murniramli

Tangga Berjalan

In Serba-Serbi Jepang on Maret 11, 2010 at 11:05 am

Dalam bahasa Jepang, tangga berjalan diterjemahkan sebagai esukare-ta, yang merupakan penyebutan dari bentuk bahasa Inggrisnya, escalator. Penemu eskalator pasti bukan orang Jepang.

Eskalator menjadi fasilitas terpenting bagi masyarakat Jepang terutama para kakek dan nenek atau paman bibi yang sudah sulit berjalan. Eskalator juga menjadi benda yang sangat diinginkan oleh kami yang akan pulang kampung dan harus menggeret koper besar. Juga perlu bagi mahasiswa-mahasiswa asing yang gemar memborong belanjaan second hand 🙂

Hampir semua stasiun bawah tanah di Nagoya mempunyai eskalator, dan menurut saya yang terpanjang adalah eskalator di jalur merah, sakura dori. Sepertinya stasiun-stasiun di jalur merah letaknya lebih rendah daripada stasiun di jalur lain.

Saya juga termasuk penggemar eskalator. Dan beberapa stasiun saya hafalkan letak eskalatornya sehingga saya bisa menentukan di platform pintu nomor berapa saya harus berdiri menunggu kereta, agar turun dari kereta saya tidak usah berjalan jauh menuju eskalator. Kalau berdiri di platform, nomor-nomor pintu kereta biasanya tertulis dalam lingkaran (ini untuk Nagoya), sehingga mudah buat janji untuk naik kereta bersama dengan teman. Hanya menyebutkan nomor pintu saja.

Ketika sadar dan teringat akan pentingnya gerak badan, maka saya ogah menggunakan eskalator. Saya memilih menggunakan tangga kuno sekalipun harus kehabisan nafas dan pandangan kliyeng-kliyeng. Terutama menjelang berangkat haji dulu, saya lebih giat menggunakan tangga.

Jika di Indonesia orang dengan santai menggunakan eskalator dan tidak ada yang berlari, maka lain lagi dengan Jepang. Semua orang seakan berlomba menuruni dan menaiki eskalator. Seperti pagi ini. Seorang gadis kecil berambut panjang menggendong tas sekolah besar berlari sepesat kijang menuruni eskalator dengan bunyi yang berisik sekali. Saya tidak tahu bagaimana gurunya mengajarinya adab sopan santun, tapi kelihatannya dia bukan anak SD negeri, melihat dari seragamnya. Beberapa kali saya melihat siswa-siswa sekolah swasta di sini berlaku kurang tertib, sehingga kadang-kadang saya menyimpulkan pendidikan di sekolah swasta di Jepang lebih bebas.

Eskalator di stasiun dekat rumah saya sudah berulang kali diperbaiki. Saya hitung kadang-kadang ada 2-3 kali perbaikan dalam sebulan. Permasalahannya adalah karena seringnya eskalator dipakai berlari. Tidak hanya anak sekolah, tetapi orang dewasa pun sering kali berjalan atau berlari ketika menggunakan eskalator, padahal sudah ada pengumuman dan tulisan besar : “arukanaide, hashiranaide” (jangan berjalan, jangan berlari). Tapi mungkin banyak juga orang Jepang yang buta huruf.

Pada hari-hari sekolah, stasiun Nagoyadaigaku biasanya paling padat. Seperti saat berlangsung ujian masuk PT dan pengumuman. Jika betah, silakan berdiri sekitar 15 menit untuk mengantri menggunakan eskalator. Saya biasanya tidak tahan menunggu, jadi selalu berbalik dan memilih naik tangga biasa di ujung stasiun. Tapi tangga ini jumlah anak tangganya membuat paru-paru rasanya mau pecah. Dan seandainya ada teman yang mengajak bicara di tangga terakhir pasti saya cuma mendengus saja.

Eskalator kelihatannya bermanfaat, tetapi di sisi lain dia telah membuat kita manja. Jika tak ada eskalator pastilah semuanya akan lebih cepat bangun karena jarak tempuh lebih jauh dengan tangga biasa.Tetapi umumnya semuanya berjalan terburu-buru, artinya mestinya mereka telat bangun.

Mesin diciptakan untuk mempermudah kehidupan manusia. Vending machine dibuat supaya ketika haus, kita tidak perlu berjalan jauh mencari toko minuman. Telepon genggam dibuat supaya kita bisa berkomunikasi setiap saat. Fasilitas HP dilengkapi dengan game, supaya pemakainya tidak bengong saja memandangi penumpang lain ketika sedang naik kendaraan umum.

Tetapi kemajuan teknologi itu telah mengubah cara berfikir dan pola hidup kita pula. Eskalator membuat kita malas naik tangga. Elevator apalagi. Eskalator telah membuat masyarakat Jepang lebih sering berlari. Eskalator telah membuat pemerintah Jepang semakin susah menekan pemakaian energi listriknya, dan sepertinya niatan PM Hatoyama untuk menekan emisi negara Jepang sebanyak 25% di tahun 2020 semakin musykil.

Ayo naik tangga !

Dari tontonan di TV saya pernah menyaksikan bahwa naik tangga dapat mencegah ngilu di lutut, dan sekaligus melatih keseimbangan. Caranya, jika naik tangga jangan naik satu demi satu, tapi melangkahlah dua anak tangga sekaligus. Dijamin lebih cepat sampai dan lebih sehat. Sayang, cara ini mengurangi kefemininan dan kecantikan berjalan, jadi disarankan untuk tidak diikuti oleh sesiapa yang sangat memperhatikan penampilan 😀

Iklan
  1. Hidup Tangga!!!

    by.Orang Pecinta Tangga

  2. pernah liat di tv, eskalator di jepang cepat rusak salah satunya karena orang sering berdiri di sisi kiri. Sisi kanannya kan sering dipakai untuk orang yang buru-buru, jalan atau berlari 🙂 Jadi bebannya tidak seimbang. Mestinya orang berdiri di tengah, supaya beban eskalator, terutama bagian berputarnya itu, seimbang.

    Tapi kalau orang berdiri di tengah, mengganggu orang lain yang ingin buru-buru itu tidak ya? Padahal yang terburu-buru itu kan bisa pakai tangga.

  3. ternyata tidak semua yang praktis dan instan itu baik dan sehat he…he… (pembelaan diri…) padahal mah…saya emang fobia ketinggian, so saya lebih memilih tangga manual, karena saya tidak perlu deg-degan ketika turun di tangga2 yang sedang berputar, dan tidak perlu ada teman, tempat saya berpegangan tangan, kadang memutuskan untuk menginjakkan kaki di eskalator, saya harus menyiapkan mental. So, saya memang agak norak kalau ingin naik atau turun memakai eskalator

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: