murniramli

Makanan tersisa di Mina

In Islamologi, Renungan, Serba-Serbi Jepang on Desember 10, 2009 at 1:09 pm

Karena semaktab dengan rombongan haji Asia Tenggara, maka makanan yang dihidangkan sehari-hari selama berada di Mina adalah makanan Asia Tenggara. Menunya hampir sama setiap hari, sayur buncis, wortel dan kare ayam atau semur daging. Makan pagi biasanya dengan menu nasi goreng dan sebutir telur rebus.

Dibandingkan makanan yang saya nikmati selama di Mekkah, ini termasuk spesial. Di Mekkah menu rutin saya biasanya adalah burger dan sandwich, kadang-kadang bakso atau nasi campur Mang Udin yang mangkal tepat di depan masjidil haram.

Bagi kami bangsa Melayu, menu makanan tersebut sangat cocok, tetapi berbeda dengan muslimah dari Mesir yang tidak terbiasa dengan rasa pedas makanan Melayu. Maka, setiap hari tersisalah berkotak-kotak makanan di tenda kami. Selain makanan, yang biasa tersisa adalah indomie yang terkadang dibagikan sebagai penambah menu jikalau nasi kurang, dan juga buah apel sebagai makanan penutup.

Saya kadang-kadang tak tega membuang seluruh makanan itu, tapi tidak tahu harus diapakan. Suatu kali saya mengobrol dengan teman dan terbersit ide untuk membawa makanan tersebut ketika melempar jumrah untuk dibagikan kepada pengemis yang banyak kami temui sepanjang jalan. Akhirnya ide tersebut, walaupun terlambat alhamdulillah bisa terlaksana pada hari terakhir kami berada di Mina, 13 Dzulhijjah.

Saya sengaja hanya memilih apel dan indomie sebab khwatir jika membawa makanan, akan cepat basi dan membuat yang memakannya malah menjadi sakit. Sekitar 5 atau 6 pengemis sempat saya datangi, dari mulut mereka terucap kata “syukron” (terima kasih). Saya panjatkan doa agar Allah memberikan rahmatNya kepada mereka. Ada seorang ibu pengemis yang meminta uang tatkala saya beri indomie. Sayangnya saya tak terbiasa mengantongi uang saat pergi melempar jumrah.Selama berada di Mina saya tak berbelanja sepeser pun. Selalu saja terencana untuk membawa uang, tapi selalu saja saya lupa membawanya. Saya lebih sibuk mempersiapkan batu-batu, bekal minum dan kurma, karena perjalanan pulang pergi ke jamaraat cukup melelahkan.

Pengemis tidak saja ada di Mina, mereka juga kami temui sepanjang jalan menuju masjidil haram. Anehnya kami tak mendapati pengemis di Madinah. Barangkali doa Rasulullah SAW yang memintakan kesejahteraan dan kemakmuran kepada Madinah menyebabkan tak ada penduduk Madinah yang meminta-minta. Kata teman, kebanyakan pengemis yang ada di Mekkah dan Mina bukanlah penduduk asli, mereka adalah pendatang dari Afrika dan beberapa negara tetangga lainnya. Beberapa di antaranya putung tangannya, yang lagi-lagi kata teman, mereka sengaja melakukannya atau mungkin karena mencuri dan terkena hukum potong tangan. Wallahu a’lam.

Semoga kita terhindar dari kefakiran dan kekafiran iman, dan semoga Allah memuliakan kaum muslimin seluruhnya.

  1. Ya..Semoga kita termasuk yang dijauhi dari kefakiran dan kekafiran iman..
    Pagi tadi saya mendengar dari sebuah tayangan stasiun TV (Trans TV, pukul 07.00), seorang ustadz mengatakan, kurang lebih seperti ini: “orang yang meminta-minta padahal ia mampu untuk berusaha, maka di akhirat kelak ia tampak sebagai tulang rangka saja, tanpa ada daging dan kulit yang membungkusnya..Allah menghinakan mereka oleh sebab perbuatan mereka sendiri..” Wallualam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: