murniramli

Bekerja adalah kebahagiaan

In Pendidikan Jepang, Penelitian Pendidikan, Serba-Serbi Jepang on Februari 14, 2010 at 10:37 am

Dua hari yang lalu, saya menjadi penerjemah di sebuah training. Materi hari itu tentang karakteristik perusahaan Jepang, dan ada salah satu prinsip penting yang membekas dalam benak, yaitu prinsip bahwa kebanyakan orang Jepang bekerja bukan demi uang tetapi karena mereka menyukai pekerjaan itu.

Banyak orang Jepang yang sering menyebut perusahaannya dengan : uchi no kaisya (=perusahaan rumah/keluarga kami). Dengan menganggap perusahaannya sebagai milik sendiri (bukan milik pemegang saham), para pekerja Jepang bekerja all out. Saking cintanya pada perusahaan mereka enggan untuk berganti pekerjaan.

Kenapa sampai demikian pandangan orang Jepang ?

Jika ditanyakan kepada bos-bos perusahaan Jepang : perusahaan itu milik siapa ? Kebanyakan dari mereka akan menjawab milik pegawai. Pegawai dianggap sebagai bagian terpenting, sehingga banyak perusahaan yang pantang memecat pegawainya, sekalipun terjadi kebangkrutan (krisis tahun 2009 tampaknya memaksa beberapa perusahaan Jepang mem-PHK-kan pekerjanya).

Agar pekerja-pekerja Jepang mau bertahan dalam perusahaan mereka mendapatkan gaji plus bermacam tunjangan yang akan diterimanya hingga pensiun bahkan meninggal sekalipun. Tunjangan-tunjangan tsb antara lain, tunjangan anak, tunjangan pensiun, tunjangan perawatan (dikhususkan kepada pegawai yang harus menghidupi orang tuanya), tunjangan/asuransi kesehatan yang merupakan hal mutlak di Jepang.Tunjangan atau bonus akhir tahun diterima dua kali yaitu pada musim panas (natsu bonasu) dan musim dingin (fuyu bonasu), yang besarnya masing-masing 6 bulan gaji (tergantung perusahaan).

Para pekerja juga mempunyai kejelasan nasib yaitu persepuluhtahunan karirnya, dia akan dipromosikan menjadi kepala seksi dan selanjutnya jabatan tertinggi lainnya, sepuluh tahun berikutnya. Tentu saja tidak semuanya dapat memegang jabatan itu, tetapi kompetisi untuk mencapainya adalah kompetisi terbuka.

Perasaan memiliki perusahaan juga muncul karena kecilnya beda gaji antara bos atau kepala bagian dengan pegawai rendahan. Pegawai yang direkrut pada tahun yang sama (satu angkatan) umumnya tidak mempunyai perbedaan gaji yang menyolok, sekalipun salah seorang di antara mereka memegang posisi yang lebih tinggi. Penerimaan pegawai perusahaan di Jepang berlangsung serentak di bulan April (ini pernah saya tulis). Yang membedakan mereka hanya tanggung jawab.

Sistem penggajian di Jepang tidak didasarkan pada gelar, tetapi berdasarkan masa kerja atau senioritas yang dikenal dengan istilah nenkoujouretsu. Sehingga orang yang sudah bekerja 10 tahun akan mendapatkan gaji yang lebih dibandingkan pekerja yang baru. Sistem ini tidak hanya di perusahaan tetapi juga berlaku di sekolah dan perkantoran umum.

Mengapa masyarakat Jepang tidak menghargai gelar ?

Para orang tua di Jepang sejak dulu berprinsip bahwa kemampuan bekerja dan pemahaman itu diperoleh bukan di bangku kuliah/sekolah, tetapi langsung dengan cara dipraktekkan secara terus menerus. Makanya mereka meyakini bahwa orang yang telah bekerja 10 tahun pastilah lebih berpengalaman daripada orang yang baru mulai bekerja, sekalipun gelar si pekerja baru adalah MBA. Bisnis MBA tidak akan laku di Jepang !

Para pekerja di Jepang umumnya adalah lulusan sekolah menengah kejuruan, college, akademi atau S1 saja. Jarang ada yang bergelar S2. Orang-orang yang bersekolah hingga S3 umumnya akan menjadi peneliti atau dosen di universitas.

Lalu, apakah dengan gaji yang nyaris tak berkembang sekalipun pekerjaan bertambah tersebut tidak akan membuat lari para pekerja mudanya ?

Ada kisah menarik tentang hal itu di Perusahaan Honda yang membangun pabrik terbesar di Suzuka, Mie. Honda bermaksud memproduksi jutaan mobil dan bermaksud menatanya di pabriknya yang baru. Tetapi bos perusahaan belum tahu bagaimana sebaiknya melay out dan membangun pabrik yang memadai. Maka, dipanggillah seorang pekerja muda berusia 30 tahunan untuk memikirkan dan menangani. Bos memberikan pekerja muda keleluasaan untuk mengunjungi beberapa pabrik di seluruh dunia demi mendapatkan rancangan terbaik. Si pekerja muda tadi tidak mendapatkan gaji tambahan atau bonus dari apa yang dilakukannya, tidak pula promosi jabatan. Tetapi dia mendapatkan sesuatu yang berharga yaitu kesempatan untuk belajar melalui proses mengerjakan proyek secara langsung.

Menurut sebagian besar orang Jepang, pekerjaan yang bertambah adalah sebuah bentuk kebahagiaan karena dengannya mereka dapat memperoleh ilmu baru. Oleh karenanya tak heran dalam sepuluh tahun masa kerja, seorang pekerja akan dipindahkan ke minimal tiga departemen berbeda dalam perusahaannya untuk mempelajari hal-hal baru. Dengan sistem rotasi berkala seperti ini mereka akan terlatih memahami beragam jenis pekerjaan, menekuninya dan berusaha bekerja dengan siapa saja. Tidak ada yang boleh memilih-milih teman bekerja. Mungkin ini salah satu penyebab, KKN adalah barang yang musykil dalam perusahaan Jepang.

Perusahaan juga mengikat pekerja dengan memberikan training seluas-luasnya dan kesempatan untuk belajar. Seperti misalnya pengiriman tenaga kerja untuk mengikuti pelatihan di luar negeri di perusahaan yang sama tentunya. Saya beberapa kali mengajar bahasa Indonesia para pekerja yang akan dikirim ke Indonesia. Semuanya dibiayai oleh perusahaan.

Pantas saja, setiap kali berkunjung ke perusahaan Jepang, saya sering bertemu dengan pekerja-pekerja berusia 60-70 tahun ke atas. Mereka ada sebagian yang sudah pensiun, tetapi karena ingin tetap bekerja, perusahaan tetap mempekerjakannya.

Tampaknya para pekerja Jepang memahami bahwa bekerja bukan karena uangnya atau jabatannya, tetapi bekerja adalah karena kita menyukainya.

  1. Sikap pekerja dan perusahaan yang sangat bagus, di Indonesia kapan bisa begitu ya? Mbak Murni saya ingin tahu sisi negatif orang Jepang yaitu harakiri atau bunuh diri dan konon remaja Jepang banyak yg free seks, betul tidak? Terima kasih.

  2. jadi pengen kerja di jepang…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: