murniramli

Problem Siswa Kelas 1 SD di Jepang

In Manajemen Sekolah, Pendidikan Indonesia, Pendidikan Jepang, SD di Jepang, SMA di Jepang, Taman Kanak-Kanak on Maret 16, 2010 at 3:09 am

Baru-baru ini dilaporkan bahwa Putri Aiko, anak semata wayang Pangeran Naruhito dan Putri Masako meninggalkan sekolah karena sakit perut. Perkaranya bukan sakit perut biasa, sebab beberapa hari selanjutnya Putri Aiko enggan pergi ke sekolah. Juru bicara istana mengatakan bahwa Putri Aiko telah diperlakukan buruk oleh anak laki-laki di sekolahnya yang baru, SD Gakushuin, Tokyo.

Saya menonton pembahasan kasus ini di sebuah saluran TV. Seorang ahli pendidikan menyebutkan bahwa ada kemungkinan kasus yang dialami Putri Aiko adalah apa yang disebut dengan syougakkou ichinen sei puroburemu (Problem Siswa kelas 1 SD).

Perpindahan situasi belajar dari TK ke SD tampaknya menjadi masalah yang cukup dominan di Jepang belakangan ini. Anak-anak di TK memang diarahkan untuk lebih banyak bermain ketimbang belajar sebab usia mereka memang usia bermain. Namun, kadang-kadang guru TK lupa menekankan kedisiplinan, sehingga seperti ditunjukkan di layar TV pada hari itu, anak-anak berlarian ke sana kemari sementara gurunya berteriak-teriak di depan.

Sewaktu pertama kali mengikuti kuliah manajemen sekolah, dosen yang mengajar pada waktu itu memperlihatkan kami sebuah video tentang kasus SD kelas 1 di daerah Osaka. Dalam video tersebut ditunjukkan betapa anak-anak tidak bisa disuruh diam, bahkan sampai-sampai ada yang menjambak rambut gurunya.

Tetapi apakah karena pendidikan TK yang kurang disiplin ? Saya kira bukan demikian. Saya pernah menjadi guru part time di sebuah TK di Iwakura, dan saya melihat anak-anak sangat tertib, duduk dengan rapih dan tekun menggunting kertas, membuat origami atau membuat orang-orangan dari nendo (wax). Saat bermain pun mereka tertib memakai topi, berlari di lapangan dan selesai bermain, mencuci tangan dan kaki, lalu berjalan teratur ke kelas.

Jadi, barangkali karena pola pendidikan tentang kedisiplinan yang semakin melemah di beberapa lembaga pendidikan Jepang. Beberapa waktu lalu, saya berbincang dengan mantan kepala sekolah sebuah SMA yang boleh dikatakan sekolah anak nakal. Bapak kepala sekolah menerapkan sistem hukuman yang keras kepada siswa yang datang ke sekolah berambut merah (dalam bahasa Jepang disebut kinpatsu iro no kami atau akacairo no kami) misalnya. Anak-anak SMA tersebut berasal dari keluarga yang juga mungkin lemah didikan disiplinnya dan guru-guru selama dia duduk di bangku TK, SD, hingga SMP tak berhasil melatihnya menjadi anak yang sopan. Tetapi hukuman dan teguran keras yang diberikan kepala sekolah saat dia SMA telah membuatnya menjadi orang dewasa, saat Pak kepala sekolah bertemu dengan si anak belakangan hari kemudian. Si anak sekalipun setiap hari dimarahi oleh kepala sekolah, tetapi dengan jujurnya dia mengatakan bahwa hanya Pak kepala sekolah yang peduli dengan hidupnya. Jadi dia sangat berterima kasih.

Sistem hukuman badan telah dibuang jauh-jauh dari sistem pendidikan di negara manapun. Jepang pun telah lama mengabaikannya. Seorang murid saya, wanita berusia 5o tahunan bercerita bahwa semasa SD dulu dia masih mengalami disiplin keras yang diajarkan oleh sensei-sensei yang dulu dianggap tuhan oleh anak-anak sekolah. Sekalipun banyak orang tua saat ini yang menentang didikan seperti itu,  dia menganggap didikan seperti itulah yang membuat mereka sangat disiplin.

Murid saya bercerita karena mendapat tekanan keras dari orang tua barangkali, guru-guru SD di Jepang tidak berani mengambil tindakan tegas kepada siswa yang nakal. Saya kira bukan karena mendapatkan tekanan, tetapi guru-guru juga barangkali sangat bias dengan definisi “ijime”, definisi kenakalan yang mesti diberi hukuman.

Bagi anak-anak yang tidak pernah dihukum, ingatan tentang hukuman masa kecil akan selalu terkenang. Tetapi bagi anak-anak yang sudah sering dihukum, hal itu gampang sekali dilupakannya. Perbedaan karakter anak membuat pembinaan kedisiplinan menjadi sangat sulit untuk dibakukan menjadi sebuah juklak.

Bagaimana mengantisipasi problem siswa kelas 1 SD tersebut ? Beberapa sekolah ditunjuk sebagai sekolah percontohan oleh MEXT. Yang dilakukan adalah karena pola bermain masih kental dimiliki oleh anak kelas 1 SD, maka ini tidak bisa dengan mudah diubah menjadi pola belajar. Karenanya untuk mengajari mereka pola bermain sekaligus pelan-pelan masuk ke pola belajar, mereka pada jam istirahat diharuskan bermain dengan kakak kelasnya, kelas 4, 5 dan 6. Jadi, model permainan adalah, anak kelas 1,2, dan 3 menjadi “murid” dan anak kelas 4,5 dan 6 menjadi “pembimbing”.

Hasilnya, anak-anak kelas 1 tampaknya senang bermain dengan kakak-kakaknya karena barangkali ada kekaguman kepada kakak-kakak yang lebih pandai dan lebih bisa. Sementara anak-anak kelas 4,5 dan 6, karena berperan sebagai pembimbing maka mereka pun merasa diposisikan lebih, dan dengan penuh tanggung jawab membimbing dan bermain dengan adik-adiknya. Secara otomatis kakak-kakak akan melarang hal-hal yang tidak boleh dikerjakan, dan mengajari adik2nya untuk meminta ijin, berterima kasih, dll.

Pendekatan seperti itu barangkali bisa dilakukan di sekolah yang lain. Tetapi bagaimanapun peralihan jenjang sekolah merupakan peralihan kondisi psikis dan fisik anak-anak usia muda. Dalam hal ini tidak hanya pihak sekolah yang berperan, tetapi kedisiplinan yang telah diajarkan di sekolah hendaknya dibimbingkan di rumah dan dikontrol oleh orang tua. Apa-apa yang sudah diajarkan di sekolah sudah semestinya menjadi pengetahuan yang harus disampaikan kepada orang tua. Jika sekolah tidak tergerak juga untuk memberitahukan, maka hendaknya orang tua berinisiatif menanyakannya.

  1. bagaimana dengan kondisi di indonesia, dimana sd-sd favorit menyelenggarakan ujian masuk sehingga guru tk banyak yang terpaksa mengajarkan baca-tulis-hitung? bukankah itu berlawanan dengan prinsip masa tk merupakan masa bermain? sepertinya sistem pendidikan di indonesia kejam sekali –“

  2. memang seperti makan buah simalakama, ketika pembelajaran moral dan karakter menjadi hal penting dalam pembelajaran anak, orang tua kebanyakan mengabaikannya dan menuntut agar yang ditekankan adalah baca, tulis, hitung. Menghadapi ini, menurut saya, tinggal pintar-pintarnya sekolah mengemas itu semua. Bagaimana agar semua hal itu terakomodir dengan baik. So, sebagus apa pun sekolahnya, jika pola pendidikan di rumah dan sekitarnya tidak mendukung, maka akan menjadi tidak maksimal pencapaiannya.

  3. informasi yang bagus, cuman kasusnya karena anak raja; kemungkinan memang ada hal yang khusus dari problem ini. menurut beberapa sekolah yang ada dinegeri barangkali peristiwa ini bukan permasalahan namun fenomena biasa, mungkin karena terlalu seringnya kejadian seperti tersebut. dari sisilain membudayakan adik sayang kakah kakak sayang adik (kelas 1,2,3 bermain dan belajar sementara 4,5,6 menjadi pembimbing…menarik nih, tapi gimana memulainya? ya he2

  4. akankah kita mulai mempelajari n melakukan riset ttg progam pendidikan sd di indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: