murniramli

Wisuda SMP Nishin

In Pendidikan Dasar, Pendidikan Jepang, Serba-Serbi Jepang, SMP Jepang on Maret 10, 2010 at 12:59 pm

Di tulisan yang lalu, saya mengisahkan tentang kesempatan melihat wisuda SMA yang boleh saya katakan cukup liberal karena tidak disertai dengan penghormatan bendera dan lagu kebangsaan. Tanggal 8 Maret bertepatan dengan wisuda SMP di wilayah Aichi. Saya mendapatkan kehormatan sebagai undangan untuk melihat tradisi upacara kelulusan yang menurut saya sangat sakral. Kebetulan sekali sensei yang biasa memeriksa disertasi saya dan juga mantan kepala sekolah SMA mempunyai banyak kenalan kepala sekolah. Dan secara kebetulan pula SMP yang kami kunjungi adalah SMP yang setahun lalu dikunjungi oleh rombongan kepala sekolah dari Indonesia, dan saat itu saya menjadi penerjemah rombongan. Jadi, kepala sekolah, wakasek SMP Nisshin masih ingat saya.

SMP Nisshin meluluskan lulusan yang ke 63 tahun ini. Sekolah ini boleh saya katakan unggul dibandingkan dengan sekolah-sekolah lain yang pernah saya kunjungi. Sekolahnya bersih, aula olah raga besar, wc modern, dan semua siswa menyapa “Ohayou gozaimasu” ketika kami bertemu mereka di lorong-lorong sekolah.

Karena baru pertama kali menghadiri acara seperti ini, saya agak gugup sebab tidak tahu harus menempatkan diri di mana, ketika banyak sekali tamu-tamu penting berdatangan dan masuk ke ruang kepala sekolah. Saya dan sensei disambut ramah oleh kepala sekolah dan wakilnya kemudian dipersilahkan masuk ke dalam ruangan kepala sekolah bersama tamu-tamu yang lain. Acara wisuda akan dimulai pukul 9, dan kami tiba sekitar 30 menit sebelumnya. Semua tamu disuguhi secangkir kecil teh Jepang dan penganana mochi manis. Saya kaget ketika meneguk tehnya, karena ini bukan teh biasa, rasanya seperti kuah sup. Ternyata menurut sensei, teh ini disebut “yorokobu ocha” (teh kegembiraan), asalnya dari kombu (rumput laut). Selain teh kombu,teh bunga sakura juga terkenal sebagai minuman untuk merayakan kegembiraan.

Sepuluh menit sebelum acara berlangsung, para tamu dipersilahkan memasuki aula wisuda, dan sepanjang jalan menuju aula, anak-anak kelas 3 dan para wali kelasnya berjejer menyambut kami dan mengucapkan selamat pagi. Kami membalasnya dan mengucapkan, “omedetou gozaimasu” (selamat atas kelulusan anda). Di dalam aula sudah duduk rapih dan tenang, para orang tua di sisi kanan dan kiri, dan siswa kelas 1 dan 2 duduk di tengah belakang. Di depan mereka berderet kursi-kursi kosong yang akan diisi oleh para wisudawan. Di samping kiri depan duduk para guru.

Pemandangan di podium tak sama dengan wisuda yang saya hadiri beberapa waktu lalu. Bendera hinomaru membentang di tengah, di atasnya tergantung spanduk besar berrtuliskan Upacara Penyerahan Ijazah. Di tengah terdapat podium dan bunga besar di sampingnya. Perwakilan dari Kyouikuiinkai, DPR, dan walikota duduk di bagian kanan panggung, dan di bagian kiri duduk kepala sekolah dan wakilnya. Kami duduk di bawah panggung di sebelah kanan kursi wisudawan.

Dengan iringan drum band sekolah, para wisudawan masuk. Diawali oleh wali kelas yang berpakaian jas hitam atau hakama, menyusul di belakangnya murid laki-laki dan perempuan yang berjalan dua-dua. Mereka berjalan di tengah, di antara kursi2 yang diperuntukkan untuk siswa dan siswi. Saya menyeletuk kepada Sensei, model duduk seperti ini sangat Islami, siswa dan siswi dipisah. Anak-anak yang telah menempati kursinya belum boleh duduk sebelum semua teman-teman sekelasnya masuk, dan mendapatkan aba-aba untuk duduk dari wali kelas yang berdiri di depan. Rapih sekali. Mereka duduk serempak dengan posisi duduk yang sama, tegak dan pandangan ke depan. Ini benar-benar yang sering dikatakan sebagai gaya wisuda militer ala Jepang. Penonton bertepuk tangan menyambut para wisudawan. Musik berhenti setelah semua wisudawan duduk dan tepukan tangan pun berhenti. Senyap.

Acara selanjutnya menyanyikan lagu kebangsaan. Aba-aba berdiri dari MC, lalu memberi hormat kepada bendera. Kemudian diiringi musik sekolah, mereka menyanyikan lagu Kimigayo. Saya belum pernah menyaksikan langsung upacara yang menyertakan kimigayo sebagai protokelar acara, dan sungguh kagum dengan semangat bapak-bapak tua wakil dari masyarakat kota Nishin yang juga diundang untuk menghadiri acara ini, menyanyi dengan suara keras dan merdu.

Selanjutnya, wali kelas satu per satu membacakan atau tepatnya menyebutkan satu per satu nama-nama wisudawan, dan yang disebut namanya berdiri sambil berteriak, “haik” (ya, saya).Tidak ada tepuk tangan. Ada 252 siswa. Semuanya dipanggil. Penerimaan ijazah diwakili oleh seorang siswa yang maju ke depan dengan gerak jalan ala tentara. Naik ke tangga panggung, dan memberi hormat kepada kepsek. Selanjutnya kepsek membacakan ijazah dan menyerahkan ijazah kepada siswa dengan cara yang tetap seperti tentara. Yaitu, kedua tangan memegang kedua ijazah, menyerahkannya kepada siswa. Lalu, siswa menerimanya sambil membungkukkan sedikit badannya. Cara mengambil ijazah pun dimulai dengan mengulurkan tangan kanan dan tangan kiri. Kemudian siswa mundur selangkah, mengangkat ijazah lebih tinggi, dan membungkukkan badan. Tindakan ini diikuti oleh semua wisudawan. Perlahan perwakilan penerima wisuda turun dari tangga dan meletakkan ijazah di meja dekat tangga panggung. Lalu berjalan kembali ke tempat duduknya, tetap dengan gaya tentara.

Acara selanjutnya sambutan-sambutan. Ada 4 sambutan, dari kepala sekolah, Pak Kunio yang kebetulan akan pensiun tahun ini dan ini adalah wisuda terakhirnya. Selanjutnya wakil dari kyouikuiinkai, walikota (diwakili oleh wakilnya), dan DPR. Semuanya memberi hormat tiga kali, misalnya, pak wakil walikota pertama memberi hormat kepada wakil DPR dan kyouikuiinkai karena mereka duduk sederetan, kedua membungkuk kepada bendera Jepang dan terakhir membungkuk kepada kepala sekolah. Pak kepala sekolah membalas penghormatan sambil berdiri dan membungkuk. Setiap kali para pejabat tersebut akan berpidato, para siswa dan guru berdiri mengikuti aba-aba, “kiritsu”, kemudian menghormat dengan aba-aba, “rei”. Saya lupa aba-aba untuk duduknya. Dan saya paling suka dengan posisi bangkit dan duduknya mereka, karena benar-benar serempak sehingga menimbulkan bunyi, drap 🙂

Pidato yang paling berkesan menurut saya adalah pidato Pak Kunio, kepala sekolah. Kalimat beliau puitis, diawali dengan ucapan yang mengaduk perasaan, “saya melihat ke luar jendela, angin musim semi telah bertiup membawa pergantian baru di sekolah ini” Beliau mengingatkan siswa-siswanya untuk tidak pernah berputus asa, sebagaimana mereka telah melewati dinginnya musim dingin, panasnya musim panas, lebatnya hujan di musim gugur dengan senantiasa bersemangat untuk belajar. Para wisudawan menitikkan air mata mendengar wejangan dari kepala sekolah yang sungguh baik hati ini. Saya berani mengatakan beliau baik hati, karena kalau tidak, tidak mungkin saya mendapatkan ijinnya untuk menghadiri acara sakral ini.

Setelah sambutan-sambutan, selanjutnya wakil kepala sekolah memperkenalkan tamu-tamu yang duduk di deretan tamu. Saya dan sensei termasuk yang disebut. Kami tidak menyangka penghormatan ini. Sensei menyikut saya untuk berdiri ketika nama kami disebut, dan dengan suara keras, sensei mengucapkan, “omedetou gozaimasu”, sementara saya hanya membungkuk karena masih kaget 🙂

Acara selanjutnya adalah kesan dari siswa yang ditinggalkan, yang diwakili oleh seorang siswa kelas dua berkacamata. Siswa tersebut sekaligus menjadi dirigen memimpin teman-temannya menyanyikan lagu 虹(baca niji, artinya pelangi) diiringi ketukan piano yang sangat indah sekali dari seorang siswi. Anak-anak kelas 2 dan 1 menyanyi dengan suara yang membuat saya menangis. Selain karena arti lagu tersebut indah sekali, suara anak-anak SMP Nisshin jernih sekali.

Setelah itu kesan dan pesan dari siswa yang akan pergi. Diwakili oleh seorang siswa perempuan. Pembacaanya agak berbeda dengan siswa yang akan ditinggalkan, wakil wisudawan ini membacakan kata-kata perpisahannya di podium berhadapan dengan kepala sekolah, dan seluruh wisudawan berdiri. Kalimat-kalimatnya sungguh cantik dan indah. Membuat yang mendengarnya menitikkan air mata. Pada bagian akhir, dia tak dapat menahan air matanya, suaranya parau ketika mengucapkan terima kasih kepada guru-gurunya. Sambil masih meneteskan air mata, dia memimpin wisudawan untuk menyanyikan lagu YELL. Saya yang memang gampang terharu terpaksa harus mengeluarkan sapu tangan karena air mata saya meleleh tak berhenti. Saya tengok sensei pun mengeluarkan sapu tangan.

Acara menyanyi dilanjutkan dengan tanpa iringan piano, sebuah lagu wisuda yang dikenal kakek nenek di Jepang, 仰げば尊し(Aogeba Totoshi). Tidak hanya siswa yang menyanyi tetapi para orang tua juga turut. Setelah lagu-lagu sedih, lagu terakhir adalah lagu yang sangat bersemangat, lagu hymne sekolah SMP Nishin. Berbeda dengan Indonesia, setiap sekolah di Jepang pasti mempunyai bendera sekolah dan lagu hymne sekolah. Karena sebagian besar tamu dan orang tua adalah alumni SMP Nishin, maka lagu sekolah dinyanyikan secara bersama.

Acara ditutup dengan mempersilakan para wisudawan keluar ruangan, dengan cara yang sama seperti ketika masuk, berjalan dua-dua. Sedangkan para tamu bertepuk tangan. Kami, para tamu dipandu oleh wakil kepala sekolah keluar dari ruangan secara tertib, sambil tak lupa membungkuk kepada para orang tua di pintu keluar.

Hanya ada 3 SMP negeri di kota Nishin, dan dalam setiap acara wisuda SMP, hadir pula kepala sekolah SMA Nishin (ada 2 SMA negeri di Nishin), perwakilan masyarakat, PTA, dan lembaga-lembaga yang berkepentingan lainnya. Jadi dari semua yang diundang kira-kira ada 20an lebih.

Saya salut pula dengan diundangnya orang tua untuk menghadiri wisuda putra-putrinya. Kalau dulu biasanya hanya ibu-ibu saja yang datang, maka kali ini kaum bapak cukup banyak yang hadir sambil tak lepas dari video dan kamera untuk mengabadikan putra/i nya yang telah berangkat dewasa.

Kehadiran orang tua adalah sekaligus untuk menyampaikan penghargaan kepada para guru yang telah membimbing anak-anak mereka, dan kiranya ini menunjukkan keeratan hubungan sekolah dan orang tua.

Saya ingat tidak ada acara wisuda khusus, baik ketika saya SD, SMP, ataupun SMA. Ijazah dibagikan dalam upacara bendera hari Senin, dan orang tua menunggu di rumah dengan was-was.Tetapi beberapa kali bapak bolos kerja sesaat untuk datang ke sekolah mengambilkan rapor.

Ah, bangganya diwisuda !

Iklan
  1. Wah, asik banget yach bisa bersekolah di negeri orang.
    Salam sukses selalu dari negeri bunga

  2. Indah sekali kedengarnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: