murniramli

Youkoso Senpai : Tidak ada karya yang gagal

In Belajar Kepada Alam, Pendidikan Dasar, Pendidikan Jepang, SD di Jepang, Serba-Serbi Jepang on Desember 27, 2009 at 8:34 am

Kalau pada tulisan sebelumnya saya memaparkan tentang upaya mengkritisi bangunan yang tak bermanfaat di Jepang, maka kali ini sebaliknya saya ditunjukkan sudut pandang yang lain terhadap bangunan-bangunan artistik yang juga banyak dijumpai di setiap kota di Jepang.

Sudah lama sekali saya tak melihat acara Youkoso Senpai (Selamat datang Kakak Kelas) yang disiarkan NHK setiap hari Minggu pagi. Hari ini, sambil bersiap-siap untuk berangkat bekerja, saya menyempatkan menontonnya. Dan edisi kali ini menampilkan seorang designer grafis terkenal Jepang yang bernama Pak Takenobu Igarashi (namanya dalam tulisan kanji rumit sekali…五十嵐威暢). Beliau kelahiran kota Takigawa, Hokkaido, 65 tahun yang lalu. Karyanya bertebaran di berbagai museum di seluruh dunia dan tentu saja di negeri kelahirannya, Jepang.

Hari itu Pak Igarashi berkunjung ke SD-nya dulu, SD Takigawa Hokkaido dan bermaksud mengajarkan anak-anak untuk berkreasi merancang apa saja yang ingin mereka buat. Sebelum mulai melakukan prakarya, anak-anak diajak mengunjungi sebuah taman yang di dalamnya terdapat bangunan berketinggian 21 meter, dan bentuknya seperti spiral yang disusun dari potongan daun kedelai. Di bawahnya terdapat kursi-kursi bulat dan sebagian lagi berupa setengah bulatan. Anak-anak diminta meraba dan mengamati, kemudian mengapresiasi bangunan tsb. Pak Igarashi menceritakan sedikit tentang sejarah bangunan tsb, yang ternyata dibangun saat memasuki abad 21, sehingga ketinggiannya dibuat 21 meter.

Setelah itu anak-anak kembali ke sekolah dan langsung digiring ke aula sekolah. Di sana sudah ada beberapa helai triplek yang di atasnya terdapat  perlengkapan untuk membuat kreasi bangunan terdiri dari kardus, gunting, alat perekat, tali, pisau, dll. Anak-anak kemudian dibagi per kelompok dan masing-masing keompok diminta memanfaatkan kardus-kardus tersebut untuk membuat apa saja dalam waktu 30 menit.

Hasilnya kurang memuaskan, ada yang bermaksud membuat kotak tapi setengah jadi, ada yang membuat kepala manusia berikut mata, alis dan hidungnya, tapi belum sempurna, dan banyak sekali potongan kardus yang tak termanfaatkan. Pak Igarashi mendapatkan ide untuk merangkai hasil karya anak-anak ketika anak-anak tengah menikmati makan siang. Rangkaian yang dibuat Pak Igarashi memang sangat artistik, dengan menempel-nempelkan bagian-bagian tersebut jadilah sebuah bentuk yang menyerupai makhluk atau bangunan yang biasa dibawa oleh para lelaki Takigawa saat ada festival di musim gugur.

Anak-anak terpesona, tak mengira hasil kerja mereka yang tak berbentuk bisa menjadi sebuah karya yang memukau. Pak Igarashi kemudian meminta setiap kelompok merancang usungan yang akan dibawa dalam Festival musim gugur. Setelah rancangan selesai, mereka diberi waktu untuk mempresentasikan rencananya dan memaparkan maksud dan latar belakang memilih model tersebut. Anak-anak SD di Jepang seperti biasa sangat kreatif dan pandai dalam berpresentasi. Banyak ide yang muncul, ada yang mempunyai ide untuk membuat usungan yang menggambarkan anak-anak was-was menunggu kedatangan sinterklas (musim gugur berdekatan dengan natal), ada juga kelompok yang mengusung tema musim gugur dengan tambahan makanan khas pada musim itu. Anak-anak diberi waktu lebih lama untuk berkreasi (biasanya 2 atau 3 jam pelajaran) dan hasil akhirnya memang sangat unik.

Pak Igarashi terus memuji dan mengatakan tak pernah melihat kreativitas seperti itu. Anak-anak menjadi senang dan pada mereka bergantian berfoto di depan hasil karyanya.

Festival musim gugur di Takigawa hampir tidak pernah lagi diadakan. Karenanya Pak Igarashi mengusulkan anak-anak untuk mengusung hasil karyanya  berkeliling kota dan mengadakan Festival Musim Gugur sendiri. Anak-anak bersorak dan berteriak dengan semangat sambil mengusung hasil karya tersebut melintasi jalan-jalan kota Takigawa yang kecil. Orang-orang tua dan orang-orang muda, penduduk Takigawa keluar dari rumah menyaksikan keramaian tersebut, tersenyum dan tertawa senang. Mereka bertepuk tangan menyemangati anak-anak.

Saya terkesan dengan Pak Igarashi. Beliau menyenangi desain sebagai sebuah mainan. Ayahnya menyediakan untuknya taman kecil di depan rumahnya untuk berkreasi membuat apa saja. Sejak kecil beliau menikmati potong-memotong kayu, merangkai bebatuan, merangkai cabang-cabang pohon dan menciptakan karya-karya unik. Kata beliau, tidak ada yang gagal dalam membuat desain. Kalau misalnya apa yang dibuat tak sesuai rencana, maka hasil akhirnya akan menjadi karya yang baru dan unik. Makanya beliau menyadari betul bahwa apa yang dibuat anak-anak SD Takigawa sebenarnya tak sesuai dengan rencana awal mereka. Tetapi mereka telah membuat hasil karya yang dirangkai berdasarkan kebebasan berpikir dan suasana bermain. Itulah yang menurut beliau keunikan sebuah karya.

Dulu ketika masih banyak waktu untuk pergi memotret, saya termasuk maniak bangunan aneh. Banyak tugu-tugu aneh di tengah kota Nagoya yang mencerminkan kecerdasan desainernya. Bangunan-bangunan itu memang kadang-kadang tak bermanfaat jika dinilai dari segi fungsionalnya, tetapi ada sebuah manfaat yang terkadang dilupakan, yaitu kepuasan batiniah. Saya termasuk orang yang terhibur dengan menyaksikan karya-karya unik tersebut, dan barangkali banyak orang lainnya.

Anak-anak pun sama, dengan menyaksikan apa yang dibuat oleh generasi pendahulunya maka mereka belajar untuk menjadi lebih kreatif. Di satu sisi, seperti yang saya tuliskan sebelumnya, pemerintah menganggap hal-hal seperti ini hanya buang-buang uang saja.

  1. Jadi teringat pada sebuah buku yang saya baca, pada saat sesi menggambar dan mewarnai, ada seorang anak yang tak kunjung menggoreskan sedikit pun garis apatah lagi mewarnai gambarnya. Kertas itu masih tetap putih bersih seperti ketika pertama kali diberikan oleh sang guru. Setelah beberapa waktu berlalu, sang guru mendekati anak itu dan berkata dengan penuh semangat, “Wah ….. begitu indahnya salju-salju itu, begitu bersih dan dingin!”, ujar sang guru sambil menunjuk kertas kosong si anak. Si anak terkejut lalu tersenyum. Ya! Sebuah karyanya telah dihargai oleh sang guru. Kini, ia menjadi semangat menggambar dan mewarnai. Dan hingga akhirnya ia menjadi seorang pelukis terkenal. Betapa bijaknya sang guru, gelombang kata positifnya, telah mengantar si anak menjadi manusia berguna. So, pekikkan selalu kata-kata penuh inspirasi untuk dirimu dan gelorakan pada orang di sekitarmu.

  2. yang saya sayangkan adalah bertebarannya patung-patung tanpa busana, bahkan di halaman sekolah di jepang.

  3. “Kata beliau, tidak ada yang gagal dalam membuat desain. Kalau misalnya apa yang dibuat tak sesuai rencana, maka hasil akhirnya akan menjadi karya yang baru dan unik.Tetapi mereka telah membuat hasil karya yang dirangkai berdasarkan kebebasan berpikir dan suasana bermain. Itulah yang menurut beliau keunikan sebuah karya”

    Sesuatu hal yang murah meriah sebenarnya, berbekal hati & dugaan pikiran baik sangka, namun menjadi modal cukup sangat mahal dan langka untuk menumbuhkembangkan apalagi menyuburkan ide kreasi dan kreatifitas desain sesuatu gak berbentuk di negeri kita ini.
    knapa ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: