murniramli

Pendidikan proses atau pendidikan hasil ?

In Manajemen Sekolah, Pendidikan Dasar, Pendidikan Indonesia, Penelitian Pendidikan, SD di Jepang, Serba-Serbi Jepang, Taman Kanak-Kanak on Januari 17, 2010 at 10:21 am

Pernah saya tanyakan kepada ponakan yang masih SD, mau jadi apa kelak ? Jawabannya : dokter. Kenapa ? Karena uangnya banyak.

Saya dan ponakan saya sama saja. Ketika seusianya, cita-cita saya hanya satu : jadi dokter. Alasannya pun sama : kaya. Entah pendidikan atau entah karena tidak ada yang lebih keren daripada dokter🙂 maka kami memilih cita-cita itu. Tapi, saya pikir kita telah dibawa pada pemikiran yang salah tentang cita-cita yang top. Barangkali tidak ada anak yang ingin menjadi guru, polisi di masa kecil karena kedua profesi ini tak bisa mengeruk uang.

Uang menjadi tolok ukur kesuksesan. Setiap kali diajak ke dokter sewaktu kecil dulu, saya selalu menganggap pekerjaan dokter nyaman sekali : tinggal coret-coret kertas resep puluhan ribu masuk kantong. Sementara bapak saya sering pulang pagi dan lembur dari jam 2 pagi, tapi bapak tidak bisa beli mobil🙂

Kalau diteruskan pertanyaannya : kalau sudah banyak uang, apakah masih perlu bekerja keras ? Saya kira anak-anak akan menjawab : tidak. sehingga Seperti bos perusahaan, yang hanya teken-teken saja🙂

Saya tak tahu apakah semua anak berpandangan sama, tapi ketika SD dulu, saya punya imej bahwa menjadi bos sangat enak. Sebab tidak perlu mengerjakan pekerjaan remeh, seperti melap kaca, membersihkan toilet, mengepel lantai. Karena telunjuk bos sangat berkuasa. Pekerjaan utama dan yang paling disukainya adalah menyuruh🙂

Mungkin saya salah mencerna penjelasan guru, sehingga salah kaprah mengartikan bos, dokter,artis = uang banyak. Yang kedua, saya salah menyimpulkan bahwa uang banyak = hidup nyaman.

Satu yang terlupakan adalah saya lupa belajar atau diajari tentang arti sebuah “proses”.

Sebagaimana sistem ujian nasional, anak-anak beranggapan bahwa yang baik adalah yang nilainya bagus. Kalau sudah belajar dengan giat tapi ternyata hasilnya jelek, mereka menyimpulkan itu tidak bagus. Sebab mereka pun dinilai oleh sistem berdasarkan hasil akhir semata.

Pendidikan kita tidak mengarah pada pendidikan yang berorientasi proses, tapi cenderung melihat pada hasil. Anak-anak tidak diajari arti bekerja keras, tapi hanya ditunjukkan dogma bahwa yang penting hasil akhirnya bagus.

Lalu bagaimana mengajarkan pendidikan proses ?

Saya kira kita harus mengubah proses belajar dari sekedar menjejalkan fakta sebagai hafalan menjadi pemahaman yang muncul karena pengalaman. Dewey dalam bukunya School and Society, Child and Curriculum (pp.20-21) memberikan contoh yang sangat menarik tentang bagaimana anak-anak memahami mengapa kain wol lebih banyak dipakai daripada kain katun.Anak-anak mempraktekkan bagaimana melepaskan kapas dari bijinya. Sejumlah anak dalam satu kelompok mengelupas serat kapas dalam 30 menit dan hanya menghasilkan kurang dari 1 ons. Dengan fakta tersebut mereka memahami bahwa membuat kain katun dari sekumpulan serat kapas sangat sulit. Lalu, anak-anak juga mencukur bulu domba dan membandingkan antara serat kapas dan serat wol. Anak-anak juga menemukan fakta bahwa serat kapas halus dan tidak saling terkait, sedangkan serat wol agak kasar dan menghasilkan serat yang lebih tebal. Anak-anak membandingkan dan menemukan fakta tersebut di bawah arahan gurunya. Lalu melalui praktek tersebut, anak-anak kemudian diperkenalkan dengan sejarah tekstil dan kemajuan yang dicapai umat manusia melalui tekstil. Anak-anak dengan mudah dapat memahami mengapa nenek moyang mereka dahulu lebih banyak memproduksi kain wol daripada kain katun.

Oleh karena itu, sebelum memilih untuk menjadi dokter atau bos, sekali-sekali anak-anak perlu diajak untuk mengenal atau ikut melihat pekerjaan dokter, diajak berkunjung ke rumah sakit, atau perlu juga dijelaskan proses hingga seseorang bisa menjadi dokter. Sama halnya dengan profesi seorang bos. Memberikan sarana latihan untuk anak tentang rumitnya pekerjaan seorang bos dapat diajarkan misalnya dengan meminta mereka untuk latihan mengelola usaha. Ini pernah saya tuliskan di sini :

https://murniramli.wordpress.com/2007/08/07/siapa-yang-ingin-jadi-bos-alternatif-liburan-musim-panas-untuk-sd/

  1. Baru saja saya berdialog dengan salah seorang murid saya, Fafa, seusai pelajaran olah raga,
    “Di mana kamu tinggal?”
    “Di Gunung Dubbs, Pak.” (Gunung Dubbs adalah salah satu kawasan perumahan karyawan PT Pertamina yang tinggi dan dekat dengan kilang minyak)
    “Kamu lihat kebakaran pertamina dua malam yang lalu?”
    “Tidak, Pak. Saya sudah tidur.”
    “Yang kerja di Pertamina ayahmu atau ibumu?”
    “Ayah, Pak.”
    “Di bagian apa ayahmu kerja?”
    “Gak tahu, Pak.”
    “Jadi, kamu tidak tahu apa yang dikerjakan ayahmu?”
    “Tidak”
    “Wah, sayang sekali. Coba deh kamu ngobrol dengan ayahmu tentang pekerjaannya. Mungkin akan berguna untuk memikirkan cita-citamu.”

    Ini bukan pertama kalinya saya menemukan anak yang tidak tahu sama sekali apa pekerjaan orang tuanya, selain tempat kerjanya di PT anu atau di kantor anu.

    Maaf agak panjang.

  2. yap betul skali, hampir semua dari kita ini amat menyukai langsung pada kesimpulan [hasil], ketimbang/ogah menjalani tjara [proses], tanpa menyadari itu perilaku+tjara berfikir, yang kini dikatakan sebagai metode instant/jalan pintas/potong kompas, karna akibat keburukan ditimbulkannya suka dikecam/benci.
    karna ringan+nyamannya pula, tanpa terasa dan disadari kita lebih sukai untuk melakukannya, ketimbang beratnya ‘upaya/lakon’ harus dijalani/tempuh buat mencapai hasil di inginkan.

    jadi apa dan dimana letak kekeliruannya kalau demikian adanya?

    bahasa awamnya demikian :
    suka silau sama kemilau kulit permukaan/tampak luar/hasil jadinya
    ogah mengetahui & enggan memikirkan usaha mencapai dibalik tampil an luar tersebut.

    bahasa ilmiahnya begini :
    orientasi pola mendidik proses atau hasil, apa rasa ‘enggan’ kemauan menuntun ke sana [pendidikan hasil] dan ‘kesadaran’ nalar
    menghendaki ke sini [pendidikan proses].

    apa dikata toean nazarudin benar,
    sering kadang terpaksa ‘sembunyikan’ bagian pekerjaan, agar sang anak gak malu & mau membanggakan pekerjaan bagi sebagian orang tua.
    ini sudah merambah/anjrah ke masyarakat kebanyakan, jadi semacam patologi/penyakit sosial.

    jadi apa dan dimana letak kekeliruannya kalau demikian adanya?
    kultur budaya dianut sebagian besar masyarakat atau sesuatu
    kehendak dari sebagian kecil masyarakat ‘berusaha’ meluruskan & mengajarkan proses & hasil lewat jalur pendidikan formal sekolah
    baru sebatas pertaruhan+pertarungan antara keinginan dan harapan versus keadaan & kenyataan?

    semiga kebijakan yang terjadi bukan memilih salah satu dari kedua pilihan [diadu diametral) melainkan meletakkan urutan keduanya dengan benar, pendidikan proses yang menghasilkan, ber Jayalah pendidikan Indonesia, semoga.

  3. Ass, saya dari dulu ingin sekali menerapkan orientasi kegiatan belajar mengajar lebih ke arah proses, tapi sampai sekarang masih bingung darimana harus memulai melangkah, bisakah ada yg membantu ? sekarang saya sedang memimpin sebuah SD ISLAM swasta, sebab saya yakin hanya dg methoda mengajar tg berorientasi kpd proseslah , yg akan mengantarkan siswa kepada mutu lulusan yg lebih baik, dimasa mendatang , amiin.

  4. @Bu Yana :
    Prosesnya saya pikir sangat panjang. Sebab ini menyangkut perubahan cara berfikir. Saya pikir penentu keberhasilan proses belajar adalah guru. Jadi, langkah awal yg harus ditempuh adalah melatih para guru terlebih dahulu untuk mengenali pendidikan proses.Tetapi sebelum itu, Ibu mungkin ada baiknya memiliki konsep pendidikan proses yang jelas. Berdasarkan konsep yang Ibu miliki,cobalah diperiksa apakah setiap guru mengajar sesuai dg konsep yang Ibu pahami, dengan melakukan pengamatan kelas. Minta ijin kepada guru untuk hadir sebagai pendengar di kelas, catat dan rekam bagaimana guru menyampaikan materi dan bagaimana murid meresponnya.Setelah itu rutinkanlah pertemuan dg guru2 untuk membahas pembaharuan metode mengajar.
    Saran kedua, di Jepang ada mata pelajaran Integrated Course, yaitu anak-anak diajak untuk mengenal produk lokal daerahnya. Ini berupa pelajaran luar kelas.Karena sekolah Ibu sekolah swasta, saya pikir ada kebebasan bergerak sedikit untuk meramu kurikulum. Cobalah untuk mengamati lingkungan sekolah, potensi daerah yg menurut Ibu perlu dipahami oleh anak. Misalnya begini, anak-anak sering membeli makanan khas/jajanan pasar atau bakso dorong. Ajak anak2 ke tempat produksinya,tentunya sebelumnya perlu membina hubungan baik dengan pihak perusahaan/home industry. Di sana, bimbing anak-anak untuk tidak sekedar melihat cara pembuatan, tapi biasakan mereka menggunakan logika matematika misalnya untuk menghitung berapa banyak tepung yg dipakai, berapa kilo gula, dan akan menghasilkan berapa kilo kue, dan dijual dg harga berapa. Jika diberi kesempatan, anak-anak bisa mencoba membuat kue kesenangannya. Biasakan pula anak-anak menggunakan bahasa Indonesia yang baik ketika bertanya, ajarkan sopan santun dan tata tertib berkunjung.
    Bentuknya seperti pelajaran tematik yang pernah diperkenalkan di Indonesia,tapi penerapannya bukan di dalam kelas.
    Jenjang SD menurut saya jenjang yang paling menarik dan menantang untuk mengembangkan pendidikan proses. Anak-anak seusia SD adalah anak-2 yg gemar mencoba, dan lebih mudah diatur.
    Beberapa tulisan terkait pendidikan proses dan cara belajar seperti ini yg saya amati di Jepang, pernah saya tuliskan di blog ini, silahkan dicari. Kalau ada pertanyaan lagi, silahkan kirim email, mungkin saya bisa bantu. Terima kasih. Wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: