murniramli

Mencintai Ka’bah

In Islamologi, Renungan on Desember 8, 2009 at 12:49 pm

Hari-hari menunggu pelaksanaan ibadah haji saya habiskan sebagian besarnya di masjidil haram. Ibadah haji akan dimulai pada tanggal 8 Dzulhijjah bertepatan dengan tanggal 24 November, saya masih mempunyai 6 hari untuk mempersiapkan diri.

Saya sudah bersepakat dengan teman, bahwa tujuan kami datang lebih awal ke Makkah adalah untuk memperbanyak sholat dan ibadah di Masjidil Haram. Setiap sholat wajib hendaknya ditunaikan di sana. Karenanya kami mulai menyusun skedul harian, yaitu berangkat ke haram pukul 3 pagi dan menghabiskan waktu di sana hingga pukul 7.30 pagi yaitu sampai tiba waktu dhuha. Lalu pulang ke pondokan, makan pagi, mandi dan istirahat. Selanjutnya berangkat lagi ke haram menjelang sholat dhuhur dan menghabiskan waktu di sana hingga sholat isya, jadi sekitar pukul 8 malam kami pulang, makan malam dan tidur.

Mungkin sedikit ketat skedul tersebut, tapi kami berfikir, bahwa Allah telah memudahkan kami dengan pemondokan yang dari jendelanya jelas terlihat menara-menara masjidil haram. Mengapa kami tidak bersyukur dengan semakin banyak mendatangi rumahNya ?

Alhasil, hari-hari kami berjalan sesuai dengan rencana, tetapi belakangan kami mulai keletihan. Sesekali kami tak pergi ke masjid pada saat dhuhur karena badan yang mulai letih dan saya mulai terserang penyakit “wajib” jamaah haji, pilek dan batuk.

Tetapi kerinduan kepada ka’bah tidak pupus.Entah kenapa pada hari ketiga sholat subuh di masjidil haram, saya ingin sekali melihat ka’bah dari atas. Maka berpamitanlah saya kepada teman yang tengah membaca Al-Quran, dan berpesan agar tidak usah menunggu saya. Insya Allah saya ingin tawaf dari lantai 2 dan akan pulang sendiri. Sebelum mulai tawaf, saya pandangi ka’bah yang berdiri kokoh dengan pusaran putih di sekelilingnya. Mata saya berair melihat kebesaran ini. Tak ada yang bisa menggerakkan pusaran manusia di bawah sana kecuali Allah. Allahumma zid haadzalbaita tasyriifan wa takriiman wa mahaabatan, wa zid man syarrafahu wa karramahu minal hujjaji awitamara ilaihi tasyriifan wa takriiman wa birran, lisan saya akhirnya lancar memanjatkan doa agar bertambah keagungan untuk ka’bah dan para mutawwif,alhamdulillah. Lalu, mulailah saya mencari tanda bidayah dan nihayah, awal mulai tawaf, dan terangkatlah tangan mengucapkan salam kepada hajar aswad sambil mengecupnya. Tawaf saya kali ini terasa sangat jauh dan melelahkan, perut saya mulai keroncongan. Rasa lapar itu hilang tatkala air mata mulai membanjiri karena doa-doa yang mengalir. Alhamdulillah Allah memberikan saya kepahaman pada makna doa yang saya baca dan Allah menganugerahkan keikhlasan itu.

Bekal air zam-zam di botol kecil sudah habis separuh. Tawaf panjang ini berakhir setelah dua jam lebih saya ikut haluan jamaah haji yang berputar di lantai 2. Setelahnya saya mencari sebuah tempat sejajar dengan makam Ibrahim kemudian berdoa. Saya seperti seorang pesakitan yang menghadapi pengadilan Allah, merintih dengan sangat memohon kasih sayangNya untuk menghapuskan dosa-dosa saya, dosa orang tua, dosa saudara2 saya.

Banyak doa yang seharusnya terpanjat, tetapi saya hanya mengulang-ulang permohonan agar dilimpahkan keimanan yang sempurna, keikhlasan untuk beribadah, dan lisan yang tidak pernah berhenti berzikir kepadaNya.Karena takut Allah tak menerima tawaf dan ibadah sholat saya, maka saya menangis memohon keridhoanNya agar menerima ketidaksempurnaan ibadah ini.

Hari-hari saya selanjutnya di Mekkah dipenuhi oleh kegelisahan untuk selalu melihat Ka’bah. Ka’bah seperti teman lama atau kekasih yang memanggil-manggil saya untuk memutarinya setiap hari. Saya mulai terserang penyakit kurang tidur. Tatkala teman berkata akan pergi ke Haram pukul 3 pagi, saya mulai terjaga pukul 1.30 dan karena bingung tak ada yang dikerjakan di kamar, sebab kalau mengaji pun akan membangunkan teman yang tidur, maka sambil membaca doa memohon perlindunganNya, saya berangkat sendiri ke Haram, lalu mengawali hari dengan tawaf memutari Ka’bah yang selalu saja tampak megah, setelah sebelumnya sholat tahiyyatul masjid. Tidak hanya Ka’bah, menara-menara masjidil haram, pintu Al-Fath yang demikian tinggi akhirnya menjadi kerinduan berhari-hari.Allahumma antassalaam wa minka ssalaam wa ilaika yauudussalaam, fahayyi’na rabbana bissalaam.tabaarakta wata alaita ya dzal jalaali wal ikrom. Allahumma iftah lii abwaba rahmatika wa abwaaba jannatika ya rrahman ya rrahiim.

Pada hari ketiga kami di Mekkah, saya mengajak teman untuk menunaikan sholat di lantai 2 masjidil haram, tempatnya luas dan bisa melihat cahaya matahari masuk ke sela-sela menara masjid pada pagi hari.Maka menjadilah lantai 2 tepat di dekat jam penunjuk waktu dan pintu masuk Al-Fath, sebagai tempat favorit kami. Berhari-hari sholat di lantai 2 saya selalu merasa sholat dengan posisi lantai yang miring menukik ke Ka’bah. Saya tanyakan kepada teman apakah dia merasakan hal yang sama. Ternyata tidak. Barangkali ini karena saya mulai terserang penyakit batuk yang membuat tubuh saya agak panas, dan kepala saya agak berat. Tapi saya kembali merasakan fenomena menukik ketika sudah sehat.Wallahu a’lam bisshawab, saya semakin merindui Ka’bah sesudahnya. Saya pikir barangkali bukan Ka’bah yang teramat sangat saya rindukan, tetapi kesempatan untuk memohon ampun kepada Pemilik Ka’bah. Saya merasa terlalu banyak dosa dan bagaikan Abu Nawas yang merasa tak layak dengan surga Allah, tetapi tak sanggup memasuki neraka. Dalam tawaf dan jarak dekat dengan Ka’bah saya lebih intens dan khusyuk berdoa.

Selama beberapa kali tawaf, tampaknya kita tak dapat menghindari desak-desakan dan berbaurnya pria dan wanita. Saya berusaha tawaf dalam putaran terluar, tetapi selalu saja ada dorongan ke arah dalam. Kadang-kadang terasa ada tangan yang memegang pundak dan menuntun saya ke dalam pusaran dalam.

Suatu kali dalam salah satu tawaf, saya bertemu dengan nenek atau kakek, wajahnya tak tampak jelas karena dia menunduk sambil berjalan tertatih. Tangannya memegang pundak seorang bapak dari Indonesia yang bisa saya kenali dari seragamnya. Saya bentangkan tangan dan melindungi si kakek/nenek dari dorongan sekitarnya. Cukup lama saya dapat melakukannya hingga akhirnya saya tak tahu kakek/nenek lenyap ke mana, dia tak terlihat lagi dari pandangan setelah saya terdesak masuk ke dalam pusaran dalam.

Tawaf di seputar ka’bah kata teman saya paling menyiksa karena bercampur semua bau badan manusia. Saya tak tahu, apakah karena air mata saya yang tak berhenti keluar sehingga membuat hidung saya mampet, saya sama sekali tak mencium bau tak sedap selama melakukan tawaf. Segala penyakit kulit dan pernafasan menurut akal sehat manusia akan sangat mudah tertular dalam keadaan seperti ini, tetapi Allah Maha Rahman. Tawaf memang memompa keringat hingga pastilah basah baju dalam dan luar. Allah Maha Pemurah dengan menyediakan udara yang bersih sekeliling ka’bah. Suatu kali saya terpikir akan tercekik pingsan di tengah desakan mutawwif, tapi mulut saya tak henti memanggilNya, Yaa rahmaan Yaa rahiim irhimnii. Wahai Yang Maha Pengasih dan Penyayang, kasihanilah hamba !

Saya tak melakukan tawaf saat hari menjelang keberangkatan ke Mina (8 Dzulhijjah). Ingin sekali melakukannya, tetapi badan saya semakin lemah karena serangan batuk dan radang tenggorokan. Saya hanya menengok Ka’bah dari lantai 2 masjidil haram dan mengucapkan salam, membacakan doa keagungan untuknya.

Insya Allah saya akan mendatangimu kembali….

  1. Salam Takzim
    Mohon izin menyampaikan salam kenal kepada juragan dengan membawa do’a Semoga juragan menjadi haji yang mabrur
    Salam Takzim Batavusqu

  2. Nice info gan…thanx

    DOWNLOAD E-BOOK AKHIR ZAMAN GRATISS
    http://www.penuai.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: