murniramli

Merencanakan masa depan : mahasiswa pun tak paham

In Pendidikan Tinggi, Serba-Serbi Jepang on Januari 18, 2010 at 12:05 pm

Hari ini adalah kuliah terakhir di semester musim gugur, dan materi percakapan dan bacaan yang kami bahas di kelas Bahasa Indonesia tingkat II adalah tentang cita-cita atau rencana masa depan. Seperti biasa sebelum memulai pelajaran saya selalu menuliskan tema dan tujuan pembelajaran hari ini, kemudian berlanjut pada pengenalan beberapa kosakata terkait, dan beberapa ungkapan yang akan dijumpai dalam percakapan dan bacaan. Selanjutnya saya mulai menanyai mahasiswa saya satu per satu apa rencana mereka setelah lulus.

Jawabannya kebanyakan ingin bekerja di perusahaan. Saya tidak puas dengan jawaban pendek, jadi biasanya akan saya kejar dengan pertanyaan susulan, perusahaan apa, dan di bagian apa atau bekerja sebagai apa. Sama halnya seorang mahasiswa yang ingin menjadi guru, saya tanya lagi guru apa dan di mana.

Hampir semua mahasiswa menjawab : perusahaan apa saja, ketika saya tanya jenis perusahaan. Dan mahasiswa yang ingin menjadi guru, mengatakan akan mengajar di SMA, tapi tidak menjelaskan detil mata pelajaran apa yang akan diasuhnya.

Saya tertegun dan menyadari bahwa mahasiswa saya agak terlambat dimotivasi tentang masa depan dan bagaimana meraihnya.

Saya kemudian menjelaskan apa itu cita-cita dan bagaimana merencanakan agar semuanya tercapai. Saya ambilkan contoh menjadi guru. Dengan membuat sistem seperti pohon bercabang, saya gambarkan bahwa guru ada di pucuk pohon. Sebelum menjadi guru, proses yang harus ditempuh adalah ikut ujian guru dan mendapatkan sertifikat (kyouin menkyo).  Untuk ikut ujian guru dan proses sertifikasi, kandidat harus mengumpulkan kredit mata kuliah pendidikan dalam jumlah tertentu, yang kalau tidak ada di universitasnya, dia harus mengambilnya di universitas yang lain. Jadi kalau sekarang mahasiswa saya di Program Studi Bahasa dan Sastra, maka dia perlu mengambil mata pelajaran pedagogy di fakultas pendidikan. Sembari dia mengambil kuliah pendidikan, dia juga harus mulai memupuk minat pada sekolah. Kunjungan ke sekolah, melihat cara guru mengajar memang agak sulit dilakukan di Jepang, tapi banyak video dan siaran di TV yang mengangkat tema pembelajaran di kelas. Lalu saya minta mahasiswa saya membuat poin lain yang perlu dipersiapkan untuk menjadi guru, melengkapi cabang-cabang pohon yang saya buat.

Mahasiswa saya termangu, dan hanya ber-ooh-ooh.

Jika ingin bekerja di perusahaan, maka sejak dini sudah harus memastikan perusahaan apa. Setelah jelas jenis perusahaannya, mulailah mempelajari bagian-bagian atau jenis pekerjaan yang ada di dalamnya dan skill apa yang dibutuhkan untuk menguasai pekerjaan. Seorang mahasiswa saya ingin bekerja di maskapai penerbangan, tapi dia juga tak mampu menjelaskan pekerjaan apa yang akan dilakukannya. Maka saya katakan padanya untuk mencari informasi lebih dalam tentang pekerjaan-pekerjaan di sebuah maskapai.

Dengan mengetahui gambaran pekerjaan yang diinginkan, seseorang akan paham pula dengan skill yang dibutuhkan. Setelah paham dengan skill yang diperlukan, bukankah dia akan mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh ? Dia tidak hanya bersungguh-sungguh kuliah, tapi juga akan terpacu mencari informasi tentang pekerjaan yang akan digelutinya, dan dengan kesadaran penuh mempelajari ilmu-ilmu baru, atau keterampilan yang terkait dengan pekerjaannya kelak.

Mahasiswa saya manggut-manggut, dan saya tersenyum sambil mengatakan, “masih ada waktu. Kalian masih tingkat 2. Mulai dari sekarang bergegaslah menentukan mau jadi apa kalian nanti.

Jam pelajaran berakhir, dan saya selalu merasa kekurangan waktu ketika mengajar bahasa Indonesia, sebab saya terlalu sering bercerita di kelas😦

  1. kadang kehidupan akademis (sekolah, kuliah,kursus, etc) banyak terfokus pada belajar, ujian, dan lulus. ga memikirkan masa depan akan seperti apa. hanya menjalaninya saja.

    untunglah baru tingkat 2,,,masih ada waktu *optimis*

  2. salam kenal mbak. saya senang sekali mengunjungi blog ini (saya link ya blognya). postingan ini menyadarkan saya bahwa memang harus memiliki planning dalam menghadapi masa depan, dan apapun itu lebih baik ada planningnya.

    arigatou gozaimasu~

  3. Rahmad Ardiansyah

    Saya salut dengan argumen buk Murni.

  4. senang skali baca2 artikel ibu eh mb murni, inspiratif!😀
    tp da sbuah opini subjectif, kalo menurut sy, jawaban2 spt:
    `sy ingin menjadi dokter, pegawai, polisi, dll…`
    adl jawaban untuk pertanyaan :
    `…setelah besar ingin BEKERJA menjadi apa?`
    bukan pertanyaan `…cita2ny apa?`
    karena bekerja adl sarana mencapai cita2😀
    shibaraku desune,… C-13,CKC,

    • @Budi : eh, ini Budi yg ikut pelatihan itu ya ?
      Wah, maaf telat mereply. Bgmna di t4 magangnya ?
      Bud, anak kecil mana tau bedanya cita-cita dan bekerja hhehehhe….:-)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: