murniramli

Membersihkan toilet di Arafah dan Mina

In Islamologi, Renungan on Desember 9, 2009 at 5:51 am

Kalau mau disebut orang yang bersih, saya tidak termasuk orang yang sangat bersih. Tapi saya sangat menyukai kebersihan. Meja belajar saya di kampus termasuk yang penuh barang, dan agak berantakan, tapi saya merutinkan membersihkannya seminggu sekali.

Sejak sebelum berangkat ke tanah suci, teman-teman sudah mewanti-wanti untuk membawa tissue toilet (yang ternyata saya lupa) sembari mengingatkan bahwa jangan membayangkan toilet yang bersih dan automatically flushed seperti di Jepang. Cerita-cerita seram lainnya tentang toilet masih banyak lagi yang membuat saya agak kecut.

Saya pernah menuliskan di blog ini bahwa kebersihan rumah seseorang menurut saya tergantung pada toiletnya. Jika toiletnya bersih maka si pemilik rumah adalah orang yang bersih. Pemahaman ini jangan dianggap benar, sebab ini hanya anggapan saya saja.

Setiap kali pergi ke masjid Honjin di Nagoya, saya selalu mempunyai waktu untuk membersihkan toilet dan tempat wudhu masjid yang selalu saja basah. Keinginan untuk membersihkan toilet mulai muncul saat kami tiba di Mina pada tanggal 8 Dzulhijjah (24 Nov).

Saat kami tiba di Mina, hujan turun dengan deras, katanya ini adalah peristiwa langka. Kami kebasahan di dalam tenda,saya mulai menangis dan memohon kasih sayang Allah. Setelah sholat dhuhur seorang brother memimpin doa panjang yang sungguh dalam maknanya. Kami sungguh mengharapkan kasih sayang Allah agar sempurna ibadah haji ini. Sorenya udara agak cerah. Saya mulai membereskan barang dan bersegera mencari toilet. Toilet tampak bersih dan baru sedikit saja yang mengantri. Teman-teman berkomentar bahwa toilet tak seburuk yang mereka bayangkan.

Maktab kami di Mina digabungkan dengan jamaah haji dari Singapura, Malaysia dan ONH Plus Indonesia, maktab 88. Fasilitasnya agak berbeda barangkali dengan maktab yang lain. Tenda dilengkapi dengan AC yang membuat saya tak berhenti batuk. Toilet kami bersebelahan dengan toilet saudara-saudara dari India dan Pakistan, hanya dipisahkan oleh sebuah pagar jeruji. Miris sekali menyaksikan suasana yang berbeda ini, kami mengantri dengan tertib, sementara di sebelah berdesak-desakan dan berteriak meminta orang yang tengah buang hajat untuk bersegera.

Suatu hari, seseorang menjebol pagar jeruji, maka berbaurlah jamaah, dan menjadi kacau pula sistem antrian di maktab 88. Tampaknya ada yang memprotes ini, maka jeruji dipasang kembali.

Pagi hari menjelang keberangkatan ke Arafah (9 Dzulhijjah), saya terbangun pukul 2 pagi. Tenda masih senyap. Kembali saya menarik selimut. Tapi sebentar saja saya sudah tak tahan, sebab saya mesti mengecek kebersihan diri (Saya meminum obat anti haid, tapi tampaknya tak bekerja dengan baik. Saya pasrah kepada Allah, dan memutuskan untuk menghentikan ibadah yang terlarang bagi perempuan haid). Saat memasuki toilet setelah antri kurang lebih 30 menit, toilet sudah sangat kotor dengan tumpukan softex, tissue, dan segala macam kotoran. Saya ingin membersihkannya tetapi semua orang bergegas ingin menggunakan jamban.

Pagi sekitar pukul 08.00 kami berangkat ke Arafah. Tenda-tenda di Arafah basah, karpet-karpetnya lembab. Untunglah ketua travel kami yang selalu menyertai rombongan berinisiatif mencarikan plastik dan melapisi semua tenda. Setelah makan pagi, kami mulai khusyuk beribadah. Saya hanya membaca-baca buku doa dan berzikir sebanyak mungkin.

Toilet di Arafah hampir sama kondisinya dengan Mina. Bersih saat kami datangi. Dan selanjutnya penuh tumpukan sampah. Sekalipun ada tong sampah besar yang disiapkan, semua orang merasa lebih nyaman melemparnya saja. Saya mulai memunguti sampah-sampah di sekitar tempat saya berdiri.

Kondisi lembab dan panas di Arafah menyebabkan beberapa orang teman mengalami panas tinggi. Teman mahrom saya demam hingga hampir 39 derajat. Kami panik dan berinisiatif membawanya ke klinik. Beberapa sister dari Mesir menyarankan agar dia diguyur air dingin untuk menurunkan panasnya. Saya mulai sibuk mengeluarkan dua handuk dari dalam tas, membasahinya dengan es dan mengompresnya. Panasnya tak kunjung turun, hingga akhirnya diputuskan untuk mendorongnya ke WC dengan kursi roda lalu mengguyurnya di sana. Kasihan sekali melihat teman kedinginan, saya elus-elus rambutnya, sambil membisikinya agar mengucapkan istighfar, memohon pertolongan Allah.

Sesudah mengantar teman ke tenda, saya kembali ke toilet. Jam sudah menunjukkan waktu sholat dhuhur, ada kira-kira 6-7 orang yang mengantri. Saya mulai menarik tong sampah besar di ujung areal toilet, dan satu per satu membuang semua sampah yang menumpuk di dalam setiap toilet. Sambil mengerjakannya air mata saya tiba-tiba menggenang. Mulut saya berkali-kali mengucapkan tahlil dan memohonkan agar Allah tidak mendatangkan penyakit dengan melakukan pekerjaan ini. Sekitar 30 menit semua toilet sudah bersih dan sampah yang berceceran di semua sudut areal toilet kami sudah tak ada. Seorang ibu dari Singapur bertanya, “kamu bekerja di sini?” Saya tersenyum, “tidak, saya jamaah haji”. “Oh, amal jariyahke, ucap si Ibu dengan logat Melayu yang kental. Semoga Allah menerima amalan ini.

Saya pikir, selain berzikir, perempuan yang haid bisa melakukan kebaikan lain pada saat semua orang tengah sholat, salah satunya dengan membersihkan sampah-sampah.

Setelah menghabiskan waktu di Arafah, kami berangkat dan menginap di Muzdalifah, lalu kembali ke Mina pada pagi harinya. Selama berada di tanah haram, pembimbing haji kami sering mengingatkan agar mengantri di toilet sebelum kami benar-benar ingin buang hajat. Saya termasuk orang yang paling rajin ke toilet, dan alhamdulillah tidak ada masalah dengan perut yang biasanya melilit pagi-pagi.

Sesampainya di Mina (10 Dzulhijjah), kami bersiap-siap untuk melempar jumrah aqabah. Hari ini lumayan berat, sebab sebagian teman akan berjalan kaki kembali ke Mekkah untuk menyelesaikan tawaf ifadah, sai, hadyu, dan tahallul pertama, sebagaimana sunnah Nabi SAW. Saya sebenarnya merencanakan dari awal sunnah ini, tetapi karena saya haid, maka tak ada gunanya pergi ke Mekkah. Jadi saya mengikuti rombongan yang kembali ke perkemahan di Mina.

Sesampainya di perkemahan, suasana agak sepi sebab beberapa jamaah masih melempar jumroh, dan sebagian lagi pergi ke Mekkah. Kesempatan baik untuk membersihkan toilet. Maka sejak hari itu hingga hari terakhir kami berada di Mina (13 Dzulhijjah), saya alhamdulillah diberi kekuatan oleh Allah untuk terus membersihkan toilet,mengganti plastik-plastik sampah di areal toilet, memunguti sampah yang mungkin saya pungut di sepanjang jalan menuju tenda kami. Seorang teman saya ajak untuk membantu ketika saya kewalahan mengganti plastik sampah.

Selama membersihkan toilet, saya tidak mengucapkan sepatah kata pun kepada jamaah yang terbengong-bengong melihat kelakuan saya. Beberapa kali saya ditanya, sama seperti pertanyaan ibu di Arafah, apakah saya bekerja di situ. Sungguh rahmat dari Allah, tanggal 11 Dzulhijjah tatkala saya datang ke toilet, seseorang telah menulis ingatan untuk menjaga kebersihan di semua pintu toilet dalam bahasa Inggris, dan setelahnya muncul tambahan tulisan dalam bahasa Melayu. Alhamdulillah.

Selama berada di Mina, saya sangat berterima kasih kepada petugas perkemahan yang semuanya laki-laki. Baik, yang setiap hari mengumpulkan sampah-sampah kami, membersihkan tempat minum air panas, mengisikan ulang air panas ke dalam tangki-tangki dispenser, menyapu sampah teh, gula,krim dan kopi yang berserakan di sekitar tempat sampah. Semoga Allah melimpahkan karunia sebesarnya kepada mereka. Beberapa petugas saya cukup kenal, sebab kadangkala saya meminta plastik hitam besar kepada mereka untuk mengganti plastik sampah di toilet,atau untuk menampung sampah-sampah di tenda kami.

Alhamdulillah, saya bersyukur atas kasih sayang Allah yang terlimpah selama kami berada di Mina. Beberapa teman mengeluhkan kondisi tenda yang berpasir, berdebu yang menyebabkan penyakit batuk yang tak berhenti. Beberapa kawan mengeluhkan tidak bisa buang air, tidak bisa mandi. Saya sangat bersyukur dan menikmati antrian panjang dan obrolan dengan ibu-ibu Melayu selama mengantri, juga tak pernah mengalami hambatan untuk buang air, dan saya masih bisa mandi setiap hari di Mina sebagaimana saya bisa mandi dengan sangat leganya di pondokan kami di Mekkah dan Medinah. Alhamdulillah.

Suatu kali saya ceritakan kepada teman bahwa saya telah membersihkan toilet. Tapi malamnya saya menangis karena saya merasa telah berlaku riya. Saya memohon ampunanNya agar menjaga mulut ini dari menceritakan hal-hal riya. Tulisan ini barangkali dianggap sebagai riya, tapi sungguh saya ingin menuliskan kembali apa yang saya alami di tanahNya yang mulia agar menjadi ingatan dan pelajaran bagi saya pribadi. Saya telah mengalami pengalaman-pengalaman ruhaniah yang hanya karena kasih sayang Allah semuanya bisa terjadi. Saya tuliskan agar saya tak pernah berhenti bersyukur  kepadaNya semata.

Semoga Allah mencatat amalan ini sebagai sebuah keikhlasan, dan mengampuni diri ini atas segala sifat riya dan takabbur.

Astaghfirullahal adziim….

  1. Subhanallah…
    kisah yang bisa dijadikan pengingat sekaligus teguran untuk kita semua…

    Semoga Haji Anda Mabrur…

    _salam dari bandung_

  2. assalamu’alaikum…
    alhamdulillah bisa baca tulisan kisah hajinya mbak Murni..
    Semoga Haji Mambrur..dan saya bisa menyusul..amiin
    wassalamu’alaikum

  3. subhanalloh…subhanalloh…subhanalloh

    Pekerjaan remeh belum tentu bernilai remeh dimata Alloh ya bu.
    Tidak ada yang besar tanpa hal-hal remeh yang menjadi penopangnya. Seperti tidak ada artinya sebuah jembatan raksasa tapi beberapa bautnya hilang

  4. mbak hebat…mau membantu membersihkan toilet. Pengin niru juga ah…supaya toilet tetap bersih

  5. Assalammu’alaykum,

    masih terbayang kondisi di Arafah-Mina saat itu (kebetulan di hari-hari yg Mba ceritakan saya juga sedang berada di sana, tapi kita berbeda maktab rupanya). Subhanallah…🙂 semoga Allah SWT membalas segala amal kebaikan Mba ya…
    Mabrur… Insya Allah, aamien…

  6. ya … knapa kita suka cenderung memperkuda orang lain, dan bertindak bodoh dan kesadaran itu selalu datang terlambat [bawaan sedari tanah asal] walau pun itu di tanah haram,nan berkelimpahan tambang ladang amal dan balasan pahala berlipat,

    beruntunglah mereka-mereka yang selalu baik berbudi pekerti lembut hati semenjak di &dari tanah berasal akan memperoleh
    ladang amal berikut balasan berlebih, sementara yang lain memandang dengan penuh keheranan, ada apa & khoq mau-maunya
    melakukan pekerjaan yang telah kita bayar upahnya bukan dan
    lantas berhak melakukan se enaknya [padahal mereka kan membantu Anda/kita/kami sekalian beribadah biar berasa lebih nyaman dan khusyuq lagi]… mengherankan sekali…

    syukur alhamdulillah Mbak Murni,selalu mengulas & mengamati ‘apa’ yang terlepas & luput dari pandangan ‘mata’ oemoem tetapi lembut menyentuh nurani+tak melukai+mengingatkan,menyuburkan ide memberi kesempatan berinspirasi. di situlah kekuatan & ketertarikan qu pada blog ini
    semoga Allah SWT membalas amal kebajikan Mba Murni… menjadikan Hajjah Mabrur … amin

  7. Saya juga berada di Maktab 88 di Mina. Setelah membaca blog ini, saya rasa penulis tidak riya’ kerana boleh dikesan keikhlasannya.

    Semoga Allah membalas amal bakti yang dilakukan dan mendapat haji mabrur.

    Salam dari Singapura

  8. “Musim haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasiq dan berbantah-bantahan di dalm masa mengerjakan haji. DAN APA YANG KAMU KERJAKAN BERUPA KEBAIKAN NESCAYA ALLAH MENGETAHUINYA…” al-Baqarah:197

    Salam dr Singapura lagi

  9. @Ayh Ulfh : Terima kasih sudah bertandang ke blog ini, dan barangkali kita sempat bertemu di maktab 88 tahun lalu, jk ada khilaf mohon maafkan.
    Semoga Allah memberikan kesempatan untuk mengunjungi rumahNya yg mulia di masa mendatang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: