murniramli

Belajar yang menyenangkan

In Belajar Kepada Alam, Pendidikan Indonesia, Pendidikan Jepang, SD di Jepang, Taman Kanak-Kanak on Desember 31, 2009 at 2:22 pm

Menjelang tahun baru semua orang Jepang pasti sedang sibuk berangkat ke gunung untuk menyambut matahari terbit besok (hatsumode) :-)  Tak ada yang melembur di kampus malam-malam begini. Tadi sore salju turun sebentar, udara menjadi dingin sekali. Daripada bekerja di rumah, saya memilih mengedit disertasi saya di kampus.

Hari Selasa lalu, setelah berdiskusi dengan Sensei, banyak masukan yang saya pikir perlu dikembangkan dan ini menjadikan saya selama dua hari ini keasyikan menganalisa hasil penelitian. Sekalipun terasa sangat berat menuliskan argumentasi2 dalam bahasa Jepang, tetapi membuat pertanyaan terhadap sebuah fakta, atau menemukan fakta yang saling terkait, yang pada akhirnya membawa pada sebuah kepahaman, sungguh melegakan dan menyenangkan.

Kesenangan mengutak-atik data penelitian dan berandai-andai terhadap sebuah situasi, atau menduga-duga penyebab sebuah fenomena sejarah, adalah hal yang saya rasakan belakangan ini sejak sering berdiskusi dengan Nishino sensei. Beliau, dengan segudang pengalaman penelitian tentang Indonesia sering mengajukan pertanyaan yang tidak saya duga, dan kadang-kadang memaksa saya berfikir ulang, mengapa sebuah statement perlu saya masukkan dalam disertasi. Melalui pembelajaran seperti ini saya menjadi rajin memberi tanda tanya besar  terhadap fakta tulisan sejarah yang dibuat oleh para penulis dan peneliti sebelumnya.

Saya tidak termasuk orang yang produktif menulis hasil penelitian, dan juga bukan penulis disertasi yang cepat -karenanya saya belum lulus juga :-(  Tetapi saya merasakan menulis hasil penelitian  sebagai sebuah kerja yang menyenangkan, seperti menjawab sebuah puzzle.

Kesenangan yang saya rasakan dalam proses belajar ini, barangkali sama seperti yang dirasakan oleh anak kecil yang saya jumpai beberapa hari lalu di dalam stasiun bawah tanah Motoyama. Saya sedang berjalan santai menuju platform, sedangkan dia sedang melompat-lompat senang sambil memegang tangan neneknya. Umurnya kira-kira baru 6 tahun. Sambil menuruni tangga mulutnya terus berceloteh tentang jam berangkat kereta dan jam tibanya.

“Kalau kita naik kereta jam 13.31 kita akan sampai di Sakae jam 13.45, kan ? Dari sini ke Sakae kan sekitar 14 menit”. Tapi kalau kita naik kereta jam 13.37 kita akan sampai jam 13.51, ya kan ?” “Anata, erai ne” (kamu pinter banget !) neneknya yang sedari tadi hanya berhm..hm..hm saja,tertawa memuji cucunya. Si cucu tersenyum senang, dan kemudian kembali sibuk dengan hitung-menghitungnya.

Saya tersenyum-senyum di belakangnya. Saya termasuk paling lemah dalam hitung-menghitung, makanya saya tidak pernah menghitung penerimaan dan pengeluaran saya setiap bulan :-)   Kadang-kadang saya beralasan kepada teman, bahwa menghitung-hitung uang akan membuat kita selalu merasa kekurangan🙂

Banyak cara menjadikan belajar menyenangkan. Termasuk si anak tadi. Dia menemukan keasyikan belajar angka melalui table time kereta. Keponakan saya menyenangi matematika melalui hitung menghitung belanjaan, karena sering diajak ibunya ke pasar.Di TK Jepang ada pelajaran menyambungkan potongan suku kata, misalnya anak A menyebutkan “yuugata”, anak B harus mencari kata dengan suku kata terdepan ta, misalnya “tabemono”. Saya paling suka menemani anak-anak kecil bermain kata-kata seperti ini, sebab satu, secara otomatis saya belajar kosa kata bahasa Jepang dan kedua saya gemar mengibuli anak-anak dengan kata-kata yang aneh yang tidak ada dalam kamus🙂

Saya tidak tahu apakah anak-anak yang banyak bermain dengan DS atau game elektronik mendapatkan kemajuan berarti dalam belajarnya. Barangkali respon motoriknya sangat berkembang, tetapi saya selalu membayangkan dan bertanya-tanya apakah mata mereka, pinggang, punggung, tangan tidak sakit selama berjam-jam melakukan itu ? Sebab saya sendiri merasakan penat dan langsung tertidur sehabis mengetik berjam-jam.

Barangkali karena saya termasuk produk lama🙂 saya lebih menyenangi belajar sambil kaki bergerak, dan di alam terbuka. Menghitung buah mangga di pohon, menghitung berapa langkah kaki berjalan ke warung, atau menghitung jumlah sandal di masjid….. sepertinya lebih menyenangkan😀

Apapun itu, mari menemukan trik belajar yang mengasyikkan….

  1. proses media belajar yang sangat aplikatif.
    diajarkan metoda & rumusnya [di dalam kelas] kemudian dipraktekkan dalam fungsi [media kehidupan] sehari-hari.
    komunikasi transfer pola pikir+angan-angan+dibayangkan = ilustrasi konstruktif, ini pola belajar benar+praktis+nyata khasiatnya.

    Lain lagi di Indonesia, daLam belajar matematika, guru menyampaikan berderet-2 logika + asumsi = definisi jadi siji [kesatuan], enggan bermampuan menjelaskan dari mana & apa gunanya hitungan tersebut, sing pentink kelihatan canggih di depan murid-2
    nya termangu-mangu dalam kebengongan dan betapa terlihat begitu pintar sang guru di depan muridnya..

    lantas buat apa sih belajar dan apa manfaat per kesatuan pelajaran
    diberikan+ilmu ditularkan oleh si guru bagi kebaikan si murid & seberapa jauh berkhasiat bagi kecerdasan modal sosial ekonomi kehidupannya kelak di kemudian hari?
    masak ga’ ada sdikit pemikiran terlintas ke arah sana?
    masak semua berfikir ala robot kurikulum pas target, entah membawa manfoat apa tidak sink penting bayaran+katut akreditasi?
    dimana nurani kecerdasan&kemanfaatan ilmu telah diberikan semua,
    tapi tidak dikupas tuntas,malah diberi & ajarkan terbungkus rapi dalam kemasan utuh dan si pembelajar diminta mengurai + mencerna dalam teka-teki berfikir logika sendiri.

    kasihan murid-murid indonesia, kebanyakan mabok menelan kemasan bukan isi pelajaran,terkecuali ortu mereka berduit mampu sajikan guru-2 berkualitas &bersedia mengupas tuntas kemasan & menyajikan isi pelajaran dengan shabar & telaten.

    semoga, masih ada guru yang tetap memegang teguh amanah
    “adalah upaya menjadikan yang dididik bisa berprilaku sesuai dengan harapan terbaik dan cita-cita termulia. Karenanya, pendidikan selalu punya harapan dan keyakinan, bahwa setelah melalui proses pendidikan seseorang akan menjadi lebih baik dari sebelumnya”. ngutip dr. http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/2009/11/26/teknologi-pasar-pendidikan/#comment-278

  2. saya setuju dengan pak Hali….saya juga bingung, mengapa di Indonesia (khususnya di daerah saya), sesuatu yang bertele-tele, rumit, bahasa yang meng”hitech”, dan sepaket kata-kata yang begitu sulit dipahami, itulah yang dianggap keren ! wow! hebat !……..padahal….tak satu pun yang dimengerti oleh anak didik. Tak bersisa sedikit pun dalam pemikiran anak didik. Pada kenyataannya, anak didik bisa menjawab soal ujian karena mereka memahami sendiri melalui buku, bukan dari guru. Tak bisakah kata-kata itu di modif menjadi lebih “nyambung” ke anak-anak ? bahkan ada seorang guru yang menjelaskan tentang terjadinya danau melalui percobaan yang begitu sederhana dan ringkas. Ada juga guru yang menjelaskan tentang magnet, dengan alat yang begitu sederhana dan murah meriah. Pasti semua guru bisa melakukan itu.

  3. saya pengen pergi ke jepang,

  4. teknologi bukan segalanya, hanya “alat” yang membantu kehidupan manusia

  5. Insya Allah pendidikan di Indonesia bisa lebih baik >.<

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: