murniramli

Konsiderasi Pendidikan

In Pendidikan Dasar, Pendidikan Indonesia, Pendidikan Jepang, Pendidikan Menengah, Penelitian Pendidikan, Renungan, SD di Jepang, Serba-serbi Indonesia, Serba-Serbi Jepang, SMP Jepang, Taman Kanak-Kanak on Februari 26, 2010 at 11:26 am

Berapa jumlah siswa yang harus mengulang di tahun 2007/2008? Dari 29.498.266 siswa SD, ada 858.424 siswa yang tidak naik kelas,dari 10.961.492 siswa SMP terdapat 46.448 siswa yang mengulang, dan dari 7.353.408 siswa SMA, terdapat 35.052 siswa yang harus mengulang.

Dari segi presentase, angka itu mungkin kecil. Tetapi jika berangkat dari pemikiran bahwa satu jiwa dalam hitungan yang mengulang itu adalah seorang manusia yang membutuhkan pendidikan, maka jumlah pengulang di Indonesia sangatlah besar.

Karena tidak ada sistem pengulangan di sekolah-sekolah di Jepang, maka professor yang berdiskusi dengan saya hari Rabu lalu cukup bingung, dan meminta saya menjelaskan bagaimana perasaan anak-anak yang tidak naik kelas itu ? Apakah mereka tidak merasa shock, malu atau putus asa ?

Saya hanya bisa tergagap, dan kebingungan menjawabnya. Sebab, selama duduk di bangku SD sampai SMA saya belum pernah mengulang. Hanya sekali saja di kelas 1 SD rapor saya banyak merahnya (waktu itu masih ditulis dengan huruf), dan bapak saya membelalak kaget dengan “kebakaran” tersebut. Saya, karena belum tahu apa bedanya hitam dan merah, senang-senang saja, sambil mengatakan : “bukankah ini bagus, Pak. Berwarna- warni. Punya teman saya hitam semua, bahkan ada yang merah semua !” Bapak hanya mengelus dada, dan kemudian meminta tante yang guru matematika untuk mengajari saya berhitung. Selama di TK, saya juga ingat paling buruk dalam hal berhitung. Jadi pantaslah nilai rapor kelas 1 SD saya buruk sekali. Tapi saya belum terkategorikan sebagai siswa yang harus mengulang, jadi saya tidak tahu bagaimana rasanya mengulang.

Tetapi pertanyaan professor dapat saya artikan sebagai beliau hendak bertanya, “Apakah di Indonesia, pendidikan tidak mempertimbangkan perkembangan psikis anak-anak, sebagaimana kami di Jepang sangat menjaga agar anak-anak tidak terlukai hatinya ? Tidakkah pemerintah anda menghargai setahun, dua tahun, tiga tahun, empat tahun, lima tahun atau lebih waktu yang sudah dihabiskan anak itu di sekolah untuk belajar bersungguh-sungguh? Apakah pemerintah anda tidak menyadari bahwa ada anak yang sejak lahirnya mempunyai kelemahan dalam menangkap pelajaran ?

Saya pulang ke ruang kerja saya dengan kepala berdenyut-denyut dan perasaan tak nyaman. Sebab saya tak pernah memikirkan teman-teman yang mengulang sewaktu saya duduk di SD, SMP, dan SMA. Saya dulu bahkan mungkin tak pernah berfikir kenapa ada anak yang lambat sekali mengerjakan perkalian padahal penjelasan Pak guru matematika kami demikian jelasnya, sebab saya hanya sibuk belajar dan belajar.

Sampai ketika menjadi guru madrasah di Bogor, saya masih tidak memikirkan bahwa sistem pengulangan dan tidak naik kelas perlu dibahas. Saya baru menyadarinya ketika pertama kali mengetahui bahwa anak-anak sekolah di Jepang (terutama SD dan SMP) naik kelas secara otomatis, dan ketika saya banyak kali berkunjung ke kelas-kelas SD dan SMP di Jepang, saya merasa ada yang salah dengan pendidikan di negeri kami.

Banyak hal yang perlu dijadikan sebagai sebuah pertimbangan saat mendidik, dan pertimbangan-pertimbangan itulah seharusnya yang mendasari kebijakan pendidikan.

Bahwa anak-anak tidak lahir dengan talenta dan kemampuan yang sama adalah sebuah konsiderasi. Bahwa mereka lahir dalam keluarga yang beragam pun sebuah konsiderasi. Bahwa mereka bersekolah di sekolah yang guru, ruang kelas, buku-bukunya, mutunya tidak sama, adalah sebuah konsiderasi yang sangat perlu diperhatikan.

Dan satu hal yang selalu saja luput dari konsiderasi pendidikan adalah “hati” dan “kejiwaan” anak.

Saya teringat dengan masa-masa SD dulu, ketika nama saya selalu disebut, dan saya berbaris berderet dengan teman-teman yang namanya juga disebut untuk maju dan berdiri di dekat kepala sekolah yang kemudian menyalami kami satu per satu dan memberikan selembar kertas berharga, piagam. Adik saya tidak pernah dipanggil ke depan. Dan karenanya dia bertanya kepada mamak, kenapa namanya tak dipanggil-panggil, dan selalu nama saya atau nama kakak saja yang disebut? Belakangan akhirnya adik tahu bahwa kami mendapatkan ranking, sedangkan dia selalu berada di deretan siswa yang tidak layak dipanggil ke depan.

Teringat itu, saya menjadi kurang nyaman dengan sistem perangkingan. Belakangan hari, ketika saya duduk di bangku kuliah, saya dengar cerita mamak bahwa adik merusak lukisan debog pisang yang saya buat susah payah semasa KKN. Saya tidak tanyakan apa penyebabnya. Tetapi saya khawatir adik sangat benci dan selalu merasa terkalahkan.

Di satu sisi, sistem perangkingan mendorong anak untuk belajar giat katanya. Tetapi di sisi lain, anak-anak belajar bukan untuk mengerti apa yang diajarkan, tetapi untuk mendapatkan rangking itu. Mereka diajarkan kompetisi keras sejak dini, dan ditunjukkan bahwa mendapatkan rangking adalah kedudukan terhormat, dan tidak mendapatkan rangking adalah kedudukan tersingkirkan. Ibaratnya mengatakan, “Jadi, pilih yang mana, Nak, mau jadi orang tersingkirkan atau terhormat ? Apapun sah engkau lakukan, Nak, asalkan engkau dapatkan rangking !”

Kita lupa bahwa pendidikan SD dan SMP adalah pendidikan dasar.Selayaknya anak-anak mendapatkan pengasuhan, pembinaan dan pelatihan otak, badan dan jiwanya sesuai dengan kemampuannya. Dan karena kita menganut wajib belajar 9 tahun, maka jika ada anak-anak yang dinyatakan tidak naik kelas, bukankah sudah melampai batas wajib jika menyuruh mereka belajar lebih dari 9 tahun ?

Saya hanya ingin mengatakan bahwa jika masih dapat diperbaiki, maka mari kita perbaiki salah kaprah pendidikan anak-anak dengan memberikan konsiderasi terhadap perkembangan ketiga dimensi perkembangannya.Anak-anak boleh tumbuh dalam lingkungan yang berbeda, dalam keluarga yang beragam, tetapi mereka tidak boleh berfikiran bahwa mereka berbeda dari segi potensi untuk maju dan menjadi orang yang lebih baik.

Anak-anak yang semestinya mendapatkan perhatian lebih adalah anak-anak yang mengalami keterlambatan menangkap pelajaran. Anak-anak yang berotak cemerlang semestinya dilatihkan kepekaannya agar mempunyai empati untuk mengajar dan memotivasi teman-temannya untuk belajar bersama.

Teman SMA mengatakan bahwa saya dulu sering menjadi tempat bertanya. Saya lupa itu, apakah saya memang sebaik itu dahulunya. Tapi rasanya saya tidak diajari untuk mengajari teman-teman sebaya di SD untuk menjadi paham sebagaimana saya telah paham. Saya teringat mamak. Mamak ternyata lebih berguna bagi teman-temannya ketika bersekolah di Sekolah Rakyat dulu. Kata almarhumah nenek, mamak selalu pulang ke rumah membawa beras, kelapa, duku yang dihadiahkan teman-teman kepadanya karena mamak mengajari mereka menulis di atas batu sabak.

Entahlah saya orang yang sentimental atau tidak. Tetapi saya menangis menulis paragraf terakhir di atas. Semestinya saya diajari untuk menjadi lebih pemurah dulu….

Iklan
  1. Ya, sekarang suda tidak ada rangking lagi Bu. Semenjak kurikulum KTSP. Nilai rata-rata kelas pun sudah tidak ada.
    Mengenai tidak naik kelas, saya justru mendukung. Sebagai guru, saya berpikir sampai belasan kali untuk kemudian memutuskan anak tidak naik kelas. Termasuk sisi psikologisnya. Percayalah, terkadang justru tidak naik kelas itu malah keputusan yang tepat. Pertama, di kelas yang selanjutnya, dia akan semakin down, semakin tidak dapat mengejar, dan semakin malu dengan kenyataan bahwa dia semakin jauh tertinggal dari temannya. Kedua, terkadang jadi bahan pelajaran dia juga. Pernah saya menghadapi seorang anak yang gak bodoh, tapi malasnya keterlaluan. Mentang-mentang orang kaya. Gak mau tau apa-apa. Saya sudah memperingatkan dengan berbagai macam cara sejak awal semester kedua, tetap saja begitu. Setelah akhinya benar-benar gak naik kelas, baru dia sadar dan mau merubah dirinya.
    Mengasuh tidak hanya dengan pujian dan dorongan, ketegasan dan konsistensi butuh juga bukan?

  2. Dan Bu, ingat kan kalo sifat orang beda-beda. Saya tak dapat membayangkan jika di Indonesia semua anak pasti naik kelas, bisa-bisa pada ogah belajar lagi. Saat anak-anak saya kelas 6 belum tahu bahwa anak SD pasti lulus seberapa buruk pun nilai UN-nya, karena alasan bahwa masuk pada wajib belajar, mereka mau berusaha. Tapi setelah mereka tahu bahwa mereka pasti lulus, beberapa anak berubah kembali masa bodoh. Gurunya udah ngos-ngosan, ibunya sampai berhenti kerja untuk dia, anaknya kalo diajak ngomong cuek aja bilang: ah, orang pasti lulus ini.

  3. @Bu Alfi : Syukurlah kalau tdk ada sistem rangking lagi.
    Memang sulit menyamakan situasi di Jepang dg di Indonesia. Boleh jadi anak-anak di Jepang karena sudah dibiasakan tidak ada sistem rangking dan tinggal kelas, maka mereka menjadi malas belajar. Tentu saja tidak semua hasil kebijakan di sekolah Jepang adalah baik untuk semua anak. Ada juga anak-anak yang memang tidak bisa lanjut dan putus sekolah sampai SMA karena memang tidak mampu dari segi akademik.
    Kalau pergi ke desa-desa di Jepang, maka jangan heran ada anak SMA yg mungkin tidak bisa membaca. Saya pernah menuliskan di blog ini bahwa saya pernah bekerja dg anak lulusan SMP yg tidak bisa menghitung dg benar.
    Lalu, saya tanyakan kenapa ada kasus seperti itu? kenapa dia diluluskan kalau tidak bisa berhitung? Jawabnya, sekalipun tidak diluluskan, anak itu tidak bisa mengikuti pelajaran di sistem persekolahan normal bersama dg anak-anak lain. Jadi, dia diluluskan dg catatan orang tua masih perlu mengajarinya berhitung.

    Saya juga sama seperti Bu Alfi pernah harus berhari-hari tidak bisa tidur ketika harus memutuskan seorang siswa saya di madrasah untuk tidak naik kelas.Anak yg kemudian diputuskan tidak naik itu, pada akhirnya tidak mengalami perkembangan berarti di kelas yg sama (bisa jadi kami kurang tekun mendidiknya), dan kami akhirnya meluluskannya karena dia tidak memerlukan kemampuan akademik tinggi, sebab orang tuanya tidak mempunyai cukup uang untuk menyekolahkannya ke PT. Orang tuanya hanya mengharapkan dia segera bekerja, dan dia hanya perlu selembar ijazah. Dalam masalah ini, saya pikir mungkin kami (dewan guru) telah salah memutuskan dia untuk menghabiskan setahun lagi di sekolah (menjadi 4 tahun), atau kami sudah salah mengarahkan si anak yg seharusnya masuk ke STM saja? Tetapi beberapa orang tua memilih sekolah kami karena murah.

    Saya setuju mengasuh perlu ketegasan dan konsistensi. Saya melihat itu juga dilatihkan kepada anak-anak Jepang, misalnya jk anak-anak tidak mengerjakan PR, maka dia akan dipanggil guru pada jam istirahat, dan diminta mengerjakan PR saat itu juga dg bimbingan gurunya secara langsung. Anak-anak yang melanggar aturan bermain, diminta untuk minta maaf kepada teman-temannya di depan kelas. Guru-guru tetap konsisten, menghukum yang bersalah dan memuji yang seharusnya dipuji (tentu saja tidak semua guru demikian).Entah bagaimana mereka mendidik siswa-siswa tsb, tetapi semuanya patuh melakukannya.
    Kalau mau dicermati lebih jauh, ada saja anak yg malas belajar dan lebih suka bermain atau berlatih olahraga. Anak-anak demikian, tentu saja nilai ujiannya buruk, tetapi nilai olah raganya sangat baik. Biasanya orang tuanya diajak untuk berdiskusi supaya ikut membimbing anak di rumah. Tapi ada saja kasus orang tua yg enggan.
    Anak-anak yg prestasi olah raganya bagus, umumnya akan masuk ke SMP yg juga mempunyai pembinaan olahraga yg baik, dan seterusnya ke jenis SMA yg sama atau bahkan ke PT yg bagus pula pembinaan OR-nya.

    Saya tidak menyalahkan anak yg tidak mau belajar karena alasan pasti lulus UN.Anak itu tidak salah, bukan? Murid2 saya di MA dulu juga berfikir demikian. Tidak usah belajar, toh nanti ada guru yang nyebarin contekan. Tetapi anak2 tsb sdh dewasa, dan mereka tinggal di pesantren, maka sebagai guru memang kami tdk punya daya menghalangi guru dari sekolah lain mengajarkan jawaban soal saat ujian berlangsung, tp anak-anak itu kami pesankan, bahwa kebodohan yg kalian lakukan saat ujian dg menerima contekan dan tidak belajar dg sungguh-sungguh adalah penyesalan yg akan menghantui kalian sepanjang hidup ! Sy tidak tahu apakah mereka benar2 tidak menyontek, tp kami sudah mendidik mereka untuk menghargai kerja keras.

    Saya pikir sistem UN, kalau toh tetap diterapkan, maka hendaknya bukan menjadi persyaratan lulus, tetapi seperti tujuan pemerintah, hanyaalh sebagai alat u memetakan kualitas pendidikan.
    Sekolah tetap harus mengembangkan sistem ulangan yg kontinyu yg bisa dipakai untuk mengukur kemampuan anak secara real.Saya lebih percaya dg sistem tes kecil, ulangan harian, PR sebagai bentuk penilaian terbaik, dan semestinya ini yg dilaporkan kepada ortu, dan dilihat oleh SMP-SMP. Bukan hasil UN.

    Sekarang di SD Jepang juga ada UN, tetapi bukan persyaratan kelulusan, sebab semua lulus otomatis. Dan mereka berhak diterima di SMP di mana mereka tinggal, sebab ada sistem rayonisasi.Sekolah-sekolah yg menolak akan dituntut di pengadilan. Dengan pemberlakuan UN itu, pemerintah ingin mengetahui sudah sampai sejauh mana kemampuan anak-anak SD di Jepang. Saya lihat orang tua Jepang semakin sibuk mengirim anaknya ke cram school.Saya pikir bukan karena masalah lulus atau tidak, tp orang tua benar-benar ingin jaminan bahwa anaknya mengerti
    mata pelajaran dasar.

    Jadi, kebijakan UN dan kelulusan perlu ditinjau kembali. Dan sayang sekali kalau motivasi belajar anak-anak menjadi turun hanya karena tau bahwa mereka semua pasti lulus. Saya pikir mungkin perlu mengembalikan niat belajar mereka bukan untuk lulus, tapi untuk menjadi paham ilmu, anak-anak perlu tahu bahwa yg penting adalah kerja keras, bukan lulus atau tidaknya.sekalipun ini susah sekali dijalankan, tp saya yakin Bu Alfi bisa 🙂

  4. Wah, mengenai UN itu mah udah habis rasanya serak ngoceh seperti yang Bu Murni bilang. Tapi toh pemerintah masih melaksanaannya sampai hari ini, walaupun MK memutuskan udah gak ada. Dan sebenernya, itu hanya satu contoh saja. Karena saya hari ini sungguh menyesal telah menaikan anak yang bersangkutan ke kelas 6 pada akhir tahun ajaran lalu. Saya melihat, dia sudah banyak berubah, nilainya masih jauh dari yang seharusnya. Bisa dikatakan, saya berdiori dan memperjuangkan anak itu agar naik kelas atas dasar perkembangan terakhir. Ternyata begitu naik kelas 6, dia kembali lagi tidak hanya masalah akademik, tapi sikapnya makin parah. Kembali membully adik-adik kelasnya. Kasus terakhir, dia dipanggil karena menghina-hina guru di facebook. Tentu gak sampai dikeluarkan karena dia masih SD jadi kami harus bertanggung jawab memperbaiki prilakunya.

    Tapi, apapun keputusan, baik naik atau tida, tidak dapat mengatakan bahwa gurunya sama sekali tidak memperhatikan psikologis sang anak, bukankah begitu? Itu kan yang ibu awalnya bahas? Dan saya pun pernah menuliskan di blog saya tentang seorang anak kelas 5 sama sekali gak kenal huruf. Dia naik kelas terus. Tidak ada satu orangpun yang tidak naik kelas di sekolah itu. Sebab jika tidak naik, ortu mereka akan engeluarkan mereka dawri sekolah. Maka, masalah naik atau tidaknya, itu tidak pernah saklek.

    Seperti pertanyaan profesor ibu, apakah sekolah di indonesia tidak menghargai kerja keras setahun dua tahun anak. Oh, ya.. Sangant menghargai. Walaupun bahkan jika dia tidak mencapai hasil yang diharapkan, tapi selama dia bekerja keras berusaha, pasti ada harganya. Makanya kalo dulu ada yang namanya sistem katrol, naik percobaan dst.

  5. @Bu Al : Saya baca ulang lagi tulisan yg saya buat, dan saya cek kembali apakah sy menyatakan bahwa guru sama sekali tidak memperhatikan psikologis anak ketika memutuskan tidak naik kelas.
    Saya tdk menuliskan dan menyimpulkan seperti itu. Saya cuma menginterpretasikan pertanyaan dari professor dalam bentuk pertanyaan jabaran. Dan jawaban dari pertanyaan tsb tidak ada yg mengarah kepada pemojokan bahwa guru tdk memperhatikan psikologis anak.
    Yg ingin saya tegaskan dalam tulisan di atas adalah perlunya konsiderasi pendidikan terhadap kebijakan yg diterapkan di sekolah yg kesemuanya pada dasarnya bersumber dari kebijakan yg ditetapkan pemerintah.
    Jika kebijakan itu dikeluarkan tanpa konsiderasi thd tiga dimensi perkembangan anak (tubuh, otak, dan jiwa), maka kebijakan tsb semestinya ditinjau kembali.
    Ini yg ingin saya angkat.

    Apakah pendidikan di Indonesia tidak menghargai kerja keras ? Mohon dibaca lagi, itu bukan pertanyaan professor.Professor hanya menanyakan bagaimana perasaan anak2 yg tidak naik kelas tsb. Dan saya mengintrepretasikan pertanyaannya tsb dg intrepretasi yg sangat dalam (barangkali).

  6. Di sekolah kami anak-anak naik otomatis. Selalu ada anak kelas 1 yang mencapai target pembelajaran, jauh di bawah standar. Kami tetap menaikannya ke kelas 2, karena ada sejuta harapan: si anak ketemu waktunya untuk berubah; temannya berubah; orangtuanya berubah; televisi berubah; muncul penemuan baru berkaitan metode pembelajaran; koalisi benar-benar bubar, menteri pendidikan diganti; gurunya diganti; musim kemarau segera datang, dll. Di kelas 2 sang Anak berlaku sama, kami menaikannya ke kelas 3 karena kami yakin telah menyelengarakan sekolah yang membuatnya memiliki harga diri, seperti yang lain: bebas berekspresi, riang setiap hari. Ada yang berubah setelah ibunya menikah lagi; ada yang berubah karena begitu saja ia memutuskan untuk seperti teman lainnya senang belajar; ada yang berubah di kelas 2, 3, 4, 5, dan ada yang berubah baru beberapa pekan yang lalu, beberapa pekan sebelum UASBN. Beberapa, sungguh, berubah –sekalipun sudah kami upayakan mati-matian pun tetap di bawah standar kelulusan– setelah mereka masuk SMP. Kenapa? Mereka sudah puas dengan penghormatan yang kami berikan, kenal 100% siapa kami guru-guru yang memuliakannya, dan ketika guru-guru di SMP dan sekolah memberllakukan hal yang berbeda, mereka kuat menghadapinya. Bagaimana tidak kuat, lha wong sudah puas jadi diri sendiri selama di SD.
    Saya bersumpah kepada Anda, cara kami tidak pernah membuat anak-anak bangkrut karakternya. Anak-anak jadi pembelajar seumur hidup itu bukan karena hal-hal yang kita ributkan di sekolah, tapi karena kita menghargai individualitas dan membiarkan serta mampu mmengelola kelas dengan siswa yang belajar dengan gaya belajarnya. Setiap orang yang sudah belajar dengan gaya belajarnya, adalah orang yang telah menjadi dirinya sendiri. Ah jadi ngelantur… sebel saja sih, yang seharusnya tidak naik kelas itu adalah guru yang membuat ada anak-anak yang tidak pantas begini-begitu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: