murniramli

Perlukah mengajari anak-anak tentang proses kelahiran bayi ?

In Pendidikan Dasar, Pendidikan Jepang, SD di Jepang, Serba-Serbi Jepang, SMP Jepang on Desember 23, 2009 at 9:05 am

Apakah pelajaran tentang kelahiran bayi perlu diajarkan kepada anak-anak seumuran SD ?

Pertanyaan ini mungkin akan ditanggapi secara negatif oleh guru-guru di negara muslim dan akan ditanggapi secara positif oleh guru-guru di negara liberal. Saya kira saya baru mendapatkan ilmu tentang proses melahirkan ketika belajar Biologi di SMA. Pelajaran yang membuat kami murid-murid perempuan agak kikuk ketika harus melihat organ genital laki-laki dan wanita. Seharusnya dilakukan pemisahan kelas antara laki-laki dan perempuan ketika membahas hal ini.

Saya pernah secara sekilas melihat buku IPA anak-anak SD dan SMP di Jepang, dan dalam buku text book secara jelas digambarkan tentang proses reproduksi manusia.Saya terbengong-bengong karena materi ini ternyata sudah diajarkan kepada siswa-siswa SD.

Jika proses kelahiran hendak diajarkan kepada anak-anak SD saya cenderung untuk mengikuti metode yang dilakukan oleh Ibu Terada (nama lengkapnya saya lupa), seorang bidan yang mencoba memperkenalkan kepada anak-anak dan orang tua tentang pentingnya jiwa manusia (dalam bahasa Jepang disebut inochiー 命).

Ibu Terada bekerja sebagai bidan yang sering dipanggil oleh ibu-ibu yang enggan melahirkan di rumah sakit atau bapak-bapak yang ingin melihat proses kelahiran bayinya. Selama bertahun-tahun dia menggeluti pekerjaannya yang membawanya pada pemaknaan mendalam tentang kehidupan seorang bayi. Ibu Terada sudah kenyang menghadapi proses kelahiran yang berhasil dan menyaksikan air mata ibu-ibu yang menciumi anaknya yang masih berlumuran darah ketika dilahirkan. Beliau juga sudah kenyang menyaksikan bayi-bayi yang tidak berhasil menghirup udara dunia.

Suatu kali Ibu Terada membaca sebuah berita di koran tentang pembunuhan yang dilakukan oleh seorang anak SD terhadap temannya. Berita itu membuatnya tersadar untuk melakukan sesuatu bagi anak-anak Jepang. Maka mulailah dia berfikir untuk mengajarkan kepada anak-anak tentang betapa pentingnya makhluk hidup, betapa berharganya jiwa manusia, melalui seminar tentang proses kelahiran.

Ibu Terada menghadirkan anak-anak dan ibunya di dalam seminar yang dia adakan. Dalam salah satu episode yang saya saksikan di sebuah channel TV dua hari lalu, beliau membuat sebuah drama pendek tentang ibu hamil (pura-pura hamil) yang kesakitan sebab sudah tiba masa melahirkannya. Anak-anak tampak bingung dan cemas. Ibu Terada memanggil anak-anak itu untuk mendekat sambil meminta ibu yang kesakitan untuk tidur menelungkup, lalu sambil meminta seorang anak yang merupakan anak ibu hamil untuk memegang tangan ibunya, dan dengan perlahan nongollah kepala bayi (boneka) dari bagian belakang si ibu hamil. Akhirnya lahir…anak-anak bertepuk tangan senang dan lega.

Dalam sesi berikutnya, Ibu Terada meminta para ibu untuk duduk berhadapan dengan anaknya kemudian meminta mereka untuk memeluk anaknya. Lalu, meminta anak-anak untuk menghadap ke belakang dan ibu-ibu memijit-mijit punggung anaknya. Ibu Terada kemudian menggiring ibu2 untuk memikirkan bahwa bayi lembut yang keluar dari badannya kini sudah bertambah besar. Punggunya sudah semakin keras dan lebar, wajahnya sudah semakin cantik dan tampan, dan tubuhnya sudah semakin besar. Barangkali sebagian ibu sudah lupa tentang anak-anaknya yang tumbuh dewasa. Barangkali sebagian ibu sudah lupa bahwa mereka sangat suka cita saat menyambut kelahiran anaknya, tapi kemudian melupakannya setelah mereka beranjak dewasa. Dengan penuh sayang dan tetesan air mata ibu-ibu memeluk anaknya sambil berucap : “umarete kurete, arigatoo” (terima kasih sudah lahir ke dunia, Nak). Dan anak-anak menangis terisak sambil berkata : “Unda shite kurete, arigatoo” (terima kasih sudah melahirkan saya, Bu).

Ibu Terada sudah mengajarkan kepada anak-anak tentang pentingnya “seorang jiwa” melalui proses kelahiran. Dia tidak menjelaskan genital pria wanita, tetapi misinya adalah agar anak menghargai jiwa orang lain dan menghargai diri sendiri. Beliau telah menanamkan kepada anak-anak tentang sebuah nilai yang lebih berharga daripada proses reproduksi yang harus dihapalkan anak-anak untuk menjawab soal ujian.

  1. menarik sekali bu….pendidik-pendidik seperti ibu Terada lah yang dibutuhkan saat ini. Tak peduli profesi apa pun, jiwa pendidik tetap melekat padanya. Cerita ini sangat menginspirasi. Moga ini dibaca oleh semua pendidik, terutama di Indonesia.Karena, maaf, saya mendapat cerita dari teman saya, ketika beliau kuliah, pada saat membahas tentang asal mula kejadian manusia, sang dosen malah memperlihatkan video yang yang tak layak untuk ditonton. Sangat mengecewakan dan tidak intelek.

  2. perbedaan daya inspirasi & persepsi berasal dari…pendekatan & pembelajaran+terjemahkan & pemujaan berdasar logika+fakta semata [tersurat]/western idiom style berbanding {VS} pendekatan & pembelajaran+terjemahkan & pemujian berdasar akal+makna serasa [tersirat]/east inspirate mind.
    ya menjadi mengecewakan & tidak intelek, karna inpirasi sang dosen & persepsi mahasiswa penerima berada di pertemuan/lokasi berbeda pemahaman nilai begitu saja khoq repot.
    jadi tak begitu keliru, kalau “dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung”! begitu bukan non deskinanti & trima kasih atas nilai- nilai ketimuran itu ning murni …
    gak semua berasal dr barat itu cocog dan hrs ditelan mentah-mentah
    gak semua tumbuh dri timur ini salah dan musti dibuang jauh-jauh
    gak ada salah & kelirunya ini dipilih & dipilah mana yang baik & dipakai dan dikenakan sedang mana yang buruk dilepas dan sisihkan
    bukan begitu? karena Ana dan Anda kan telah berilmu …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: