murniramli

KeMahapemurahan Allah di tanah haram

In Islamologi, Renungan on Desember 8, 2009 at 1:50 pm

Kalau ditanyakan apakah ada peristiwa buruk yang saya alami selama di Mekkah, maka saya tak dapat menemukan jawabannya. Kalau dorongan dan desakan orang-orang selama bertawaf dan sai dianggap peristiwa buruk, maka mungkin itu salah satunya.

Yang banyak saya terima selama berada di Mekkah adalah kepemurahan orang-orang di sekitar saya, yang karenanya membuat saya pun mudah-mudahan menjadi pemurah.

Setiap kali ke masjidil haram saya selalu berbekal botol kecil yang akan saya isi dengan zam-zam, sebab tenggorokan selalu kering kalau membaca Al-Quran ketika menunggu waktu sholat tiba.

Air zam-zam tersedia dalam container plastik di dalam masjidil haram, sehingga siapa saja yang kehausan dapat menikmati kesejukannya. Saya lebih menyukai air zam-zam yang terpancar dari kran-kran yang tersedia di dekat pelataran ka’bah atau di sepanjang tempat sai. Rasanya lebih sejuk dan segar. Barangkali karena air di tempat-tempat ini langsung dari sumbernya. Tetapi sayangnya mengambil air di tempat-tempat ini harus berdesakan dengan kaum pria. Biasanya saya akan sabar berdiri menunggu jamaah haji lainnya mengisi botol-botol untuk dibawa pulang ke pondokan. Dalam keadaan sabar seperti itu, biasanya Allah menunjukkan kepemurahanNya. Selalu saja ada yang dengan baiknya menawarkan saya segelas zam-zam. Ucapan terima kasih dan doa semoga Allah memberinya kemudahan selalu saya panjatkan.

Karena sering mendapat perlakuan baik, maka Allah pun menguji sifat pemurah hambaNya. Suatu kali saya berjalan menuju tempat teman duduk, setelah pulang dari mengambil zam-zam, dan saat menaiki tangga, tiba-tiba seorang nenek yang duduk di tangga menyodorkan gelas kosongnya. Dengan senang saya mengisinya. Pernah pula saat asyik membaca Al-Quran, tiba-tiba seorang Ibu menyenggol tangan saya dan menyodorkan botolnya yang kosong, meminta untuk diisi dengan zam-zam. Saya sodorkan botol saya dan mempersilahkannya untuk meminumnya.

Dari beberapa kali sholat di masjidil haram, saya menemukan kesempitan hati kaum muslimin untuk memberikan tempat sholat bagi saudaranya. Sajadah-sajadah lebar yang mereka bawa kadang-kadang tak terbagi. Saya berpesan kepada teman, bahwa sesempit apapun tempat sholat kita, jika ada yang meminta untuk berdiri di samping kita, maka berikanlah. Saya memohon kepada Allah agar membuat hati kami lapang dan luas untuk saudara kami.

Maka menjadilah hari-hari kami dipenuhi dengan ajakan untuk menegakkan sholat yang benar, berdempet tanpa celah, merapatkan barisan. Suatu kali saya panggil dua orang muslimah dari Turki yang belakangan saya ketahui setelah kami berkenalan adalah akuntan di negaranya, untuk duduk di samping saya. Semula mereka duduk di barisan ibu-ibu yang duduk di depan, tapi seorang ibu menyuruhnya pergi dan mengatakan tempat itu sudah penuh.Adiknya duduk menangis di samping saya, memandangi orang-orang tawaf di depan mata. Saya ikut menangis. Saat berdiri sholat, Allah melapangkan tempat sholat kami. Kedua kakak beradik mengajak saya mengobrol saat jeda sholat maghrib menunggu Isya. Saat berpisah, mereka memberikan biskuit dan sebungkus kacang almond Turki yang rasanya enak sekali. Kami berpisah dengan harapan semoga Allah mempertemukan kami kembali.

Allah, melalui ibadah haji mempertemukan hamba-hambaNya dari belahan dunia, menganugerahi kasih sayang di antara mereka. Banyak kami bertemu dan berbicara dengan saudara-saudara seiman, meskipun tak begitu jelas bahasa antara kami. Beberapa ibu dari negeri yang tak pernah saya dengar namanya, mengajak saya dan teman berbincang-bincang. Kami senang mendengar cerita mereka.

Allah pun mempertemukan saya dengan dua orang Ibu dari Syiria yang tak henti mendoakan kami dengan kebaikan. Tatkala melihat saya membuka-buka buku Sejarah Mekkah, dia tertarik dan mulai berbicara dalam bahasa Arab yang agak sulit bagi saya. Beliau tak bisa berbahasa Inggris, sementara bahasa Arab saya terbatas. Ketika saya mengatakan saya bisa berbicara bahasa Arab sedikit, maka terucaplah pujian-pujian kepada Allah dan dia tak berhenti berbicara dalam bahasa Arab yang indah, mendoakan kami dan negeri kami. Di tengah pembicaraan, tiba-tiba si Ibu bertanya apakah saya sudah menikah. Kalau belum, maka maukah saya menikah dengan seorang putranya. Saya tertawa dan menganggap tawaran itu sebagai gurauan dan bentuk kasih sayangnya kepada saya.

Demikianlah Allah menunjukkan betapa luasnya sifat pemurahNya, dan menyediakan kesempatan yang luas untuk menjadi orang pemurah.

Tak hanya di masjid, saya menemukan kepemurahan itu di toko-toko makanan di Mekkah yang ditunjukkan oleh pedagang-pedagang yang dengan rela menawarkan tambahan bonus kurma segar yang saya beli, merelakan kekurangan seriyal harga makanan yang saya beli. Atau teman-teman yang mentraktir saya dengan makanan, memberikan obat-obatan tatkala obat-obatan saya sudah habis.

Saya adalah orang yang sangat beruntung telah mendapatkan kepemurahan Allah sejak saya berangkat hingga hari-hari saya di tanah haram. Maka, sangatlah sayang jika saya tak menjadi orang yang pemurah dan berhati lapang…

Semoga Allah tetap menempelkan sifat ini kepadaku selamanya.

Iklan
  1. subhanallah…
    semaoga, ketika saya diundang Allah untuk memulyakannya di tanah haram, saya juga mendapat kepemurahan Allah seperti anda, amin…

  2. Membaca tulisan Mbak Murni seputar haji rasanya saya seperti ikut ke sana. Hikmah-hikmah yang terkuak terasa menyusup dalam diri saya. Mudah-mudahan saya bisa mewujudkannya dalam hidup saya.
    Terima kasih sekali atas oleh-oleh yang sangat berharga ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: