murniramli

Gokurousamadeshita : Ramahnya supir taksi Jepang

In Renungan, Serba-Serbi Jepang on Maret 3, 2010 at 2:01 pm

Sekali seminggu saya harus menggunakan taksi untuk pergi mengajar di suatu tempat yang lumayan jauh dari kediaman. Biasanya saya harus naik kereta jam 16.26 supaya dapat sampai di stasiun tujuan jam 17.11, dan kemudian naik taksi jam 17.15 agar tiba tepat pukul 17.30 di sebuah kantor yang ada di ujung kota.

Pernah sampai dua kali seminggu saya harus mengajar di tempat yang sama, dan supir-supir taksi di sekitar stasiun Nishio kelihatannya sudah hafal dengan rutinitas itu. Saya kadang-kadang tidak perlu menyampaikan alamat tujuan, mereka segera menebak dan berkata halus : “haik, doa o simemasu” (pintunya saya tutup). Lalu sedetik setelah pintu tertutup secara otomatis, muncullah suara yang menurut saya lucu mengumumkan agar kita memasang sabuk pengaman.

Di setiap taksi, di belakang kursi supir biasanya ada kertas berlaminating yang bertuliskan nama supir, hobinya, dan nomor telpon perusahaan. Hobi mereka lucu-lucu : ryoko (jalan2), golf, karaoke, doraifu (menyetir), yakyuu (baseball), uta (menyanyi), dan masih banyak lagi. Umumnya mereka adalah pensiunan atau anak-anak muda lulusan SMA. Saya lebih suka supir taksi bapak2 tua karena mereka biasanya menyetir dengan santun, sementara anak-anak muda lebih suka mengebut. Beberapa kali pula supir taksinya perempuan. Biasanya mereka santun dalam berkendara dan sangat peramah, mengobrol sepanjang jalan.

Karena tidak ada taksi yang lewat depan kantor tempat saya mengajar, maka biasanya saya selalu berpesan kepada supir taksi untuk menjemput lagi 2 jam kemudian. Biasanya pesan taksi seperti ini akan kena charge 110 yen. Sekalipun saya mengeja nama saya lambat-lambat, belum pernah ada supir taksi yang benar dalam menuliskannya. Saya acuhkan saja, yang penting dijemput:-)

Kalau berangkat, saya biasanya tidur-tidur ayam selama 15 menit sebelum sampai di tempat mengajar, tapi dalam perjalanan pulang umumnya tidak bisa tidur, karena pak supir selalu mengajak mengobrol. Di antara mereka pernah sekali saya bertemu dengan bapak supir yang sudah putih rambutnya yang mengajak bicara sejak saya naik sampai kami tiba di stasiun. Pembicaraannya tentang korban gempa di Haiti dan perananan Jepang. Saya pikir, barangkali pak supir taksi adalah politikus ulung dahulunya atau salah satu pengurus partai di desanya.

Setibanya di stasiun, supir-supir taksi tua selalu mengucapkan : “gokurousamadeshita, o ki o tukete”, setelah menerima pembayaran, dan saya mengucapkan terima kasih. Kadang-kadang mereka tambahi, “nimotsu o wasurenaiyouni” (jangan lupa barang bawaan anda), atau “mata yoroshiku onegaishimasu” (kami tunggu kedatangan anda kembali). Ucapan itu mungkin biasa saja. Tapi coba kita perhatikan sikap mereka. Tak pernah mereka menengokkan kepala saja ketika mengucapkan ini, tapi selalunya badan mereka ikut menengok. Saya selalu melambung dan terharu ketika menerima ucapan ini.

Saya kesulitan menerjemahkan ungkapan gokurousamadeshita ke dalam bahasa Indonesia. Yang saya tahu kata “kurou” bermakna usaha/berusaha, sedangkan penambahan kata “go” adalah bentuk sopan. Kira-kira mereka hendak mengucapkan apresiasi yang tinggi atas kerja keras yang telah saya lakukan hari ini. Entahlah bagi orang lain, tapi rasanya hilang penat seketika dengan ucapan santun seperti itu.

Supir taksi kemarin sore adalah seorang yang paling santun yang pernah saya temui selama ini. Ketika saya naik, dia menengokkan badannya, membungkuk dan tesenyum ramah memperlihatkan gigi-giginya yang kecil. Matanya kecil sebagaimana orang Jepang, di balik kaca mata. Suaranya halus, sampai-sampai saya mengira beliau perempuan. Tapi dari gerakannya beliau adalah laki-laki. Dengan santun, dia memberitahukan bahwa pintu akan dia tutup, lalu di tengah jalan untuk memecahkan kebisuan, terdengar suaranya seperti berbisik :”oshigoto taihen desu ne” (bekerja berat ya), dan saya mengiyakannya. Setelah itu senyap. Saya tidak melanjutkan pembicaraan karena saya sedang batuk. Rasanya jika mengangkat suara, maka batuk pun akan keluar bersamaan. Tidak hanya santun, dengan baiknya beliau mematikan argometer di pengkolan ketika kami harus menunggu lampu merah beberapa saat sebelum kami mencapai stasiun. Saya membayar 1910 setelah ditambah 110 yen, lebih murah dari biaya yang biasa saya bayarkan. Saya ucapkan terima kasih, dan terdengar balasannya yang paling sopan, “gokurousamadeshita”. Saya keluar dari taksi dan membungkuk hormat sambil mengucapkan arigatougozaimashita.

Keramahan sudah selayaknya dibalas dengan keramahan yang lebih.

Iklan
  1. Assalamu’alaikum mbak…
    maaf, mau nanya nih, kalau mau ambil S1 di salah satu universitas di jepang, ada batasan umurnya gak ? terus syaratnya apa aja ya ?
    makasih atas bantuannya..

  2. wa alaikum salam
    Sepertinya ada. Syaa tdk yakin.
    Tp S2 tidak ada batas umur.
    Persyataratan : lulus seleksi administrasi dan ujian masuk PT. Jika mahasiswa asing, ada biaya sekolah/beasiswa. Untuk S1, umumnya mahasiswa asing perlu mengikuti setahun pendidikan bahasa Jepang sebelum mengikuti ujian masuk PT.Lainnya silakan dicek di situs kedubes Jepang

  3. Hmmm.. senang dan damainya kalau semuanya sopan seperti bapak supir taksi itu…

  4. Salam knal ibu/kak ngajar d jepang ya, mengajar apa d sana?…thx,s

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: