murniramli

Guru Senior dan Guru Junior

In Pendidikan Jepang, Serba-Serbi Jepang on Maret 9, 2010 at 5:19 am

Ibu Selly, seorang guru di Bogor menanyai saya tentang bagaimana sikap guru senior kepada junior dan sebaliknya di sekolah-sekolah Jepang. Pertanyaan itu muncul sebab saya menuliskan dalam email, bahwa kalau ingin mempelajari keberhasilan pendidikan Jepang, maka kita harus belajar kepada guru-guru seniornya yang kira-kira berumur 50 tahun atau sudah pensiun. Saya pun menuliskan seandainya saya ada waktu saya ingin belajar kepada guru-guru senior di Indonesia.

Ibu Selly kemudian bercerita bahwa ada beberapa kasus di Indonesia, ketika guru muda masuk, guru senior merasa tersaingi dengan jiwa, semangat dan antikemapanan yang dibawakan oleh guru-guru muda. Akibatnya muncullah cap sebagai pemberontak, pembangkang terhadap sistem.

Saya kebetulan beberapa hari lalu menerima laporan yang dibuat oleh seorang guru junior ketika dia menjalani masa training setahun di sekolah pada awal masa kerjanya. Dari laporan itu saya menangkap bahwa tradisi pelatihan guru muda di Jepang tidak berubah, bahwa setahun pertama semua guru fresh graduated harus menjalani in-service training, yaitu berupa mengenali semua tugas dan kewajiban administratur sekolah (kepala sekolah, wakasek, dan pejabat lain), serta memahami tugas guru. Laporan yang ditunjukkan kepada saya membuat saya terbelalak, sebab sang guru menuliskan secara detil apa saja kegiatan yang harus dilakukannya detik per detik sejak dia datang ke sekolah hingga pulang. Dan yang lebih mencengangkan, dia telah mengamati seharian kerja wakasek, sehingga secara detil mengurutkan apa yang harus dilakukannya setiap hari. Di sekolah-sekolah Jepang, orang yang paling sibuk sehari-harinya adalah wakasek. Wakasek hanya ada satu orang, dan dia yang bertugas mulai dari mengecek bel sekolah sampai melaporkan kegiatan harian kepala sekolah.

Barangkali tidak sama dengan Indonesia yang guru-guru mudanya lebih “berani” berkata keras atau berselisih paham dengan guru senior, di Jepang hal ini hampir tidak pernah ditemukan. Tradisi yang kuat berakar bahwa senior harus didengarkan dan dihormati masih terus dipegang, dan orang yang menentangnya akan segera dikucilkan.

Lalu bagaimana kalau berselisih paham? Jika memiliki ide baru, si guru muda harus membuktikannya dalam perbuatan dulu. Maksudnya tidak sekedar dalam taraf ucapan, tapi harus sampai pada taraf aplikasi. Dan satu hal yang harus diingat, kalimat dan ucapan yang harus dipergunakan ketika berbicara dengan guru senior adalah kalimat yang sangat sopan. Biasanya lulusan perguruan tinggi telah belajar sistem penghormatan kepada senior di level SMA dan di PT.

Sama halnya dengan Indonesia, tidak semua guru senior di Jepang adalah guru yang baik. Tetapi sistem pendidikan guru dan perekrutannya sudah diusahakan baik, maka harapannya jika sistem berjalan baik, tentunya akan meraih sukses seperti yang dimaui. Ibaratnya kita membicarakan hukum pemberantasan korupsi, jika hukumnya telah baik, maka tinggalah mendidik agar oknumnya 50% lebih mematuhi dan menjalankan hukum itu. Dan saya berani menyimpulkan bahwa 50% lebih guru Jepang menjalankan sistem dengan baik.

Guru senior berkewajiban mendidik guru junior. Tentu saja jika guru seniornya kurang baik, maka hasilnya bisa saja guru junior pun kurang baik, atau bisa juga guru junior mampu memperbaiki diri. Tapi pola pembinaan senior junior adalah mutlak dilakukan.

Kemarin saya mendapatkan cerita seputar kepala sekolah-kepala sekolah yang mempunyai jaringan bagus dan pertemanan yang baik. Mereka bahkan setiap tahun selalu mengadakan rekreasi bersama. Kepala-kepala sekolah ini adalah guru-guru yang mempunyai masa kerja hampir bersamaan, artinya mereka menjadi guru dalam usia yang hampir sama. Dan proses pengangkatan mereka sebagai kepala sekolah, didahului dengan proses menjalani tugas-tugas penanggung jawab, misalnya PJ kesiswaan, PJ bukatsudou, dll, lalu naik menjadi wakil kepala sekolah dalam usia 40 tahunan. Setelah sekitar 10 tahunan menjalani masa sebagai wakasek, biasanya mereka akan diangkat menjadi kepala sekolah hingga pensiun pada usia 60 tahun (sekarang telah bertambah menjadi 65 th). Para kepala sekolah tersebut saling memberikan bimbingan kepada juniornya selama mereka menjalani proses kenaikan jenjang. Mereka selain membantu membimbing juniornya yang akan menjadi wakasek, atau yang akan menjadi kepsek, merayakan koleganya yang memasuki masa pensiun, juga terus berdiskusi untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi pendidikan Jepang.

Guru-guru senior diakui karena pengalamannya. Boleh jadi guru-guru junior mempelajari ilmu-ilmu baru di bangku kuliah, tetapi guru-guru senior telah menghafal prinsip-prinsip mendidik dan menjiwai pekerjaannya lebih lama. Masyarakat Jepang lebih menghargai pengalaman daripada pendidikan seseorang. Karenanya saya belum pernah bertemu dengan kepala sekolah di Jepang yang merupakan lulusan doktor. Kebanyakan mereka adalah lulusan Sekolah Guru atau lulusan S1 yang merintis karirnya sejak usia 22 tahun. Sama dengan jenjang kepegawaian lainnya, sistem penggajian juga mengikuti jenjang senioritas.

Dalam proses belajar di Jepang, saya kadang-kadang bertabrakan pendapat dengan beberapa dosen dan rekan-rekan. Di lingkungan pekerjaan pun demikian. Tetapi saya cukup memahami sekarang, bahwa keberhasilan itu diraih dengan banyak mendengar dan merenungi kedalaman makna sebuah pendapat. Saya tidak mengatakan bahwa sistem senioritas di Jepang adalah yang terbaik untuk ditirukan di Indonesia, tetapi sikap manusia untuk menghormati yang lebih tua adalah prinsip agama manapun. Sebagai orang muda, kami semestinya dididik untuk menjadi pembelajar yang kaya akan kesabaran dan tidak mudah menyerah.

Iklan
  1. Wa, Bu Murni, di tempat saya malah lagi ada masalah dengan guru…nah bingung ini dibilang senior atau junior, yah… Beliau guru sudah berpengalaman mengajar, tapi baru di sekolah kami. Beliau dari SD Negeri sekarang tau tau nongol di sekolah yang semi alternatif gini. Kerjaannya marah marah aja semua kena marah karena menurutnya kita jadi guru terlalu preman, tidak menjaga wibawa, dlll…. Pusing juga, yah…. Anak anak juga akhirnya kerjaannya ngelawan aja sama beliau karena gak biasa harus duduk diam nulis lama-lama.

    Tapi, yah… Seperti Bu Murni bilang. Biar diomlin tiap hari, kami berusaha menghargai pengalaman dan pengabdiannya selama ini… 🙂

  2. @ Bu Al : Wah, mestinya sekolahnya Bu Al bikin aturan : guru baru harus ngikut aturan penghuni lama hhehehe….

  3. Mba Mur.. makasih banyak ulasannya. sebagai guru, rasanya saya ingin jadi junior terus supaya bisa belajar sabar, menghargai orang lain, mendengar, mengamati dan mengamalkan yang baik-baik saja… 😀

  4. Mestinya guru senior harus baca ini supaya arif dengan “ketuaannya”, dan yunior juga tidak lupa baca ini agar tahu dengan kemudaanya. Tidak seperti yang pernah saya lihat di suatu sekolah dimana yang tua angkuh dengan keseniorannya dan yang muda sombong dengan ilmunya

  5. Buk Mur..saya mau tanya bagaimana cara penetapan guru senior dan junior itu, karena di sekolah tempat saya ngajar sekarang saya ini termasuk senior dilihat dari golongan dan masa jabatan, tapi anehnya orang dari dinas mengatakan senior itu berdasarkan lamanya seseorang masuk bertugas di sekolah tersebut,kebetulan saya ini beberapa kali pindah antar propinsi…Mohon dibalas

  6. @Ibu Zulfa : Saya tdk tahu dengan kondisi di Indonesia, tetapi di Jepang, semua yg lebih muda dianggap kouhai (junior) dan yang lebih tua dianggap senpai (senior). Tdk ada pengelompokan secara khusus.
    Jadi jk seorang guru berusia 30 th, dia adalah senior bagi guru yg berusia 23~29 th, dan sekaligus adalah junior dari guru yg berusia 31 th ke atas.
    Saya membuat definisi dan penggolongan usia guru senior dalam tulisan di atas untuk menggambarkan kondisi di Jepang.
    Btw, di Jepang penggolongan senior berdasarkan masa kerja.

  7. Mbak Murni, apa berarti semua yang senior kita katakan harus kita kerjakan? Saya sependapat dengan Mbak Murni dan “guru-Guru Jepang” bahwa sebagai junior kita bisa belajar dari para Senior…. Ini saya alami, sebagai pendatang baru, saya belajar dan senior saya sangat kompeten, beruntung saya bisa belajar dari beliau…. Tetapi terkadang, kita pingin juga diberi kepercayaan untuk bisa “pegang” kelas sendiri…. Bagaimana pendapat Mbak Murni? Lalu apa pendapat Mbak Murni ttg co-teaching… 🙂

    Mbak Murni, boleh sy minta email anda? Sy mo konsultasi nih….

    Terimaksih

    #Sylvia

  8. @Mba Sylvia : Ndak semua mesti dikerjakan.Kalau yg diajarkan salah ya ndak dikerjakan. Umumnya guru senior memberikan advise saja dan bukan pakem, jadi masih ada peluang kita mengubah anjuran/nasehatnya sesuai dg keadaan. Co-teaching pernah saya bahas di blog ini, tp luma tulisan yg mana 🙂
    Mnrt saya itu baik krn bisa sbg simbiosis mutualisme antarguru. Dan bagi sekolah2 dg jumlah guru banyak, ini juga menjadi salah satu jalan u memenuhi target mengajar 24 jam /minggu sesuai persyaratan sertifikasi guru.
    Di Jepang banyak diterapkan co-teaching. Biasanya u kelas-kelas dg anak2 yg “unik”, misalnya kurang cepat menangkap pelajaran, atau lebih suka jalan2 di kelas 🙂
    Email saya ada di HOME, Mbak
    Silakan…

  9. mohon ijin memuat tulisannya untuk dimuat di media pendidikan ganesha, media kecil PGRI Ciamis, untuk menambah wawasan para pendidik di ciamis ya?

  10. sebenarnya ank siswa Karimunjawa cerdas dan top markotop. malah didesa parabg siswanya belajar OTODIDAK. alias belajar dari alam. mau apalagi … ank yg seharus menerima MAPEL Tiap hari selain hr minggu dan hari libur nasional. malahan menerima gratisan hari libur kok. alias ga ada sang gurunya……. ……….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: