murniramli

Pembelajar yang baik

In Pendidikan Dasar, Pendidikan Indonesia, Pendidikan Jepang, Pendidikan Menengah, SD di Jepang, Serba-serbi Indonesia, Serba-Serbi Jepang, Taman Kanak-Kanak on Februari 19, 2010 at 10:14 am

Saya pikir masing-masing kita pernah menempati posisi sebagai pembelajar dan sebagai pengajar. Pembelajar karena sebenarnya apa-apa yang sebelumnya tidak kita ketahui, menjadi terkuasai melalui proses belajar. Dan menjadi pengajar tidak selalu diartikan di hadapan murid-murid di sebuah ruang kelas, tetapi mengajari seseorang cara makan sashimi sudah menempatkan kita sebagai pengajar.

Hari ini lagi-lagi saya mendapatkan pelajaran berharga dari tugas menerjemahkan di sebuah pusat pelatihan, tentang bagaimana sebaiknya menjadi pembelajar dan pengajar yang baik.

Setiap orang mempunyai kiat-kiat menjadi pembelajar pun sebagai pengajar. Sebagai pembelajar tentu saja yang harus disiapkannya adalah mempersiapkan bahan belajar yang akan dipelajari. Di kelas bahasa Indonesia yang saya asuh, selalu saja saya berikan PR kepada siswa/mahasiswa semata-mata supaya dia tergerak untuk mempersiapkan diri tentang apa yang akan dipelajarinya. Di kelompok shorogan ibu-ibu di Nagoya yang kami lakukan setiap Sabtu, sekalipun sebagian mengaku sibuk dan sudah cukup tua untuk berfikir, saya tetap mewajibkan PR hafalan shorogan surat-surat yang sudah kami pelajari.

Membuat gambaran kira-kira apa yang akan diajarkan besok, membuat kita lebih mudah untuk memahami pelajaran. Demikian pula dalam mengajarkan teknik pembuatan barang, seperti yang dikuliahkan hari ini di tempat pelatihan. Seorang peserta mengatakan bahwa dia mencoba membayangkan seperti apa benda yang akan dibuat dan menyusun trik-trik belajarnya. Memang cukup mudah membayangkan barang yang akan dibuat, sebab pada saat yang bersamaan barang tersebut ada di depan mata. Tetapi akan sulit sekali membayangkan wujud barang yang akan dibuat jika baru pertama kali kita diajari, dan kita tidak mengenali wujud barang tersebut.

Semisal seorang teman mengatakan akan mengajarkan cara membuat pizza. Maka di kepala saya sudah terbayang bentuk bulat pipih pizza yang biasa saya makan.

Ketika diajari, ada banyak tipe pembelajar. Ada yang senang melihat dulu semua proses dari awal sampai selesai, kemudian mencoba membuatnya sendiri. Ada juga yang lebih mudah memahami jika dipraktekkan langsung tahap demi tahap.

Saya mendapatkan kesan bahwa pembelajaran di Jepang adalah pembelajaran yang lebih cenderung mempraktekkan tahap demi tahap, kemudian setelah semua tahapan selesai, memberikan kesempatan kepada pembelajar untuk mengulanginya dari awal.

Mungkin tidak biasa menyebutkan tata cara sambil mengerjakan. Tetapi menurut paparan yang pernah saya dengar di TV, banyak orang yang lebih mudah mengingat sesuatu teknik dengan cara menyebut tahapan-tahapan tersebut. Misalnya, ketika membuat masakan, akan lebih mudah jika sambil berbicara : tuangkan minyak, setelah panas, masukkan irisan bawang putih, dll.

Seorang mahasiswa saya di Nanzan pernah menulis draft pidato tentang tata cara penyelamatan dari gempa yang diajarkan kepada anak-anak. Katanya, ketika mempraktekkan itu sensei di kelas menyuruh anak-anak melakukannya sambil mengucapkannya dengan keras, misalnya : berlindung ke bawah meja, keluar dari ruangan, tidak saling mendorong.

Ada pembelajar yang tidak percaya kepada pengajarnya. Dia menganggap gurunya tidak lebih menguasai keahlian tersebut dibandingkan dirinya. Makanya setiap kali diajarkan membuat sesuatu melalui pengamatan, dia tidak percaya bahwa itu benar, dan selalu saja melihat manual untuk memastikan cara membuat yang lebih tepat.

Tindakan seperti ini tentu saja memperlambat proses belajar. Untuk pembuatan barang (mono zukuri) hendaknya pembelajar melakukannya dengan cara meniru apa adanya seperti yang diajarkan pengajar. Adapun ketidakpuasannya bisa dia lampiskan setelah ada waktu untuk mengulangi pembuatan barang tersebut dan dia kemungkinan akan menemukan teknik yang lebih baik daripada yang diterangkan pengajar ataupun yang tertera di manual.

Kalau membeli produk elektronik Jepang, teman-teman biasanya dipusingkan dengan penjelasan tata cara perakitan yang hanya tertulis dalam huruf kanji. Untunglah produk-produk tersebut dilengkapi dengan beberapa gambar, yang tinggal ditiru saja, tanpa harus menguasai bacaan yang ada.

Pembelajaran di kelas-kelas sekolah Jepang biasanya didominasi oleh sensei/guru. Murid-murid patuh mendengarkan dan mengikuti setiap tahapan yang diajarkan guru. Mengapa demikian ? Anak-anak Jepang sejak dini diajarkan sebuah petuah, bahwa kalau tidak mengikuti aturan yang ada, maka kemungkinan akan gagal dan berdampak pada keselamatan. Jika tidak mengikuti sesuai petunjuk ibu guru, maka jika ada yang terluka, dialah yang diharuskan bertanggung jawab, sebab guru sudah menjelaskan segala persyaratan yang harus diikuti.

Susahnya ada beberapa anak/orang dewasa yang kalau diajari, tidak mau diam. Selalu saja menyela penjelasan dengan bertanya macam-macam. Hal ini tentu saja menghambat proses belajar mengajar.

Dalam belajar, semua indera harus dipergunakan. Pasang telinga dengan baik untuk mendengarkan, buka mata lebar-lebar untuk melihat, jika kaitannya dengan masak-memasak atau hal-hal yang berkaitan dengan indera penciuman, maka tajamkan penciuman untuk membedakan bau yang muncul, dan gunakan tangan untuk merasai kehalusan dan kekasaran bagian-bagian tertentu sebuah produk.Abaikan untuk menulis semua tahapan ketika guru menjelaskan, sebab itu tidak ada gunanya, dan malah membuat stress. Semestinya catatan tentang tahapan pembuatan baru dibuat setelah kita menguasai proses pembuatannya.

Demikianlah, setiap orang mempunyai kiat-kiat belajar, tetapi untuk seorang pembelajar muda seperti anak-anak, kadang-kadang dia belum mampu menemukan segera kiat belajar yang baik. Oleh karenanya guru harus mengasah ketajaman inderanya. Ketika mengajarkan mereka pembuatan origami (melipat kertas), ajarkan satu tahapan demi tahapan, jangan terlalu banyak menjelaskan dengan kata-kata yang tidak mereka mengerti. Tetapi misalnya : lipatlah kertas menjadi dua, seperti ini. Ujung-ujungnya harus bertemu seperti ini. Sudah bisa ? Kalau belum bisa, mari kita ulangi lagi ! Kadang-kadang jari-jari anak-anak masih sulit dilatihkan untuk mempertemukan kedua ujung kertas, tetapi jangan menyerah. Mereka akan menjadi mahir setelah mempraktekkannya beberapa lembarūüôā

Pengulangan yang sering kadang-kadang membosankan. Guru harus pandai menenangkan murid agar santai, rilaks, dan tentu saja bisa merebut hati murid-muridnya dengan memberikan pujian dan penilaian, misalnya : buatanmu ternyata lebih bagus dari punya ibu guru. Wah, hebat !

Pembelajar pada beberapa sisi mempunyai kesamaan, salah satunya mereka sangat suka dinilai dan dipuji. Coba katakan seperti itu kepada murid anda, yakinlah, pipinya akan memerah, senyumnya tertahan dan hidungnya kembang kempis….banggaūüôā

  1. ide yang keren banget. pembelajaran yang model ini dilupakan oleh banyak orang. saya meyakini pembelajaran sekolah sekolah indonesia banyak ngomongnya dan sedikit hasilnya. ini terbukti sekolah unggulan di indoneisa, khususnya di yogya, modal besarnya terletak diwajah bangunan, mudah-mudahan orangtuapun semakin cerdas untuk menyekolahkan anak-anak mereka supaya lebih berkembang.sementara guru-guru memiliki usaha-usaha konstruktif untuk memikirkan dan melaksanakan cara pengajaran yang baik, sederhana dan dapat menghidupkan, mengembangkan potensi anak-anak secara lebih alami

  2. Betul bgt guruku byk bicarax

  3. apa bedanya pembelajar dengan pelajar? pembelajaran dengan pelajaran? saya bingung, kurang paham bedanya. kalau sama, kenapa yang dipakai dalam tulisan ini, pembelajar?

    • saya ngutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia :
      ajar n petunjuk yg diberikan kpd orang supaya diketahui (diturut);
      berguru kepalang — , bagai bunga kembang tak jadi, pb ilmu yg dituntut secara tidak sempurna, tidak akan berfaedah;
      bel·a·jar v 1 berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu: adik ~ membaca; 2 berlatih: ia sedang ~ mengetik; murid-murid itu sedang ~ karate; 3 berubah tingkah laku atau tanggapan yg disebabkan oleh pengalaman;
      ~ jarak jauh Dik cara belajar-mengajar yg menggunakan media televisi, radio, kaset, modul, dsb, pengajar dan pelajar tidak bertatap muka langsung; ~ tuntas Dik pendidikan (pengajaran) yg dilakukan secara menyeluruh hingga siswa berhasil;
      mem·bel·a·jar·kan v menjadikan bahan atau kegiatan belajar;
      pem·bel·a·jar n orang yg mempelajari;
      pem·bel·a·jar·an n proses, cara, perbuatan menjadikan orang atau makhluk hidup belajar;
      pe·mel·a·jar·an n proses, cara, perbuatan mempelajari;
      meng·a·jar v memberi pelajaran: guru ~ murid matematika; 2 melatih: ia ~ berenang; Kakak ~ menari; 3 memarahi (memukuli, menghukum, dsb) supaya jera;
      meng·a·jari v 1 mengajar kpd: guru ~ siswa berbaris; ayah ~ adik naik sepeda;
      meng·a·jar·kan v memberikan pelajaran kpd: dia yg ~ Sejarah kpd kami;
      ter·pel·a·jar v telah mendapat pelajaran (di sekolah): perbuatan demikian itu tidak pantas dilakukan oleh orang ~;
      ke·ter·pel·a·jar·an n hal terpelajar;
      ajar·an n segala sesuatu yg diajarkan; nasihat; petuah; petunjuk: ia senantiasa memegang teguh ~ orang tuanya; paham: ~ terlarang;
      pel·a·jar n anak sekolah (terutama pd sekolah dasar dan sekolah lanjutan); anak didik; murid; siswa;
      pel·a·jar·an n 1 yg dipelajari atau diajarkan: ~ Bahasa Indonesia; daftar ~; 2 latihan: ~ mengetik;
      ber·pel·a·jar·an v mendapat pendidikan di sekolah: istrinya seorang yg ~;
      mem·pel·a·jari v 1 belajar (sesuatu) dng sungguh-sungguh; mendalami (sesuatu): saya akan ~ ilmu akupuntur; 2 menelaah; menyelidiki: kami sedang ~ rancangan anggaran dasar;
      peng·a·jar n orang yg mengajar (spt guru, pelatih);
      peng·a·jar·an n 1 proses, cara, perbuatan mengajar atau mengajarkan; 2 perihal mengajar; segala sesuatu mengenai mengajar: ~ sejarah nasional sangat diutamakan; 3 peringatan (tt pengalaman, peristiwa yg dialami atau dilihatnya): musibah yg kalian alami itu menjadi ~ bagi kalian;
      ~ mikro teknik pelatihan mengajar yg jumlah muridnya dibatasi, msl 5‚ÄĒ10 orang; ~ remedial pengajaran yg diberikan khusus untuk memperbaiki kesulitan belajar yg dialami murid

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: