2009 at 1:23 pm

Coba ambil beberapa botol plastik minuman yang masih baru, dan perhatikan bentuk tutupnya. Apakah anda menemukan hal yang menarik ? Mungkin tidak ada bedanya. Tutup botol minuman biasanya terdiri dari dua bagian, satu bagian yang menempel di leher botol dan satu lagi yang bisa dilepaskan dari botolnya.

Tapi coba perhatikan tutup botol berikut ini :

P1020051  P1020053                                                     P1020054

        A                                                 B                                                  C

Gambar A adalah tutup teh botol, gb. B adalah leher alat semprot, dan gambar C adalah tutup cabe bubuk kemasan botol.

Kira-kira yang mana yang paling gampang dibuka ?

Iseng sekali.
Ya, kalau tidak iseng, maka kita tidak akan maju😀

Berdasarkan hasil percobaan saya, yang paling gampang dibuka adalah yang tutup B. Tutup A memerlukan lebih banyak tenaga untuk membukanya, tutupr C juga karena agak licin. Perbedaan cara membuka tersebut disebabkan oleh jenis gerigi tutup botol.

Lalu apa hubungannya dengan aging society di Jepang ?

Begitulah saya menonton sebuah acara yang menarik beberapa hari lalu. Sebuah pusat penelitian yang berfokus pada perkembangan masyarakat Jepang yang semakin menua, mengeluarkan sebuah statemen keluhan kepada para pengusaha soft drink dan juga pengusaha makanan/minuman kemasan lainnya. Isi keluhannya : Para produsen tersebut memproduksi barang tanpa memperhatikan semua pemakainya. Mereka menyamaratakan pemakai. Maksudnya semua tutup botol misalnya dirancang dengan bentuk yang sama, dengan gerigi yang rapat seperti gambar A, sehingga menyulitkan nenek dan kakek untuk membukanya.

Wah !!
Saya langsung membuka pintu kulkas dan mengecek semua tutup baverage yang ada, dan benar adanya semuanya hampir sama. Sebenarnya tidak jarang pula saya mengalami kesulitan membuka tutup botol. Dan yang paling mengesalkan adalah tutup botol madu yang bentuknya seperti botol selai yang saya simpan di kulkas. Kalau setiap pagi saya mau sarapan madu (kayak winnie pooh saja :D  ), saya pasti berkeringat membukanya. Akhirnya sekarang, tutupnya saya longgarkan, supaya bisa sekali buka dengan satu putaran saja. Saya sudah tua rupanya😦

Apakah perusahaan marah dengan komplen tersebut ? Tidak. Perusahaan Kirin yang selain memproduksi bir juga merajai minuman botol dalam plastik, langsung mengadakan penelitian dan hasilnya mereka memperbaharui model tutup botolnya, yaitu dengan membuat gerigi lebih jarang dengan pola yang tidak seragam. Susah membayangkannya ? Nanti kalau saya beli, saya jepretkan😀

Tidak hanya itu, lembaga peneliti tersebut juga mengkomplen kemasan tahu basah dalam plastik yang kadang dibuka tapi tidak terbuka semua, atau kemasan makanan bubur instan yang hanya perlu dicelupkan ke dalam air mendidih, tapi kemasannya tidak dilengkapi dengan bagian yang aman  dipegang kalau kemasan tersebut sudah siap diangkat.

Kalau kita berbelanja makanan ringan yang dibungkus dalam plastik, pasti ada bagian yang terbelah sedikit atau digambari dengan mulut anime menganga. Itu adalah bagian untuk membuka kemasan. Hampir semua kemasan makanan di Jepang dilengkapi dengan tanda ini. Dan biasanya memang hanya bisa dibuka di bagian tersebut, artinya ada bagian tertentu dari kemasan makanan yang dibuat dengan tekstur berbeda.

Tatkala datang ke Jepang pertama kali dan membeli onigiri, saya putus asa membukanya. Ternyata cara membukanya sudah diajarkan di plastik kemasannya, ada nomor yang harus diikuti seperti gambar di bawah ini :

Sumber : http://pingmag.jp/2008/09/25/thoughtful-design/

Selain onigiri seperti di atas adalah lagi yang sekarang dijual dalam bentuk lonjong seperti lemper, dan lebih gampang cara membukanya, tapi kalau tidak hati-hati, onigirinya bisa terlepas dari kemasan nori (seaweednya), dan jatuh😀

Demikianlah, masyarakat Jepang tidak bisa menolak gejala penuaan cepat. Ini sudah menjadi sunnatullah. Tetapi mereka mau belajar dan menyesuaikan dengan kondisi yang terjadi. Bukankah manusia berkembang seperti sekarang ini karena hasil penyesuaiannya terhadap lingkungan ?

Kuncinya terletak pada satu kata saja :  kepedulian.

  1. Tatkala berjalan menyusuri Sannomiya-Kobe, saya juga menyadari bahwa di Jepang pajalan kaki sangat dimanjakan karena:

    1. Trotoar tidak naik-turun secara drastis sehingga bisa dilalui sepeda, kursi roda, dan baby-car dengan nyaman.
    2. Trotoar sangat lebar (di perkotaan) dan hijau asri, bahkan bisa lebih lebar dari jalan mobilnya.
    3. Tidak ada orang berjualan di trotoar.

    Kalau kata kuncinya kepedulian, apa pemerintah Indonesia tidak memilikinya?

  2. Saya jadi ingat di kisah Harry Potter, Percy Wesley bercerita bahwa pemerintah bermaksud membuat standar ketebalan pantat panci. Sebab ditemukan banyak panci berdasar tipis yang dapat membahayakan.
    Yep, Bu.. Kepedulian.
    Yang saya heran adalah, plastik pembungkus buku di Indonesia. Begitu ketatnya sampai musti di cakar-cakar dulu. Atau digigit pinggirannya. Heran…?

  3. @Pak Gilig : secara personal mungkin ada, tp secara negara barangkali belum memadai
    @Bu Al : hahahaaha….saya baru beberapa hari yang lalu nggigit sampul plastik buku dari Indonesia😀

  4. wah betul bgt ttg buka plastik buku n buka tutup botol yg super ketat. bikin senewen ya bu. saya seringnya nyerah aja n kasi ke suami buat bukain. atau kalo pas sendiri ya terpaksa cari alat bantu. atau lari ke tetangga. hahaha :p

  5. Hai mbak Murni, salam kenal!
    Refleksinya sangat inspiring, memang betul kuncinya kepedulian.🙂 Tapi, kadang dalih kita adalah “masih banyak hal lain yang lebih penting dipikirkan daripada hanya hal-hal kecil seperti itu..”

    Rasanya emang banyak sekali yang bisa kita pelajari dari negara-negara maju seperti Jepang ya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: