murniramli

Menatap ke depan atau menengok ke belakang ?

In Pendidikan Jepang, Renungan, Serba-serbi Indonesia, Serba-Serbi Jepang on Januari 29, 2010 at 9:08 am

Mahasiswa saya pernah mengikuti lomba pidato, dan isinya menurut saya sangat menarik. Saya kebetulan sempat membaca draft-nya. Dia mencoba membuat asosiasi tentang arti kata “depan” dan “belakang”. Dalam bahasa Jepang kata “depan” diterjemahkan menjadi 前(dibaca mae atau zen) dan kata belakang diterjemahkan menjadi 後atau後ろ(dibaca ushiro, go,ato, nochi).

Jadi, kalau kita ingin mengatakan : di depan rumah saya, maka kalimatnya menjadi 私の家の前に(watashi no ie no mae ni). Tetapi penggunaan yang menarik adalah karakter 前 dalam bahasa Jepang dipergunakan juga untuk makna sesuatu yang sudah lewat/lalu. Misalnya minggu lalu (前週-zensyuu)、bulan lalu (前月-zengetsu), tahun lalu diterjemahkan menjadi 前年(zennen), atau 去年(dibaca kyonen). Sebaliknya minggu depan diterjemahkan menjadi 来週(raisyuu) yang dalam bahasa Indonesia dapat pula kita terjemahkan menjadi “minggu yang akan datang”.

Selain itu, karakter 前 dipakai pula untuk menyatakan “sebelum”. Misalnya, “sebelum makan” (食べる前=taberumae). Dan sebaliknya kata 後 dipergunakan untuk menyatakan “sesudah”. Contohnya, sesudah makan (食べた後=tabetaato).

Karena perbedaan penggunaan seperti itu mahasiswa saya sering terbolak-balik ketika mengartikan kata minggu depan sebagai 前週 (zensyuu). Untuk memudahkannya mengingat istilah ini, dia mengasosiasikan kata “depan” sebagai berikut. Kata “depan” katanya dapat diasosiasikan dengan istilah 前向き(maemuki) yang artinya berpikiran positif, atau berpikiran ke depan, yang dianalogkannya dengan badan yang menghadap ke depan.

Lalu dari pengasosiasian yang dia buat, mahasiswa saya kemudian mengembangkan cerita bahwa dari penjelasan saya di dalam kelas (saya sering bercerita tentang masalah politik), dia mengambil kesimpulan bahwa politikus Indonesia senantiasa melihat ke depan, sebaliknya politikus di Jepang selalu menengok ke belakang (barangkali mahasiswa saya sedang membayangkan kebiasaan PM Koizumi yang selalu berkunjung ke Yasukuni Shrine, ketika dia menyampaikan hal ini dalam pidatonya :-)  ), makanya dunia politik Jepang berjalan lambat sekali.

Saya tersenyum-senyum saja, sebab saya sebenarnya termasuk orang yang gemar belajar sejarah, dan menurut saya kehidupan masa lalu harus dipahami dengan baik supaya yang buruk tidak diulangi lagi.

Menatap ke depan dengan penuh optimisme memang sangat diperlukan untuk mencapai sebuah kemajuan, tetapi orang yang terlalu lempeng berjalan ke depan dan tidak menengok-nengok ke belakang, biasanya akan tersandung. Banyak orang yang selalu menasihatkan : “lupakan masa lalu”. Saya pikir kalimat itu dimaksudkan untuk melupakan hal-hal yang buruk, sebab kadang-kadang terlalu banyak memikirkan hal yang buruk atau kegagalan di masa lampau membuat orang tidak mau mencoba lagi sesuatu, atau menjadi trauma.

Kegagalan masa lalu bukan untuk dilupakan tetapi untuk dikaji penyebab kegagalan, dan bagaimana penyelesaiannya agar tidak gagal lagi. Orang-orang yang senantiasa cermat mempelajari masa lalunya untuk kebaikan masa depannya, menurut saya itulah orang yang bisa disebut sebagai “maemuki”.

Seperti kata Nabi Muhammad SAW: Janganlah engkau terperosok ke lubang biawak dua kali. Maka semestinya langkah-langkah ketika kita terperosok ke dalam lubang biawak kali pertama harus dipelajari dengan baik agar tak terulang🙂

  1. Anda orang yang kreatif, teruslah menulis !!
    http://mobil88.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: