murniramli

Berterima kasih kepada panci

In Islamologi, Renungan, Serba-Serbi Jepang on Januari 15, 2010 at 2:36 pm

Saya tidak salah menuliskan judul di atas, dan kata “panci”, adalah “panci”, alat untuk memasak, bukan “banci”šŸ˜€

Adalah seorang nenek yang mengalami gempa besar Kobe 1995, dia tinggal dengan suaminya yang divonis dokter tinggal 2 bulan lagi, karena penyakit kanker yang menggerogotinya. Pada masa mudanya nenek kakek mengelola sebuah restoran. Karena kakek terkena kanker, maka dia tak dapat lagi membantu pekerjaan di restoran, dan tinggallah nenek seorang diri sehari-harinya menyiapkan sebanyak 100 kotak makan siang, kemudian mengantarkannya kepada pelanggan. Nenek tak pernah mengeluh, sekalipun dalam saat bersamaan ketika sedang sibuk-sibuknya di restoran, dia harus menelepon ke rumah, menanyakan kalau-kalau suaminya memerlukan bantuan.

Setiap kali menuntaskan jualan hari itu, semua peralatan masak di cuci dan ditaruh pada tempatnya, lantai sudah dipel demikian pula meja-meja telah dilap bersih, maka biasanya nenek akan menghadap panci-pancinya, sambil mengatakan, “kyou yoku gambarimashita, arigatou gozaimashita. Ashita mo yoroshiku onegaishimasu” (hari ini kamu sudah bekerja keras, terima kasih banyak. Besok pun mohon bantuannya), yang diucapkannya sambil tak lupa membungkuk.

Sepintas memang aneh.Karena percaya bahwa pada semua barang dan makhluk ada “kamisama” (tuhan), maka sebenarnya nenek berterima kasih kepada “Sesuatu” yang menyebabkan semua barang itu berfungsi dengan baik. Bagi seorang pemilik restoran, apatah yang lebih penting daripada sebuah panci ?

Mengungkapkan terima kasih kepada benda-benda penting tersebut secara otomatis menimbulkan rasa sayang padanya, dan pada akhirnya muncul keinginan menjaganya dengan baik.

Bagi saya pribadi, barang yang paling berharga saat ini adalah laptop saya. Keyboardnya sudah agak lecek, karena setiap hari dipencet. Bagian kirinya mengelupas mungkin karena pengaruh tangan saya yang selalu berkeringat. Laptop itu bahkan kadang tertiduri, sebab kadang-kadang saya tidak bisa menahan diri untuk menulis sebelum tidur. Kadang pula dia on tiga malam berturut-turut karena harus menemani saya lembur.

Tapi saya tak sedalam nenek tadi menghargai pancinya.

Memang beda.Saya memilih berdoa kepada Allah ketika pagi ini saya kebingungan harus memperbaiki beberapa dokumen terkait disertasi yang harus disubmit, sementara beberapa menit lagi saya harus lari mengejar kereta untuk pergi bekerja. Saya tidak mengelus-elus laptop saya atau memuji-mujinya, sebab hari ini dia memangĀ  bekerja normal sajašŸ™‚

Dengan membungkuk pada panci sambil berucap, “ashita mo yoroshiku onegaishimasu”,Ā  telah membawa nenek pada sebuah kesadaran untuk bekerja keras besok, besok, dan besok…..

Saya, sekalipun setiap hari meminta kepada Allah, berterima kasih kepada Allah, tetapi setelah mensubmit disertasi, kembali saya dibuai untuk berleha….

Saya belum benar-benar berterima kasih kepada Allah rupanya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: