murniramli

Menghargai penulisan sebuah tulisan ilmiah

In Pendidikan Indonesia, Penelitian Pendidikan on Maret 20, 2010 at 12:43 pm

Sebagai peneliti atau akademisi, hanya ada satu cara efektif untuk berkomunikasi dengan sesama peneliti melalui media yang dapat dipertanggungjawabkan, yaitu menulis artikel ilmiah di Jurnal Ilmiah. Tentu saja, belakangan ini media blog menjadi tempat untuk menuliskan pemikiran, tetapi tampaknya blog belum diterima secara universal sebagai sumber referensi sebab tulisan banyak yang tidak disertai dengan referensi pula, dan kadang-kadang sulit menilai keasliannya sebab banyak tulisan yang dicopy paste secara bebas.

Menulis di jurnal ilmiah merupakan tantangan bagi akademisi. Banyak yang menghindarinya dan beralih menerbitkan tulisan opini di koran atau media online. Karena menulis artikel ilmiah membutuhkan analisa dan pertanggungjawaban besar. Untuk menyelesaikan sebuah artikel ilmiah saya membutuhkan waktu 3-4 bulanan. Kalau artikel itu merupakan hasil survey barangkali lebih lama lagi.

Menulis artikel ilmiah menurut pengalaman saya menyebabkan metabolisme perut menjadi terganggu, dan kadang-kadang penyakit linglung mendatangi, karena terlalu kerasnya berkonsentrasi untuk menyelesaikannya. Saya selalu saja menjadi insomnia dan bolak balik ke WC, menahan lapar, dan berbagai tindakan abnormal lainnya jika sedang menyelesaikan sebuah paper. Apabila selesai sebuah tulisan ilmiah, maka saya membutuhkan waktu untuk tidur lebih lama dari biasanya.

Sayangnya banyak Jurnal Ilmiah yang kurang menghargai usaha keras penulis.Penghargaan yang menurut saya seharusnya dilakukan oleh redaktur/editor sebuah jurnal ilmiah adalah :

1. Mengirimkan pemberitahuan resmi kepada penulis bahwa artikelnya sudah sampai di meja redaksi.
2. Menyampaikan kepada penulis dalam tenggat waktu tertentu tentang status artikelnya, diterima, diterima dengan proses revisi, ditolak.
3. Mereview tulisan yang dikirim, baik dengan sistem blind review, atau peer review.
4. Menjembatani komunikasi antara penulis dan reviewer
5. Mengirimkan kembali artikel penulis pasca review
6.Menyampaikan pemberitahuan kepada penulis tentang status terakhir artikelnya pasca revisi.
7. Memberitahukan kepada penulis tentang penerbitan dengan mengirimkan bukti penerbitan (jurnal cetak atau dalam bentuk file) dan surat notifikasi resmi yang ditandangani dewan editor.

Penolakan memang sangat menyakitkan dan bahkan dapat menghilangkan semangat berkarya selanjutnya. Atau komentar tajam reviewer bisa juga membuat jera penulis. Tetapi ini lebih baik daripada tidak ada kabar sama sekali.

Saya begitu bingung dengan status artikel yang saya kirimkan kepada jurnal ilmiah pendidikan yang dikelola oleh DIKNAS. Sejak pengiriman artikel awal bulan Agustus 2009, hanya sekali saya mendapatkan surat pemberitahuan yang saya kurang mengerti apakah itu dari pihak redaksi atau siapa, sebab emailnya sangat pendek memberitahukan mohon artikel disesuaikan sistematika penulisannya sesuai dengan sistematika jurnal terkait, beserta kiriman panduan penulisan dalam bentuk attachment file. Saya kemudian membalas email tersebut secara resmi, dan mengirimkan perbaikan artikel dua hari sesudahnya. Setelah itu tak ada kabar tentang status artikel tersebut, dan tak ada kabar berita apakah artikel tersebut diterima dengan baik.

Lama menunggu, saya akhirnya menulis email untuk menanyakan status artikel tersebut pada bulan Oktober, bulan November 2009, dan terakhir 1 Maret 2010.Sayangnya sampai sekarang pun email tersebut tak berbalas.

Status mengambang seperti ini sangat mengganggu. Sementara di kampus setiap tahun kami harus melaporkan tulisan ilmiah yang telah dipublikasi, karena tidak ada kejelasan, maka yang bisa disampaikan kepada komite : artikel dalam proses. Tapi benarkah dalam proses terbit atau justru sebenarnya sudah jatuh vonis penolakan, hanya saja redaksi tidak mengabari penulis?

Bagi penulis, artikel yang ditolak di sebuah jurnal masih dapat dikirimkannya ke jurnal yang lain setelah merevisinya. Atau bisa juga artikel tersebut dimintakan review kepada pakarnya atau sesama peneliti, untuk sesudahnya dikirimkan kepada jurnal lain.

Namun dengan tidak adanya kabar berita dari redaksi jurnal bersangkutan, maka penulis berada dalam dilema. Artikel ditarik atau dibiarkan saja ?

Demikianlah, menyadari hal itu, saya dan teman-teman yang mengelola Majalah Ilmiah Inovasi Online, milik PPI Jepang berusaha sedikit demi sedikit untuk berlaku profesional, menghargai penulis/akademisi yang telah mengirimkan artikelnya dengan menjalankan tujuh konsep yang saya sebutkan di atas.

Sekalipun Majalah Ilmiah kami hanya memiliki ISSN, dan kelihatannya sulit menjadi jurnal terakreditasi sebab bukan dikelola oleh lembaga profesi, tetapi kami bertekad menjadikannya jurnal ilmiah dan melaluinya, kami mempunyai mimpi untuk menjadikan budaya tulis menulis ilmiah, review ilmiah menjadi makanan sehari-hari kami, mahasiswa/peneliti Indonesia yang sedang belajar di Jepang atau di manapun.

  1. Terima kasih infonya bu… saya mohon izin dan kemurahan hati ibu untuk mengcopy beberapa tulisan ibu yang bermanfaat … tidak untuk di publikasi ulang… karena tulisan-tulisan sangat memotivasi dan memberi pemahaman tentang pendidikan dan budaya jepang .. yang menjadi impian saya (saya termasuk guru yang sangat mendambakan belajar atau mengikuti pelatihan/workshop ke Jepang .. namun belum kesampaian ni…>

  2. @Pak Bakhruddin : Silakan, Pak

  3. Salut Bu Murni sudah membuat majalah ilmiah on line, soalnya menulis ilmiah itu proses lama belum lagi kalau tidak dimuat, sedangkan jika on line kita bisa cepat tahu dimuat atau tidak. Jika tidak dimuat bisa diposting di blog. Semoga sukses majalahnya Bu!

  4. tulisan yang menarik…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: