murniramli

Menggratiskan buku pelajaran

In Pendidikan Dasar, Pendidikan Indonesia, Pendidikan Jepang, Penelitian Pendidikan, SD di Jepang, SMP Jepang on Maret 15, 2010 at 1:28 pm

Salah satu yang paling menguras kantong orang tua adalah keharusan membeli buku pelajaran pada setiap tahun ajaran baru. Dulu masa saya masih SD, masih mending karena saya mewarisi buku kakak yang banyak coretannya, lalu adik saya mewarisi buku saya yang sudah lusuh sekali, sampai-sampai dia tidak usah lagi berfikir banyak karena jawaban soal-soal sudah saya kerjakan semua🙂

Di Jepang, buku pelajaran SD agak sulit untuk diwariskan karena kebanyakan isinya adalah latihan soal, dan sekaligus menjadi buku PR anak. Tetapi buku pelajaran SMP dan SMA masih bisa diturunkan. Karena termasuk dalam paket wajib belajar, buku pelajaran SD dan SMP digratiskan. Ini sudah berlangsung sejak tahun Showa 37 (1962), dan kalau dilihat dari UU Pendidikan Jepang, penggratisan ini hanya berlaku untuk sekolah publik.Tetapi sepelosok apapun letak sekolah tersebut, buku pelajaran tetap gratis. Saya pernah mengunjungi daerah paling utara Jepang, menyeberang ke Pulau Reibun, dan berjumpa dengan kepala sekolah di daerah sepi itu, fasilitas sekolah tetap megah dan buku pelajaran tersedia untuk semua murid.

Setiap tahun pemerintah akan mencetak buku-buku pelajaran melalui percetakan yang ditunjuk, dan buku pelajaran sekolah dibagikan melalui sekolah. Orang tua tidak perlu mengeluarkan dana lagi untuk membeli buku-buku pelajaran. Tetapi, orang tua boleh saja menambah buku-buku bacaan dan latihan untuk anak-anaknya.

Program gratis buku pelajaran pernah saya alami dulu di SD. Saya ingat buku-buku pelajaran dipinjamkan dari perpustakaan sejumlah murid yang ada. Waktu itu semua buku cetakan Balai Pustaka, dan dipakai seragam di seluruh Indonesia. Karenanya saya yang pindah sekolah sejak SMP dari Bone ke Jawa masih bisa menggunakan buku kakak.

Komponen wajib belajar di Jepang meliputi biaya SPP dan buku pelajaran. Adapun biaya lain seperti biaya makan siang, sumbangan PTA, biaya tour, biaya bukatsudou (ekstra kurikuler), seragam, perlengkapan sekolah, biaya pembuatan album wisuda, dll masih dibebankan kepada orang tua.

Buku pelajaran di Indonesia berdasarkan Permendiknas no 11 tahun 2005 diatur pemberlakuannya selama lima tahun. Peraturan ini cukup baik untuk orang tua, sekolah dan juga penerbit tentunya. Tetapi dengan alasan perlunya memanfaatkan TIK dalam pengembangan sekolah, peraturan tentang e-book dikeluarkan tahun 2008. Dalam sambutannya di situs BSE (Buku Situs Elektronik), Mendiknas menyinggung perlunya memanfaatkan TIK dalam reformasi pendidikan, dan salah satunya adalah program BSE.

Dikatakan pula bahwa 942 judul buku-buku BSE telah melewati pemeriksaan Badan Nasional Standardisasi Pendidikan. Beberapa waktu lalu untuk keperluan pengajaran bahasa Indonesia, saya telah mendowload buku bahasa Indonesia SD kelas 6, dan pada bagian bacaan ada cetakan yang salah dan ada penggunaan bahasa yang kurang tepat.  Agak mengherankan ini luput dari pemeriksaan.

Salah cetak dalam buku pelajaran di Jepang bisa mendapatkan sangsi. Dan saya belum pernah mendengar adanya ralat buku pelajaran karena salah cetak. Pemeriksaan buku pelajaran dilakukan oleh lembaga kyoukasho kentei.

Saya tidak tahu berapa anggaran yang dikeluarkan pemerintah untuk membiayai program BSE. Dan saya pun tidak tahu bagaimana penerimaan dan efektifitas pemanfaatannya. Beberapa waktu lalu ada seorang sensei yang akan bertugas di Jawa Tengah dan beliau meminta saya menunjukkan contoh buku pelajaran bahasa Inggris SMP dan SMA. Sekalipun di Jepang dengan fasilitas internet non stop dan kecepatan akses sangat memadai, saya kesulitan mendownload buku-buku tersebut. Apalagi saudara-saudara yang ada di pelosok tanah air.

Barangkali selain menyiapkan BSE, pemerintah perlu meninjau sekolah-sekolah di gunung dan di lembah, pemerintah perlu menyeberangi sungai dan mendatangi pedalaman yang tiang listrik pun belum terpasang, untuk kemudian memutuskan program buku pelajaran gratis.

Kalau sekedar untuk menaikkan APK SD dan SMP, barangkali kita sebentar lagi akan mencapainya, tetapi kita perlu lebih banyak menyisihkan dana untuk membuat semua anak negeri belajar dengan baik dan bermutu.

  1. blog walking..

    koleksi foto Ogoh-ogoh ,ragam budaya bali bisa dlihat disni :
    http://programatujuh.wordpress.com/

  2. Terima kasih infonya … bu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: