murniramli

Mengerti ?

In Pendidikan Indonesia, Pendidikan Jepang, Serba-serbi Indonesia, Serba-Serbi Jepang on Februari 19, 2010 at 11:00 am

Di tempat kursus bahasa yang sering saya kunjungi setiap minggu, selalu saja terdengar pertanyaan guru : “Mengerti ?” Dan biasanya tidak ada jawaban terdengar. Saya menyimpulkan bahwa yang diajar kemungkinan sudah mengerti sebab terdengar suara guru melanjutkan penjelasan bahan yang lain.

Saya juga sering menanyai murid-murid saya, “Sudah mengerti ?” Sekarang saya berhenti mengucapkan itu. Saya pikir tidak ada gunanya menanyai mereka sudah mengerti atau tidak jika tidak bisa membuktikannya. Alih-alih menanyai mereka pertanyaan tersebut, saya cenderung mengetes mereka dengan melatihkan beberapa soal.

Dalam pelajaran bahasa Indonesia, saya paling suka dengan teknik Q&A dari guru kepada murid dan sebaliknya. Menurut saya murid-murid tidak hanya harus mampu menjawab pertanyaan, tetapi dia juga harus mampu membuat pertanyaan. Makanya, dalam buku LKM (Lembar Kerja Mahasiswa) yang saya persiapkan untuk mengajar, saya punya dua bentuk bacaan. Salah satunya adalah bacaan yang dilengkapi dengan pertanyaan-pertanyaan. Dan satu lagi adalah bacaan yang diikuti dengan nomor-nomor saja, supaya siswa dapat membuat pertanyaan di situ tentang bacaan.

Saya biasa juga menerapkan sistem membuat pertanyaan setiap sesi pelajaran akan berakhir. Siswa/mahasiswa harus membuat pertanyaan tentang apa saja yang ingin diketahuinya. Bukan isi pertanyaannya yang penting, tetapi kemampuannya membuat pertanyaan, itu yang utama.

Ketika bertanya kepada orang yang diajar, “mengerti ?” Lalu dia menjawab, “ya”. Jangan langsung percaya. Periksa dulu, benarkah dia mengerti.

Guru-guru di Jepang dan ibu-ibu selalu menyebutkan serentetan aturan jika misalnya si anak hendak bermain di suatu tempat atau di rumah temannya. Umumnya berupa larangan yang selalu dimulai dengan kata “Jangan”. Anak-anak biasanya manggut-manggut saja dan barangkali berfikir:Ibu, cerewet banget, sih ! Pada bagian akhir, si ibu/guru selalu mengakhiri ceramahnya dengan pertanyaan, “mengerti ?”. Dan ibu yang cerdik tidak akan puas, tanpa meminta si anak untuk mengulangi kembali semua petuahnya dengan benar 🙂

Jadi menurut saya pertanyaan “mengerti atau tidak” adalah basa basi yang harus ditinggalkan. Jika si pembelajar belum sampai kepada tahapan “BISA”, maka dia belum mengerti sesungguhnya.Ada baiknya diganti saja dengan pertanyaan, “bisa ?”

Misalnya saja mengajari anak pembagian. Setelah berceramah panjang lebar tentang prinsip pembagian, pengajar yang baik semestinya melanjutkan dengan : “Bagaimana, sudah bisa mengerjakan pembagian?” Kalau begitu mari kita tes, apakah kalian bisa atau tidak.

Pengajar dan pelatih adakalanya tidak sabar mengajar. Jika dari 5 murid yang diajarinya, sudah ada 3 orang yang menjawab : mengerti, maka segera saja dia terburu-buru melanjutkan ke pembahasan selanjutnya. Kadang-kadang pola pengajaran seperti itu terpaksa ditempuh karena terikat dengan kurikulum.

Tetapi coba bayangkan jika pelatihan/pengajaran tersebut terkait dengan masalah produksi barang. Bisa-bisa hasil akhir produk tidak sesuai dengan yang diharapkan. Dan adalah membuang waktu jika harus membongkar kembali elemen yang sudah dirakit untuk disusun lagi menjadi produk yang benar.

Guru berpengalaman biasanya akan tahu kondisi murid-muridnya. Umumnya ada tiga kelompok besar dalam kelas, yaitu kelompok yang betul-betul mengerti, kelompok yang  menjawab mengerti karena takut dibilang bodoh, dan kelompok yang memang benar-benar tidak mengerti.Dalam situasi kelas yang tidak sama seperti ini, untuk mengecek apakah murid yang menjawab mengerti benar-benar mengerti, mintalah dia untuk mengajar teman-temannya yang benar-benar tidak mengerti. Dan guru sebaiknya menangani anak-anak yang pura-pura mengerti tetapi sebenarnya tidak mengerti. Anak-anak kelompok ini perlu pendekatan tidak saja dari segi keilmuan tetapi dari segi psikis 🙂

Jadi, apakah anda mengerti apa yang saya tulis ? 😀

Iklan
  1. wah sebenernya saya bilang mngerti tapi sok sokan nuy hehehe

    ea bener pengalamn adalah guru yang sangat berarti

    berkunjung dan ditunggu kunjungan baliknya makasihhh

  2. assalamualaykum mb’…

    ptma kli comment ni mb’.. 😀

    ijin kopas bole g mb?

    saia sneng skali bca tulisan2 mb’.. 🙂

  3. salam kenal bu murni.. tulisan-tulisannya inspiring sekali 🙂
    saya sering-sering mampir boleh yaa..

  4. seni melontarkan tanya harus menggelitik+memantik rasa seberapa tahu dan jawaban murid dibaca ga’cukup tersurat melainkan tersirat juga.
    jadi seorang guru harus berkemampuan selain memasarkan pemahaman konsep juga menjajagi kedalaman pengertian lawan bicaranya [menjilma / penjiwaan seorang psikolog] pula … heibatnya benar-2 seorang guru sejati.

  5. Saya sangat menyukai artikel ni krn mengingatkan saya wakt msh skul?…thx,s ya…kak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: