murniramli

Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung

In Renungan on Maret 6, 2010 at 12:48 pm

Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Saya sering berfikir bahwa saya termasuk orang yang gampang sekali beradaptasi. Masalah makanan yang sering menjadi hambatan yang dibicarakan orang setiap pergi ke sebuah tempat, tak pernah menjadi masalah utama, sebab saya bisa makan apa saja, kecuali yang memang dilarang. Karena saya lahir dan dibesarkan di tanah Bone, maka saya sangat suka ikan, dan lidah merasa asing ketika di tanah Jawa selama beberapa hari saya harus makan tempe. Tapi pada akhirnya saya seakan mewajibkan tempe sebagai teman sarapan. Ketika berada di tanah Sunda, saya muntah ketika pertama kali makan karedok, tetapi akhirnya setiap minggu saya pasti nongkrong di warung belakang kost, saya ketagihan. Dan di tanah Jepang, ketika jamaknya orang Jepang telah menyimpulkan bahwa orang asing tidak suka makan natto, saya malah suka memakannya.

Tidak hanya makanan, pikiran/konsep berfikir pun gampang sekali berubah. Perilaku yang berubah di sebuah negara yang ditinggali barangkali dipengaruhi oleh makanan yang dimakan. Karena terlalu menyenangi makan sashimi dan boleh dikatakan tidak ada makanan Jepang yang tertolak oleh perut saya, maka pikiran saya pun barangkali telah terjajah oleh pemikiran kebanyakan orang Jepang.

Saya mulai menganggap tabu orang yang tidak mau antri. Saya mulai senang mengomel pada setiap acara yang dilakukan masyarakat Indonesia ketika sampah tidak dipisahkan dengan benar. Saya mulai ikut-ikutan melihat dengan sinis kepada orang-orang yang mengobrol dengan suara keras di dalam kendaraan umum.

Ketika di Jepang orang-orang tidak ramai membicarakan sekolah bertaraf internasional atau kelas internasional atau perlunya lembaga sekolah mendunia, saya terbengong-bengong dengan RSBI yang muncul di Indonesia. Ketika standardisasi pendidikan diberlakukan di tanah air, saya terheran-heran karena itu tidak ada di Jepang. Ketika di Jepang tidak diberlakukan sistem tinggal kelas untuk SD dan SMP, saya mulai terusik dengan sistem yang dulu saya akui benar.

Kacamata saya untuk menilai Indonesia hanya satu. Kacamata Jepang. Pembanding saya untuk mengkritisi Indonesia hanya satu. Negara Jepang. Pola pikir saya untuk menganalisa Indonesia hanya satu. Pola pikir orang Jepang.

Barangkali kalau saya mendapatkan beasiswa ke Amerika, maka saya akan menjadi Amerika.Dan saya akan ketagihan hamburger.

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.

Staf di tempat saya mengajar sering mengatakan : anda lebih Jepang daripada orang Jepang, ketika saya membungkuk 90 derajat dan menggunakan bahasa halus dengan baik. Saya merasa barangkali saya telah berlebihan menjunjung langit Jepang, tetapi kalau dipikir-pikir lagi, saya belumlah menjadi orang Jepang sebenarnya, dan saya tak ingin itu.

Orang, alam, dan makanan Jepang boleh saja telah mengubah jiwa dan perasaan saya, namun, mereka tidak bisa mengubah sedikit pun fitrah yang telah digariskan : agama dan keyakinan saya.

Dasar berfikir pertama yang saya pijaki ketika menghadapi masalah tetaplah hukum-hukum agama saya. Langit sebuah negeri bolehlah dijunjung, tetapi agama dan keyakinan tetaplah harus dijunjung lebih tinggi di atasnya.

Yaa muqallibal quluub, tsabbit qalbiy alaa diinika.

Iklan
  1. Subhanallah…mantabbb mbak…

    Memang dimanapun kita berada, agama harus yang jadi utama. Mau di dalam maupun di luar negeri, kita tidak noleh lupa bahwa kita orang yang beragama..

    maaf mbak, saya mau bertanya, kalau di orang-orang Jepang itu toleransi terhadap agamanya bagaimana ya mbak?

    arigatou sebelumnya ^_^
    tetap menulis ya mbak, saya slalu menunggu tulisan-tulisan mbak..

    ganbatte kudasai!

  2. […] Go here to read the rest: Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung « Berguru […]

  3. sifat adaptasi mbak luar biasa. saya pernah ke Jepang 1 bulan dan terkagum-kagum dengan perilaku dan budaya mereka yang luar biasa, misalnya budaya antri, budaya on time, keramahan mereka, berlalu lintas dengan tertib. Dan hal2 tsb jika dibandingkan dengan kondisi di Indonesia, rasanya saya mau teriak, mengapa sih, gak ada yang mau menerapkan budaya2 baik itu?

  4. Assalamuallaikum wr. wbr …Salam kenal…Saya Sering mengunjungi blog ibu … tulisannysa sangat mencerahkan dan memberi motivasi pada saya, salah satunya mendorong saya membuat blog tentang pendidikan ..Sukses selalu ..saya juga seorang guru … ngomong-ngomong gimana caranya agar dapat mengikuti test belajar ke Jepang..

  5. Assalamu’alaikum….shahabatku yang dirahmati Allah…alhamdulillaah…akhirnya kita diijinkan allah untuk ketemu…meski di dunia maya…Kaifa haluk ukhti? wis suwe gak weruh kabarmu….aku hanya tau murni di Jepang….ternyata beberapa temenku yang di jepang tau murni katanya, ada yang bilang coba kunjungi web ini…kucoba…ketemu deh…Betah banget kayaknya ya? Gak pengen balik ke tanah air? aku masih sering ketemu heni…maklum podho gurune…keep contact ya…

    • @ Indah : wa alaikum salam warahmatullah.
      Lamaaa sekali tdk ketemu yo, Ndah. Saya dua kali ke Bogor, cuma sempat ketemu Heni. Insya Allah pulang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: