murniramli

Bagaimana mengasah jiwa meneliti

In Pendidikan Indonesia, Pendidikan Jepang, Pendidikan Tinggi, Penelitian Pendidikan on Januari 23, 2010 at 11:19 am

Kemarin sore, saya dipanggil dua sensei terkait dengan masalah disertasi dan rencana kelulusan saya. Kedua sensei sudah sangat baik kepada saya selama ini, selalu dengan sabar memberikan bimbingan dan mengharapkan yang terbaik untuk masa depan saya. Sekitar setengah sampai satu jam kami bertiga berdiskusi dan akhirnya saya bisa memahami keinginan mereka berdua, yang sebenarnya tak jauh beda dengan keinginan saya.

Setelah seorang sensei pamit pulang pembicaraan selanjutnya berlangsung antara saya dengan ibu dosen yang juga banyak membagi ilmunya kepada saya. Kami memulai diskusi dengan masalah penelitian mahasiswa S2 dan S3 yang menurut sensei kurang memuaskan. Sensei menginginkan peningkatan kualitas, tapi tampaknya beliau juga tidak tahu apa yang harus ditempuh.

Sebagaimana universitas yang lain di Jepang, sejak pemberlakuan houjinka (Badan Hukum Universitas), banyak universitas yang mengurangi kadar persyaratan masuk ujian masuk mahasiswa S2. Sensei katakan ini sebagai sekedar mencari uang, tapi akibatnya menurunkan kualitas penelitian.

Beberapa hari yang lalu beberapa mahasiswa S2 menuntaskan thesis mereka dan beberapa di antaranya yang merupakan junior saya, sempat saya bantu mengoreksi dan memperbaiki thesis mereka. Saya agak sedih dengan kondisi thesis yang mereka tulis, baik dari segi isi maupun cara penulisan.Bukan masalah bahasa Jepang yang mereka tidak kuasai (saya pun tak menguasai bahasa Jepang dengan baik) tapi cara mereka menyampaikan pikiran ilmiah. Seorang mahasiswa hanya menerjemahkan laporan dari negaranya, menyajikan tabel-tabel tanpa ada uraian dan kajian kritis. Saya katakan kepadanya, bahwa tabel perlu disajikan untuk menunjang logika berfikir yang kita pakai. Tapi dia tampaknya tak mengerti. Karena waktunya sudah sangat mepet, tidak mungkin merombak thesis yang sudah ditulisnya. Hal lain adalah tata cara penulisan thesis, penjajian tabel, gambar masih kurang memadai atau boleh dikatakan buruk. Saya tunjukkan kepadanya fasilitas yang ada dalam MS Office 2007, tetapi tetap saja sulit untuk mengubah semua tabel dan memperbaikinya.

Saya ceritakan kepada sensei bahwa mata kuliah penulisan ilmiah mestinya mereka dapatkan di S1. Dan setiap mahasiswa yang masuk S2 seharusnya sudah harus memiliki perangkat atau kemampuan meneliti.

Saya pribadi merasakan kesulitan yang sangat besar saat mulai meneliti bidang sosial. Ketika kuliah S1 dan S2 di IPB dulu, saya merasakan beratnya melakukan eksperimen dan tidak merasakan kesulitan berarti dalam menulis, sebab skripsi dan thesis bidang sains selalu ada polanya : Latar belakang, Tinjauan Pustaka,Tujuan, Hipotesis, Tempat, Metode, Hasil, Pembahasan, Kesimpulan dan Saran. Sementara menulis thesis di bidang sosial di Jepang, tidak ada yang mengikuti urutan kaku seperti itu. Tetapi berkali-kali menulis, dan membaca jurnal sosial dalam bahasa Jepang, saya bisa menemukan benang merah teknik penulisan mereka.

Dulu, saya sering menulis paper yang terlalu banyak pandangan saya pribadi. Belakangan paper-paper saya mulai agak cerdas, karena saya mulai paham bahwa pandangan dan pemikiran pribadi itu harus didasarkan pada fakta nyata di lapang, baik dalam bentuk data angka, gambar, cerita, dll.Saya katakan kepada Sensei, bahwa dulu saya senang sekali mengkritik kebijakan pemerintah dalam paper saya, sebagai sebuah yang tidak bagus, tanpa ulasan dan bukti nyata yang terkait. Tapi saya memahami sekarang, bahwa kalau saya berani mengatakan APK besar, itu berarti harus ada pembandingnya dalam bentuk angka sehingga nyata bisa dikatakan besar. Dengan kata lain, di dalam bidang sains biasanya dipergunakan ANOVA untuk melihat signifikansi.

Sensei mengeluhkan bahwa banyak mahasiswa M yang kurang membaca. Dalam kelas seminar yang diadakannya, mahasiswa kurang kritis menanggapi artikel yang dibahas. Saya terus terang mengaku kepada Sensei, bahwa saya sibuk bekerja sambilan sehingga punya sedikit waktu untuk menekuni bacaan. Tapi hal-hal yang menarik minat saya, akan saya baca tuntas di kereta dalam perjalanan bekerja.

Sensei juga mengatakan bahwa mahasiswa malas membaca artikel selain bahasa ibunya. Saya akui ini karena banyak mahasiswa master yang hanya menguasai satu bahasa.

Saya ceritakan bahwa dulu di IPB, sewaktu saya Master, ada mata kuliah yang sangat saya sukai. Kami tidak belajar tentang ilmu biologi molekuler dari prinsip atau teori dasarnya, tapi kami mempresentasikan jurnal. Dengan terus diasah membaca jurnal, saya jadi paham teknik menulis dan mengkritik tulisan orang lain. Barangkali kegiatan membaca jurnal harus diwajibkan di kelas-kelas seminar.

Saya kemudian seperti biasa selalu bicara ngacau dengan ide-ide yang kadang-kadang muncul mendadak. Ada beberapa poin yang saya usulkan kepada sensei untuk mengasah jiwa meneliti mahasiswa master :

1. Dosen harus menanyai/mencecer mahasiswa Master 1 di semester satu tentang tema penelitian. Kalau ada mahasiswa yang masih belum pasti, dosen dapat menawarkan atau memaksakan satu tema yang adalah bagian dari penelitian dosen. Karena banyak sekali yang ingin diteliti dosen, tapi apa daya dia tak punya waktu.
(Sensei mengomentari ini mungkin sebagai bentuk pemaksaan dan pendidikan yang kurang demokratis). Saya katakan pelatihan dan pembentukan jiwa di manapun tak ada yang demokratis. Apalagi dengan mahasiswa yang masih plin-plan. Tak ada yang tahu sampai kapan dia bisa menemukan judul yang tepat untuknya. Lebih baik mengambil tindakan mengarahkan dan menuntun, khususnya untuk tema penelitian.

2. Terkait dengan penelitiannya, mahasiswa harus mempresentasikan paling tidak 5 artikel ilmiah sebagai sumber referensi utama penelitiannya di semester 1 dan 2. Banyak membaca, banyak mengkritisi, banyak berfikir apa yang kurang dari sebuah paper adalah latihan yang sangat baik.

3. Membagi mahasiswa menjadi dua kelompok, yaitu yang akan akan melanjutkan program Doktor dan yang akan bekerja. Kalau melanjutkan ke program doktor, maka harus harus melakukan penelitian yang terkait dengan argumentasi teori dan diperketat pemeriksaan dan penilaian terhadap hasil penelitiannya. Sementara mahasiswa yang tidak akan melanjutkan ke program doktor, dapat memilih tidak melakukan penelitian yang berbau ronsou (argumentasi teori) tetapi thesisnya dapat berupa laporan praktek/internship. (Lulusan S1 dan S2 di Jepang saat ini dihargai sama oleh perusahaan, sehingga hampir tak ada maknanya mempunyai gelar Master atau Sarjana).

4. Seleksi mahasiswa Master diperketat. Tahun ini ujian translasi bahasa Inggris ke bahasa Jepang atau sebaliknya, dihapuskan, dan ujian hanya berupa bahasa Jepang saja. Saya katakan kepada Sensei, bahwa mahasiswa master wajib paham bahasa Inggris. Bukan sebagai bahasa percakapan, tetapi memahaminya sebagai bahasa tulis. Penelitian berkembang dalam bahasa Inggris, dan informasi baru bisa didapatkan dengan memahami bacaan-bacaan dalam bahasa ini.

Dalam banyak kasus di program kami, mahasiswa Master baru mulai berfikir tentang penelitiannya ketika dia duduk di tingkat akhir. Beberapa hari yang lalu seorang mahasiswa Cina datang ke meja saya dan minta waktu untuk bicara. Lalu meluncurlah keluhan dan kebingungannya tentang tema penelitian. Dia ingin meneliti A, tetapi senseinya memintanya melakukan penelitian B. Menimbang kedua tema, saya setuju dengan pilihan senseinya, sebab lebih banyak curiosity dan akan banyak manfaatnya. Si mahasiswa kebingungan harus meneliti dari mana. Dia menunjukkan tulisannya, dan saya katakan perbaiki bahasa Jepangnya dengan minta bantuan mahasiswa Jepang native atau mahasiswa Cina yang fasih bahasa Jepang. Lalu, dalam tulisan tersebut tidak jelas apa yang akan ditelitinya, dan bagaimana cara melakukannya. Lalu dia mengeluhkan pendidikan sarjananya dulu, yg dosennya lebih banyak berbicara di kelas, dan mereka kurang dilatih untuk menulis dan meneliti. Saya katakan mungkin bukan salah dosen juga. Ketika kita memutuskan untuk masuk program Master, bukankah kita sudah memahami benar bahwa kita akan masuk dalam dunia penelitian. Jadi semestinya ini dipersiapkan sejak S1. Saya tidak yakin pendidikan di Cina buruk, sebab banyak orang pintar di sana.

Saya katakan bahwa kalimat : “pendidikan di Cina jelek, atau tidak bagus” adalah pendapat subyektif, yang harus didukung oleh data penunjang, sehingga bisa menjadi pendapat obyektif. Jadi, jangan mengatakan ini jelek, tanpa ada penjelasan tambahan mengenai sudut pandang yang dipakai. Dalam bidang sosial, saya pikir tidak bisa menilai sesuatu dengan sangat sederhana.

Si mahasiswa masih kebingungan setelah saya uraikan panjang lebar,poin-poin menarik yang bisa saya temukan dalam tema penelitian yang diberikan senseinya. Tapi dia masih tak mengerti. Saya kembali teringat demikianlah kondisi saya dulu saat di tahun pertama teacher training dan tahun pertama doktor. Sensei mengatakan: ini menarik !, sementara saya tak bisa menemukan di mana kemenarikannya ?

Menemukan sesuatu sebagai hal menarik untuk diteliti adalah hal yang sulit dilatihkan atau diajarkan, saya katakan itu kepada sensei. Sensei yang sudah punya jiwa peneliti, barangkali dengan mudah menemukan sekian banyak tema di antara sekian banyak fakta yang didapatinya. Tapi, kami yang baru belajar meneliti, kadang-kadang sulit menarik kesimpulan bahwa sesuatu menarik.

Mungkin perlu juga diberikan tulisan/bacaan kepada mahasiswa tentang kondisi sebuah etnis misalnya, yang memaparkan mulai dari kehidupan masyarakat, pendidikan, prinsip dan kebiasaanya. Dari bacaan pendek tersebut, apa yang menurut mahasiswa menarik untuk diteliti. Atau gampangnya berikan mahasiswa gambar sebuah ruang kelas modern dan berikan juga gambar ruang kelas kuno, lalu persilahkan mahasiswa untuk mencari hal menarik dari kedua hal itu.

Ah, saya terlalu berkhayal…

Jam menunjukkan pukul 9 malam, dan kami sudah berdiskusi selama hampir dua jam. Saya sudah kehabisan ide, dan sensei kelihatannya sudah capek mendengar ocehan saya🙂

Pembicaraan dengan Sensei kembali menyadarkan saya tentang status mahasiswa S3. Dan sebelum meninggalkan ruangan sensei, saya ulang kembali keinginan saya di awal, saya bersedia tinggal lebih lama di Jepang supaya sensei-sensei bisa memeriksa dan mendiskusikan disertasi saya bab demi bab agar benar-benar memenuhi persyaratan sebagai layak diakui.

  1. Assalamualaikum ….
    Setelah sekian lama, saya mengunjungi lagi situs ini ….

    Saya suka tulisan ini ….

    Terus terang bu, saya sendiri tahu bahwa saya tidak dapat menulis sebuah karya ilmiah dengan baik ….
    Karenanya, bisakah ibu memberitahu saya, apakah ada buku yang bisa menjadi panduan bagi saya untuk menulis dengan baik?
    Kalau ada, apakah judul buku tersebut?

    Terima kasih ibu atas jawabannya ….

  2. Wa alaikum salam warahmatullah

    Terima kasih atas kunjungannya.
    Saya belajar menulis ilmiah dari bangku kuliah dulu. Sudah lupa judul buku yang dipakai di IPB (pada MK. Metode Penelitian Ilmiah), tapi diktat tsb hanya menuntunkan hal-hal yang formal saja dalam penulisan. Buku panduan menulis justru belum pernah saya baca detil, tetapi buku panduan meneliti yang cukup bagus adalah The Practice of Social Research karangan Earl Babbie, terbitan Wadsworth Publishing, Singapore. Karena bidang yg saya tekuni sekarang adalah masalah sosial, maka buku ini menjadi panduan yang cukup baik untuk melakukan studi sosial.

    Krn sekarang sy menulis disertasi dalam bahasa Jepang, mk saya menggunakan buku panduan bahasa Jepang. Jk menulis untuk keperluan Jurnal di Indonesia baik yg berbahasa Indonesia ataupun Inggris sya mengikuti Guideline Penulisan naskah jurnal bersangkutan.

    • Assalamualaikum …

      Terima kasih ibu, atas informasi yang ibu berikan ….
      (saya jadi bertanya-tanya, apa buku The Practice of Social Research karangan Earl Babbie, terbitan Wadsworth Publishing, Singapore bisa saya dapatkan di sini ya? Maksud saya yang dalam Bahasa Indonesia…. Nabung dulu kalau begitu🙂

      Sedang membuat disertasi ya bu? Saya yakin hasilnya akan bagus….
      Sukses selalu ya bu …

  3. ya begitulah nasib seorang calon pembelajar, suka (karena statusnya membanggakan, patut di bangga kan orang lain = socio eksternal ) ; duka (karna pemahaman menyedihkan, korban dari socio eksternal = socio internal, ditanggung sendiri) namun itu di maklumi dan di sadari oleh orang lain (awam) sebagai konsekwensi berat beban studi musti disandang dikalikan panjang tempo studi harus di jalani.

    dan di sini telah dibuka tabir problematika awan gelap (sejati)nya sekaligus media berdalih dan berkelit dari keluhan+kerinduan mereka yang selama ini setia di tinggal kan ber jihad di bidang ilmu semua akan menjadi indah pada saatnya pas pada waktunya . . . dengan jawaban ber sabar lah, semoga membawa kemanfaatan diri+kesiapan mental bagi calon peneliti+apapun tingkatan strata akademis akan mereka tempuh.

    resep informasinya sangat mendidik+membangunkan dari kegelapan+mencerahkan+ menurunkan tingkat ketidak mengertian + sepahaman apa yang di ucap sampaikan maksud tujuannya dan apa yang di terima + tangkap + coba pahami sesuai daya nalar dan
    kombinasikan antara pemahaman baru di dengar+pengalaman selama ini telah diperoleh, akan melahirkan proses jawaban (umpan balik / feedback) mungkin tak sama persis atau sedikit menyimpang bahkan berbeda. Disini lah letak ke indah an atau petaka jalinan komunikasi terjadi diantara murid/mahasiswa/promovendus dengan guru/dosen/promotor,
    karena pola penyikapan diantara mulai ke kanak-2 an hingga kedewasaan setali tiga uang, kombinasi di antara kebingungan dan pemaksaan ; ke enggan an+ke terpaksa an hasrat dan ke harus an dan ke tidak berdaya an hajat

    semoga nota pemahaman pola pikir selama (gelap gulita+lagi momok menakutkan) ini di dengar+terima dari dunia seorang murid+mahasiswa dan apa di kehendaki dan sampaikan oleh seorang pengajar/dosen/promotor semoga menjadi tercerahkan lagi membawa barokah bagi kaum pembelajar (se)habis gelap (maka) terbitlah terang bagi dunia pembelajaran akademikus bermanfaat buat si pembelajar dan berkhasiat bagi kaum damba penanti manfaat sekolah haus akan khasiat kuliah (slama ini adalah abstrak=semua=maya adanya) … aamiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: