murniramli

Umroh

In Islamologi, Renungan on Desember 7, 2009 at 10:06 am

Tanggal 18 Nov (2 Dzulhijjah) pukul 09.00 malam, kami tiba di pondokan yang bernama Funduq Shumuukh Al Falah, berada dekat sekali dengan masjidil haram. Setelah meletakkan bagasi di pondokan, bersih-bersih diri ala kadarnya, kami bergegas menuju masjidil haram untuk menunaikan tawaf umroh dan sai.

Memasuki masjidil haram adalah kerinduan yang tak tertahankan bagi siapa saja yang berangkat haji. Doa agar Allah memberikan keselematan dan membukakan pintu-pintu surganya kepada kami terlafadzkan saat kaki kanan mulai melangkah memasuki pintu Al-Fath, gerbang ke-45 dari banyak gerbang yang dimiliki masjidil haram. Jumlah gerbang yang banyak ini merupakan kemudahan bagi siapa saja yang ingin memasuki masjidil haram dari arah manapun.

Mata kami langsung terpaku pada bangunan ka’bah yang megah yang terlihat jelas dari pintu masuk Al-Fath.Segera terpanjatkan doa memohonkan kemuliaan, kemegahan untuk ka’bah dan para pengunjungnya baik yang berhaji maupun berumroh.

Bergegas kami mencari-cari pojok ka’bah yang padanya menempel hajar aswad. Sebenarnya jika teliti mencari, ada papan pengumuman berwarna hijau tergantung sejajar dengan pojok hajar aswad, bertuliskan kata “bidayah wa nihayah tawaf”, tentu saja dalam bahasa Arab, yang menjadi penanda mulai dan selesainya tawaf.

Kami pelan-pelan menuruni tangga dan masuk dalam pusaran manusia yang tengah melakukan tawaf. Hari itu tidak terlalu ramai dan tidak pula sepi. Lautan manusia dengan penampakan beragam rupa berputar mengagungkan namanya. Saya berada di posisi depan, teman memegang pundak saya, kemudian suaminya berada di belakangnya. Kami berputar mengikuti pusaran manusia. Mata saya berair, kaca mata berkabut, saya mulai tertarik oleh gaya sentrifugal Ka’bah, semakin bergerak ke kiri mendekati ka’bah. Suami teman berteriak mengingatkan agar jangan memaksa masuk ke tengah dan mencoba menarik kami ke arah luar, menjauhi ka’bah. Tetapi apa daya saya sebab Ka’bah sungguh menarik kaki saya untuk semakin ke kiri, mendatanginya.

Manusia berdesak-desakan di pojok hajar aswad, di antara dinding ka’bah dan makam Ibrahim, dan di setengah lingkaran hijr Ismail. Gerakan dorongan membawa saya pada pusaran manusia. Saya menangis tatkala memohonkan doa kesempurnaan iman, keikhlasan hati, kekhusyukan lisan dalam berzikir, keridhaan dan surga Allah, saat putaran kami hampir berakhir di ketujuh kalinya.

Doa yang paling mustajab adalah doa di multazam, yang terletak antara pintu ka’bah dan hajar aswad. Tetapi sungguh sulit berada pada posisi itu. Setelah sholat dua raka’at di belakang makam Ibrahim, maka mulailah panjang lafadz dan rintihan kami memohon kasih sayangNya.

Saat itu, terlupa semua titipan doa teman-teman. Yang ada di dalam kepala saya hanya doa memohon kesempurnaan iman, keyakinan yang benar, kekhusyukan hati,taubatan nasuuha, penerimaan ibadah tawaf, sholat dan pengabulan segala doa kami.Panjang doa dan permintaan kepadaNya, termasuk memohonkan agar semua adik, kakak, dan teman diberi kesempatan untuk mendatangi rumahNya yang begitu agung. Saya tak menghitung berapa lama saya berdoa di sana, sampai tersadar ketika mendengar suara teman mengajak untuk meminum air zam-zam dan segera memulai sai.

Air zam-zam adalah kesejukan yang menggantikan berliter-liter keringat yang membasahi badan para mutawwif, membasahi kerongkongan yang kering karena perebutan O2. Air zam-zam selanjutnya menjadi minuman terlezat yang selalu saya rindukan selama berada di tanah haram.

Sai antara bukit Shafa dan Marwah malam itu adalah ibadah yang paling meletihkan dari semua ibadah. Badan kami sudah sangat letih, perut kami mulai meronta untuk diisi, dan mata kami mulai memejam karena sudah waktunya diistirahatkan. Jarum jam menunjukkan pukul 11 malam.Sangat sulit berkonsentrasi pada saat-saat seperti ini. Mulut kami berkomat-kamit mengagungkan namaNya, pikiran kami mencoba merasai kepayahan yang dialami Siti Hajar saat mencari air untuk putranya Ismail.

Kaki saya mulai kejang. Saya putuskan berhenti di perjalanan antara Marwah dan Shofa untuk meneguk segelas zam-zam dan menyiramkannya di wajah dan kaki. Terasa sejuk dan memberikan kekuatan baru. Pukul 12.30 malam kami akhiri sai dengan ucapan syukur tiada tara.

Malam itu kami mendaki jalan ke pemondokan dan terlelap kecapekan hingga pukul 4 saat terdengar suara ketukan di pintu membangunkan kami untuk berangkat sholat subuh di haram. Allah, ampuni kami atas kelalaian ini !

Datang terlambat ke masjidil haram artinya sama saja dengan sholat di emperan masjid dengan posisi menungging, sebab tanah yang tak datar. Begitulah, sholat subuh yang kurang sempurna kami kerjakan di hari ketiga dzulhijjah (19 Nov).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: