murniramli

Masyarakat gila gelar

In Pendidikan Tinggi, Penelitian Pendidikan, Renungan on Februari 11, 2010 at 2:02 pm

Ada satu hal yang saya sukai dari ilmuwan di Jepang, yaitu kebiasaannya untuk tidak menuliskan gelar. Jika ada seminar atau kuliah umum yang diadakan di kampus, sehebat apapun professor yang akan diundang untuk berbicara, belum pernah saya melihat ada embel-embel gelar di depan atau di belakang namanya.Tetapi lain halnya jika yang diundang berbicara adalah professor dari luar Jepang, maka biasanya dilengkapi dengan embel-embel.

Kehebatan para peneliti di Jepang bukan dilihat dari banyaknya gelar yang dipunyainya. Saya mengenal beberapa orang professor yang telah mendalami dan mengikuti program pendidikan dari berbagai major yang terkait dengan penelitiannya, tetapi namanya tidak semakin panjang dengan gelar-gelar yang didapatnya.

Di Jepang tidak ada istilah guru besar. Sehingga para dosen tidak perlu disibukkan dengan mengejar target ini itu untuk mendapatkan gelar ini.Oleh karenanya saya melihat mereka lebih enjoy melakukan penelitian apa saja yang diinginkannya. Seorang asisten professor yang saya kenal di kampus, jika melihat hasil penelitian dan tulisan-tulisannya yang tersebar di jurnal Jepang dan internasional, seandainya dia berada di Indonesia, dengan mudahnya deia akan mendapatkan gelar guru besar. Tetapi tidak dengan di Jepang, statusnya tetap sebagai asisten professor sekalipun menurut saya dia layak sekali disebut professor, dan bukan asisten.

Seorang teman menulis email di sebuah milis, di dalam embel-embel pengirim dicantumkannya gelar doktor (Dr) di depan namanya. Dia tidak salah memang, sebab dia berhak atas itu.Tetapi mungkin karena sudah terpengaruh dengan budaya Jepang, saya merasa jengah membaca email teman tersebut.

Suatu kali ada seorang penulis yang mengirimkan tulisan di media ilmiah yang saya asuh bersama teman-teman. Dalam tulisan tersebut, gelar doktor dicantumkannya. Saya menghapusnya dengan pertimbangan selama ini kami tidak menampilkan gelar dalam semua artikel yang kami muat. Ketika revisi kami kirimkan, kembali Pak Doktor menampilkan gelarnya. Dan saya harus menjalankan aturan majalah, gelarnya tidak kami cantumkan.

Pernah pula saya mereview dan mengedit sebuah tulisan yang kemudian saya kirimkan balik kepada penulisnya dengan mengatakan alur berfikirnya tidak jelas, dan permasalahan yang diangkat tidak jelas dipaparkan di bagian pendahuluan. Mungkin tersinggung dengan komentar tersebut, si penulis membalas email saya dengan menambahkan semua gelar pada namanya. Saya baru tahu beliau professor di sebuah universitas terkenal. Selanjutnya saya tidak berminat mereview tulisan beliau.

Saya kadang-kadang malu menuliskan gelar akademik yang sudah saya miliki. Saya ingat ketika mengurus KTP di Indonesia, form isian menuntut penulisan gelar. Dan jadilah nama saya di KTP menjadi agak panjang dengan penambahan dua gelar di belakang, entahlah kalau tahun depan saya mengurus KTP lagi di Indonesia, nama saya akan bertambah panjang.

Saya tidak bisa pulang segera di bulan Maret ini karena meskipun course doktor saya sudah dianggap tuntas, dua professor tidak mau meneken kertas pengakuan bahwa saya berhak atas gelar doktor.Katanya, mereka sayang melepas saya jika belum benar-benar memeriksa bab per bab. Saya memasuki program baru di fakultas kami, EdD, yang lulusannya bukan bergelar PhD, tetapi Ed.D.Saya tak pernah berfikir bahwa keduanya berbeda sebab selama ini saya melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan mahasiwa program PhD lainnya. Dan saya tidak peduli dengan gelar apa yang akan diberikan nanti. Tetapi saya paling peduli ketika dua professor mengatakan bahwa saya perlu mengikuti pemeriksaan disertasi agar disertasi saya selevel dengan disertasi program PhD. Sementara professor utama saya sudah berancang-ancang meneken tanda kelulusan saya di bulan Maret, dengan alasan saya semestinya dipermudah karena program EdD adalah program untuk orang yang bekerja dan tidak bisa disepadankan dengan program PhD, dua orang professor anggota komisi memanggil saya dan membeberkan alasan mengapa mereka meminta saya mengikuti proses pemeriksaan komisi selama kurang lebih 5-6 bulan.

Saya katakan kepada kedua professor, bahwa saya tidak mengharapkan mendapatkan gelar itu jika memang disertasi dan penelitian saya tidak diakui 100% oleh dewan komisi dan diterima oleh rapat dosen di fakultas.Saya tidak mau dikategorikan sebagai orang yang punya penyakit, seperti ditulis oleh Ronald Dore dalam bukunya “Diploma Disease”, dan memang saya tidak mempunyai penyakit itu. Saya membutuhkannya karena terdesak kepentingan dan keharusan memilikinya jika hendak mengabdi kepada ibu pertiwi🙂

Sepulang dari haji, teman mengatakan bahwa gelar saya bertambah di depan. Saya malu, sebab saya yang tahu layak tidaknya gelar itu ditempelkan di depan nama saya. Kelak saya juga mungkin malu ketika gelar Ed.D mulai disematkan di belakang nama saya, sebab saya yang sangat tahu, layak tidaknya itu.

Saya ingin mencontoh guru-guru saya yang dengan ikhlas meneliti dan rela berkorban dana dan tenaga untuk memperjelas sesuatu yang belum jelas, untuk membuka sesuatu yang belum terbuka. Saya tahu ada beberapa guru saya di Indonesia yang telah mengajarkan ilmu yang sangat berharga dan tak henti meneliti, pun tak menginginkan gelar itu, tetapi masyarakat menuntutnya untuk memakainya. Karena masyarakat lebih menghormati seseorang dengan melihat gelarnya dan bukan karyanya.

Memasangkan gelar di depan dan di belakang nama saya sebagai memaksa saya memakai baju yang saya kurang nyaman dengan warnanya. Ingin sekali saya melepaskannya segera !

  1. Seandainya semua orang Indonesia berpikir seperti ini? Saya hanya mencantumkan gelar di dokumen-dokumen kedinasan saja, tapi di luar itu tidak. Di KTP pun polos cukup nama lengkap, dan itu boleh di desa saya. Kita orang Indonesia memang demikian gila gelar dan harta, kedengarannya kasar sekali, tapi kenyataan mayoritas menghargai orang lain sebatas harta yg dimiliki dan atribut di depan atau belakang nama yg sebenarnya tdk penting dicantumkan. Bukankah kita lebih penting berkarya ? Berkarya yang terbaik untuk bangsa. Demikian pula ibadah haji yg telah dijalani lebih utama bukan gelar haji atau hajahnya tapi bagaimana dia mengaplikasikan ibadah hajinya sepulangnya di tanah air, justru di situlah letak mabrur dan tidaknya haji seseorang. Terima kasih tulisan Anda sangat bagus dan inspiratif, semoga semakin banyak orang Indonesia yang sependapat dengan Saudara. Sukses untuk Anda! jendelakatatiti.wordpress.com.

  2. Aku dan suami mempunyai prinsip yg sama ‘apalah artinya gelar klo kita tdk bs mengaplikasikannya’.
    Waktu kita mo nikah jelas2 kita tidak cantumkan gelar kita tapi sebelum naik cetak undangan dikoreksi ortu.
    Dan tanpa setau kita mereka menambahkan gelar (kebetulan kt kerja diluar kota).
    Di Indonesia budayanya memang spt itu he mungkin krn sisa2 feodalisme ya.
    Alhamdullillah ketika aku mengurus KTP diBekasi tidak disuruh mencantumkan gelar berbeda ketika aku mengurus KTP diYogya.
    Selamat ya murni apa yang kamu cita2kan kesampaian.

  3. @Jendelakatatiti : Terima kasih sudah berkunjung
    @Ika : Ning, mbok aku dikirimi fotomu, biar aku inget wajahmu yang ayu hehehhe….wajah teman2 berseliweran di kepala dan seperti biasa saya lebay kalo masalah mencocokkan wajah dan nama hehehehe maaap

  4. asyikkk ,,, bu murni salah dalam penempatan kata lebay. selamat ya bu….

    saya mau menambahi nama ibu dengan `sang inspirator`!

  5. @Wahida:terima kasih koreksinya. barusan saya cari2 makna lebay,ternyata maksudnya over atau berlebihan atau terlalu pinter ya. selama ini sya selalu menyamakan kata lebay dengan letoy hehehe…sebab gayanya sama ketika diucapkan hehehe…
    btw, blognya kayaknya hacked deh, di kompi saya ada peringatan tuh di alamat site-nya

  6. mbak murni yang baik dan ikhlasan
    bagi saya gelar itu baik. yang kemudian tidak menjadi pas karena disalahfungsikan dan disalahtafsirkan. mudah2 orang yang punya gelar bisa menjaga dengan baik bisa memberi manfaat dan dapat mendorong kebaikan-kebaikan. sementara yang belum/tdk punya gelar, kalau ingin ada motivasi kuat dalam pribadi untuk dapat meraih dengan sebaik-baiknya. terusterang gelar apapun jenisnya merupakan doa/ibadah. kiblat berfikir saya sederhana. nabi kita namanya muhammad belaiu adalah pimpinan dan rasul allah, nabi ummat islam itu nama besarnya biasa ditulis “MUHAMMAD SAW” dan masih banyak lagi contoh2 tentunya.
    jadi bagaimana kita tetap baik dan terus bersikap kritis dan tepat dimanapun kita bertempat/ dimana bumi diinjak disitu kita menyangga langit.

    sebelum dan sesudahnya terimakasih.
    salam kenal dari yogjo

  7. @Pak Fauzan :
    Saya kadang-kadang ndak ikhlas juga, Pak.
    Salam kenal, Pak, dan terima kasih atas komentarnya.
    Saya sependapat dg Bapak, gelar itu bukan sesuatu yg tdk baik (dalam satu sisi), tetapi dalam pandangan lain, saya berpendapat gelar itu sesuatu yang tidak baik. Gelar SAW pada nama belakang Rasulullah, menurut saya bukan gelar tetapi doa. Sementara gelar yg dimiliki oleh manusia karena proses pendidikan yg ditempuhnya hanyalah gelar saja. Tetapi gelar Rasulullah sebagai misal Al-Amin, atau Abu Bakar yang digelari As-Shiddiq sangatlah saya setujui. Gelar yg seperti ini seharusnya yg kita kejar dan inginkan.
    Tetapi dalam banyak hal, kita mengambil pendidikan yg lebih tinggi karena menginginkan gelar Sarjana,Master atau Doktor, sejatinya ada yg menginginkan “hanya” gelar saja dan bukan kedalaman ilmu yg ingin diraih.
    Tetapi saya tdk menafikan banyak orang yg bersungguh-sungguh memperdalam ilmu, dan perolehan gelar doktor adalah sekedar pengakuan atas upayanya.
    Masyarakat gila gelar adalah masyarakat yang sampai-sampai membeli gelar tsb, dan tdk menempuh proses pendalaman ilmu yg sesungguhnya. Mengapa sampai mereka nekat melakukan itu ? Karena masyarakatnya lebih menghargai gelar daripada karya. Dalam hal ini, yg saya maksudkan dg gelar dalam tulisan di atas adalah gelar dalam bidang akademik.

  8. saya sangat sependapat dengan bapak, jadi teringat ketika saya mengikuti kelas sosiologi pendidikan dimana sang dosen (yg menurut saya sangat hebat & mumpuni dibidangnya) mengatakan bahwa masyarakat Indonesia itu sangat berbeda dgn masyarakat luar (khususnya negara maju) terutama dlm hal pendidikan, jika masyarakat negara maju lebih mementingkan kualitas ilmu yang dimilikinya tidak sama halnya dengan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia akan lebih menghargai legitimasi pendidikan berupa ijazah & gelar makanya masyarakat Indonesia gila gelar bahkan rela “menyuap” hanya demi selembar ijazah & gelar…miris sekali saya melihatnya😀
    sukses utk bapak, semoga setelah kembali ke Indonesia pemikiran bapak tdk “teracuni” oleh pola pikir masyarakat Indonesia pada umumnya hehehe…

  9. Salam kenal Bu Murni,
    Tulisan yang sangat menarik sekali Bu Murni🙂 Mungkin banyak perbedaan antara iklim akademis dan ilmiah antara Indonesia dg Jepang ya Bu.

    Di beberapa negara asing lainnya… julukan Professor biasa diberikan kepada setiap pengajar dan peneliti di universitas. Di Indonesia… gelar Professor bisa diperoleh setelah melewati jenjang S3 dan memenuhi jumlah kredit tertentu sebagai dosen atau peneliti.

    Tentu baik jika pemenuhan nilai kredit itu ditempuh dengan cara yang baik (banyak melakukan penelitian, banyak menulis, banyak publikasi, dll secara jujur dan etis). Sayangnya ada juga yg “menempuh berbagai cara” agar nilai kreditnya semakin meningkat cepat… misal… meminta mahasiswanya untuk menterjemahkan hasil penelitian mahasiswa itu menjadi draft paper kemudian ia menempatkan dirinya sebagai 1st author dengan alasan ia yang punya idenya, ia yang memberikan dana penelitian dan membimbing mahasiswanya… kalau sudah begitu… dimana letak etika ilmuwannya… (pengalaman yg hampir membuat kami terancam DO karena menolak melakukan itu… dan tetap kami tolak).

    Di Jepang… sensei selalu meminta saya menempatkan dirinya sebagai author paling terakhir saja, bahkan pernah pula meminta untuk cukup menyebutkan lab-nya saja dalam acknowledgement. Sensei pernah berkata: “Kita berkompetisi dengan orang lain secara jujur dan terhormat dengan melakukan penelitian sesering mungkin, dan dengan hasil sebaik mungkin… bukan dengan mencari celah untuk menjatuhkan lawan kita, justru celah itu sebisa mungkin kita tutupi dengan penelitian yang kita lakukan, hingga semakin berkembanglah penelitian ini untuk generasi selanjutnya…”

    CMIIW🙂

  10. subhanallah..salut untuk ibu..teruskan berkarya demi masa depan bangsa yg perlu dibenahi ini,bu..banyak mahasiswa2 indonesia yg mmbutuhkan pelajaran dari dosen spt ibu..salam sukses,bu!

  11. jika dikaji lebih kedalam sebenarnya :
    gila gelar di idap oleh mereka kaum yang gemar lebih mendewakan teoritikus ketimbang mereka melakoni lelaku /perilaku praktek/praktisi tanpa banyak cakap langsung berbuat.

    padanan sengawur-2 nya dari sisi budaya begini :
    gila gelar = teoritikus = kaum pendawa = das sollen = seharusnya
    geli gelar = praktisi = kaum kurawa = das sein = apa adanya
    celakanya ke dua belah pihak harus ber temu dan di per tarung kan dalam lakon perang besar Bharata Yudha, oleh provokator si Bathara Kresna dan Mahapatih Sangkuni. keduanya sejatinya sesama licinnya, hanya berbeda berlawanan dan berbeda maqomnya saja, itu membuat ada terkecoh, membenci dan mengidolakan bukan?
    kalau dibilang membela kebaikan, knapa si Kresna (abu-abu) berwajah dan kulit hitam??? sementara si Sangkuni, lebih jelas jati dirinya ber wajah dan kulit merah!!!

    jadi disini terlihat, si di pertemukan dan di pertarungkan diantara :
    selalu berfikir tanpa berbuat (omdo), OutCome/karya mu nya manna??
    dan berbuat tanpa difikir (ngawur), InCome/hasil nya paceklik!!!
    dalam lakon pedalangan Pandawa selalu menang diatas angin terhadap Koerawa.
    yang seharusnya ke duanya di berdayakan bersama saling mengisi bukannya,
    di perselisihkan (dalam lakon pewayangan) selayaknya menyatu diantara otak kanan & kiri dalam 1 batok kepala begitu ber sinergi (di Ciptakan-NYA di dunia ini serba berpasang-2an bukan? knapa harus di pertentangkan sesuai alur cerita???)

    jadilah hulu hasilnya pola pendidikan bisa dilihat di negeri ini, terjadi peperangan Bharata Yuda, di segala lini :
    lapangan kerja+skala gadji+karier+penghargaan+dst. antara praktisi+keterampilan+kelincahan tangan Ver Sus
    teoritis+konseptual+kelihaian bersilat lidah
    muaranya adalah :
    inflasi gelar+konsumerisme seklias JAPAN TECHNOLOGY,
    defisit karya nyata / produk bikinan sekelas TEKNOLOGI JAPANAN
    Knapa Japan, mampu mewujudkan konsep teori menjadi karya nyata?
    dan mengapa Indonesia mampu mewujudkan konsep idea teori melahirkan karya rekomendasi kesimpulan dan saran semata????

    masih kah mau kondisi gila gelar seperti ini dilanjut lestari kan,
    hanya membikin hamba geli sahh gali kubur kesuksesan gala impian?

    pangapunten mohon maaf jika ada tersinggung, saya lebih menyukai dan akan membuat bibir ini menjadi tersungging, semoga kesadaran segera tumbuh dan tambah banyak … gila gelar menjadi pada geli sah menyimak padanan sengawur-2nya dr sisi budaya & dididap akademisi begini, yang dinanti masyarakat dibutuhkan rakyat ini KARYA NYATA mu, tidak lagi hanya melahirkan rekomendasi mengkaji dan membenar kan teori telah ada berikut KESIMPULAN & SARAN di @Bab V+VI+VII setiap karya yaitu baru sampai KESOMBONGAN emosi kelakuanmu . . . (sing penting kluruk disik) terlampau jauh belum sampai KEMANFAATAN ILMU mu kawan saudara ku . . . sayang bukan?

    salam
    kucinge perpus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: