murniramli

Tawaf Wada

In hajj, Islamologi, Renungan on Desember 11, 2009 at 4:45 am

Pada tanggal 13 Dzulhijjah saya masih dalam keadaan haid. Saya tanyakan kepada Ustadz tentang hukum melakukan tawaf ifadah sebagai rangkaian ibadah haji, dan Ustadz menjelaskan bahwa menurut Ibnu Taimiyah dan Ahmad Syakhroni (nama belakang kurang jelas terdengar melalui telpon), wanita haid diperkenankan melakukan tawaf ifadah pada masa-masa akhir periode haidnya dengan cara mandi yang bersih kemudian memakai pembalut.

Kami tiba kembali di Mekkah setelah menginap di Mina pada tanggal 13 Dzulhijjah pada saat adzan maghrib berkumandang dari menara masjidil haram. Hari ini ada dua ibadah yang harus saya kerjakan untuk menyempurnakan ibadah haji, yaitu tawaf ifadah dan sai. Karena merasa capek sekali, dan badan mulai meriang, maka saya putuskan istirahat sejenak dan merencanakan tawaf pada pukul 9 malam.

Menjelang pukul 10 saya berangkat sendiri ke masjidil haram dan langsung menuju Ka’bah bergabung dengan manusia yang tengah melakukan tawaf. Ramai sekali hari itu, sehingga saya tawaf di putaran terluar di lantai pertama. Tetapi seperti biasa saya selalu terdorong mendekati ka’bah. Sekitar pukul 11 saya selesai melakukan tawaf, berdoa di multazam, dan sekaligus berpamitan kepada Ka’bah karena bagi wanita haid tawaf ifadah adalah sekaligus tawaf wadanya.

Selanjutnya saya bergerak ke tempat sai. Sama dengan pelataran Ka’bah, malam itu tempat sa’i pun penuh dan berjejal, terutama di bukit Shafa dan Marwah. Laa haula walaa quwwata illa billah, saya pasrah kepadaNya. Dan karena badan saya agak lemah, saya ikuti saja aliran orang-orang yang sai. Jika terdorong dan terdesak, saya pasrah saja, tak mampu menahan. Akhirnya pukul 00.30 ibadah sai selesai. Sehabis meneguk air zam-zam dengan mata yang berair dan kaki yang kelelahan saya mendaki jalan pulang ke pondokan dan langsung terlelap.

Sekitar pukul 3 dini hari saya terbangun. Teman yang akan mengerjakan tawaf wada juga terbangun. Hari itu, 14 Dzulhijjah kami akan pergi ke Madinah, sehingga pertemuan dengan Ka’bah adalah yang terakhir kalinya. Saya mandi dan berzikir di atas tempat tidur. Entah kenapa saya merasa sangat ingin ke masjidil haram. Semalam sebelum berangkat tawaf, saya masih sempat mengecek kondisi haid dan masih tersisa noda yang meragukan. Saya mohonkan doa kepada Allah, meminta kasih sayangnya agar ada kejelasan perkara ini. Saya bertambah terisak saat dari masjid terdengar suara imam yang sangat merdu mengumandangkan potongan surat Al-Baqarah tentang pengalihan kiblat Nabi SAW.

Saya ingin sekali ke masjid ! Tadi ketika mandi kondisi saya sudah bersih. Saya periksa sekali lagi dan alhamdulillah bersih. Bergegas saya berwudhu, memohon ampunan kepada Allah seandainya praduga saya salah, lalu berjalan cepat menuju masjidil haram. Ramai jamaah pulang dari sholat subuh menyebabkan  jalan ke masjid yang biasanya saya tempuh dalam waktu 10 menit molor menjadi 15-20 menit. Saya tiba di gerbang Al-Fath pada pukul 6 lewat, segera menunaikan sholat tahiyatul masjid, sholat sunnah subuh dan sholat subuh. Kemudian berdiri di depan Ka’bah, memohon kepada Allah keagungan untuknya dan untuk para jamaah haji.

Alhamdulillah saya dapat melakukan tawaf wada. Kaca mata saya berembun dan kerudung saya basah oleh keringat dan air mata. Jamaah pada pagi itu melimpah hingga batas akhir pelataran Ka’bah. Tak ada tempat untuk menunaikan sholat di belakang Makam Ibrahim dan tak ada space untuk memanjatkan doa di multazam. Akhirnya saya ke belakang, naik ke tangga masjid dan menunaikan sholat di salah satu tempat yang kira-kira sejajar dengan Makam Ibrahim, lalu berdoa.

Berpisah dengan Ka’bah rasanya jauh lebih menyedihkan dibandingkan dengan berpisah dengan orang tua. Saya menangis berhari-hari tatkala bapak meninggal, dan saya pun berurai air mata saat menatap Ka’bah untuk terakhir kalinya. Ya rahman irhimni Ya raddad fardudni ilaa baitika. Wahai Yang Maha Penyayang, kasihilah hamba, Wahai Yang Maha Mengembalikan, kembalikanlah hamba ke rumahMu, berulang-ulang saya panjatkan doa ini.

Kesedihan itu bertambah mengingat kesempatan sholat dengan pahala berlipat-lipat di masjidil haram akan segera hilang. Kesempatan doa yang dimakbulkan akan segera pupus… Inginnya menetap di tanah yang mulia ini.

Saya begitu merindui masjidil haram, Ka’bah, dan masjid Nabawy sehingga tak kuasa menahan tangis saat sudah mendarat di Nagoya, menunaikan sholat ashar di pelataran dekat WC di bandara Chubu. Pada malam kedua di Nagoya saya bermimpi, saya di tempat tidur bertawaf memutari Ka’bah. Pukul 3 dini hari saya tersadar dari mimpi panjang tawaf.

Ya, Allah…beri kesempatan kami untuk mendatangi rumahMu kembali….

  1. Indahnya bisa berhaji ke tanah Mekkah almukarromah..dan shalat di Masjidil Haram…rasanya pasti menakjubkan..! (Jadi iri.., hiks..!) Semoga q termasuk yang berkesempatan melaksanakan shalat khusyuk di sana…juga menunaikan haji yang mabrur..Allahumma, Aamiin…

  2. Assalamu’alaikum wr.wb

    Ibu Murni, saya sudah sangat lama sekali tidak berkunjung ke sini, dan akhirnya banyak ketinggalan cerita2 Anda….

    Saya pikir masih di Jepang, ternyata malah ada di Makkah sana…\
    Subhanallah….

    Bagaimana kabrnya sekarang Bu…??

  3. @bocahbanjar : Alhamdulillah baik.

  4. assalamu’alaikum…
    bu, jangan lupa do’akan bangsa indonesia ya….
    dan kami di sini biar bisa menyusul menjadi perempuan luar biasa seperti anda …..amiin…makkah …. i’m coming….!!!

  5. selamat kembali ke nagoya, smg peroleh hajjah yg mabrur

  6. Air mata saya ikut tergenang di pelupuk mata karena saya selalu membayangkan dan merindukan hadir di sana.

  7. Ibu salam kenal,saya yakin ibu adalah golongan orang orang alim yg insaallah selalu diberkahi Allah, tapi…bu,jangan sering2 ke Mekkah,1.2.cukuplah jatah berikutnya bisa dihibahkan ke yg sangatt kepinginn dan membutuhkann,… hi..hi..sepertinya indah sekali yg ibu rasakan di sana…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: