murniramli

Diterima atau ditolak : Dilema Penerimaan Siswa Baru

In Dinas Pendidikan Jepang, Manajemen Sekolah, Pendidikan Indonesia, Pendidikan Jepang, Pendidikan Menengah, Penelitian Pendidikan, Serba-Serbi Jepang, SMA di Jepang, SMK Jepang, SMP Jepang on Februari 25, 2010 at 8:48 am

Selama dua hari, dari tanggal 23 sd 24 Februari siswa-siswa SMP di Aichi sedang berkompetisi untuk memasuki SMA-SMA favorit. Dua hari berturut-turut, stasiun Nagoya Daigaku penuh dengan siswa-siswa berbaju sailor biru tua, masing-masing ditemani oleh ibunya atau ayahnya.

Saya kebetulan sedang berkonsultasi dengan seorang professor yang dulunya mantan kepala sekolah di beberapa SMA di Aichi. Perbincangan kami akhirnya sampai pada masalah pelik penerimaan siswa baru. Secara kebetulan juga disertasi saya yang sedang kami bahas menyoroti masalah penerimaan siswa baru di daerah sampel yang saya teliti.

Saya ceritakan bahwa penerimaan siswa baru SMA di Indonesia adalah sebuah kompetisi yang menyebabkan para bapak dan ibu harus libur dari tempat kerja, karena sibuknya mengejar sekolah yang cocok untuk putra-putrinya. Tentunya tak ada masalah bagi orang tua yang mempunyai anak dengan otak cemerlang dan nilai kelulusan yang tinggi. Tetapi “penderitaan” harus dialami oleh orang tua yang putra/i nya berkelas rata-rata atau nyaris di level bawah.

Kondisi persaingan memasuki sekolah di Jepang mirip dengan Indonesia. Bedanya, karena jumlah siswa pendaftar sedikit (akibat populasi muda yang menurun), maka boleh dikatakan ada beberapa sekolah yang rankingnya berada di posisi bawah, hanya mengadakan seleksi formalitas dan menerima semua siswa yang mendaftar.

Ada 5,403 SMA publik di Jepang, dan prefektur Aichi mempunyai 231 SMA. Pilihan SMA didasarkan pada rangking sekolah. The best five adalah SMA Asahigaoka, SMA Toukai,SMA Chuukyoudaigakufuzokuchuukyou, SMA Okazaki, dan SMA Sakuzato. Daftarnya bisa dilihat di link ini.

Kalau diperhatikan, ada beberapa pengelompokan yang disusun di situs tersebut, yaitu 10 sekolah the best berdasarkan prestasi akademiknya, 10 sekolah yang jauh dari stasiun dan sulit dijangkau transportasi, dan 10 sekolah yang dekat dari stasiun. Pengelompokkan lainnya tidak dicantumkan, dugaan saya sekolah-sekolah tersebut rendah dari segi prestasi akademiknya.

Sekolah-sekolah favorit biasanya diminati sekitar dua atau tiga kali lipat kapasitas penerimaan. Sedangkan sekolah-sekolah yang tidak menjadi pilihan biasanya pendaftar pun tidak memenuhi quota. Siswa-siswa berhak memilih dua sekolah. Misalnya siswa yang memilih SMA Asahigaoka sebagai pilihan pertama, dia akan memilih SMA Toukai sebagai pilihan kedua. Siswa yang memilih SMA Toukai sebagai pilihan pertama akan memilih SMA Chuukyou sebagai pilihan kedua dst.

Sekolah-sekolah favorit sangat mudah melakukan seleksi. Sementara sekolah-sekolah underdog biasanya tidak lagi melihat prestasi akademik siswa karena bisa dipastikan mereka termasuk barisan ame (barisan hujan). Ada istilah unik yang diceritakan oleh prof. yang membuat saya terpingkal-pingkal. Barisan ame adalah anak-anak yang nilai ujiannya 1 1 1 1 (menyerupai hujan). Yang punya angka 2 2 2 2 disebut barisan ahiru (bebek), saya lupa istilah untuk angka lainnya. Tetapi kepala sekolah sering berolok-olok di dalam rapat kepala sekolah provinsi: “wah tahun ini sekolah saya menerima barisan hujan”, misalnya.

Di Aichi ada kebijakan khusus The Board of Education (kyouikuiinkai) bagi sekolah-sekolah dengan reputasi rendah (umumnya di wilayah pelosok) untuk tidak menolak siswa jika tidak ada cela yang sangat berat. Cela yang sangat berat itu misalnya merokok atau tergabung yakuza🙂. Jadi, seburuk apapun perilaku siswa yang mendaftar, misalnya siswa laki-laki yang duduk di depan kepsek saat wawancara sambil mengangkang, atau sambil memilin-milin kucirnya, atau ada siswa yang membuang muka saat wawancara, atau yang paling parah, siswa yang menjawab : urusse na (cerewet !!) (ini gaya bicara yang paling tidak sopan), kepala sekolah tsb diminta untuk berlapang dada menerima anak-anak bandel tersebut untuk bersekolah di sekolahnya.

Prof menceritakan hal itu sambil mengenang masa-masa dia menjabat kepala sekolah di sebuah sekolah yang siswa-siswanya berambut pirang (dicat). Setiap hari beliau harus berteriak dan berbicara dengan suara keras supaya tidak terkalahkan oleh anak-anak itu yang tidak pernah berbicara lembut.

Anak-anak seperti itu kondisinya bagaikan dibuang oleh orang tuanya, sebab orang tua pun sudah tak sanggup mendidik mereka. Untuk mencegah terjadinya kriminalitas, maka mereka harus disekolahkan sekalipun sebenarnya mereka barangkali enggan bersekolah. Jadi, ketika mereka datang mendaftar ke sekolah, maka itu adalah sebuah kebaikan, dan sekolah dilarang keras menolak mereka. Kepala sekolah harus melaporkan kepada Dinas Pendidikan jika hendak menolak seorang siswa.

Saya termangu. Sebab kalau itu terjadi di Indonesia, anak-anak bandel dan kurang ajar seperti itu pasti tidak akan diterima di sekolah manapun, sekalipun dia bisa membayar. Tetapi kemudian, siapa yang akan mendidik mereka jika bukan lembaga sekolah. Sekalipun sulit, minimal mereka menamatkan sekolah menengah. Dan kebijakan terima tanpa syarat ditempuh oleh Dinas Pendidikan di Aichi. Dan saya sangat salut dengan dedikasi kepsek dan guru-guru di sekolah dengan reputasi rendah.

Demikianlah, sementara APK SMA/SMK/MA di Indonesia baru mencapai 64.28% di tahun 2008, Aichi telah mendekati angka 97.3%, dan seluruh Jepang telah mencapai 98%. Terobosan perlu dipikirkan untuk mendorong APK SMA/SMK/MA di negara kita.

  1. assalamu’alaikum wr. wb. mbk murni tolong postingin tentang kebiasaan remaja sma dijepang di sekolah dan diluar sekolah dunk cz sya sndri jg msh sma jd pnasaran dtunggu posting nya ya mbk murni terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: