murniramli

Coba dulu, baru katakan susah

In Pendidikan Indonesia, Pendidikan Jepang, Pendidikan Tinggi, Penelitian Pendidikan on Maret 22, 2010 at 9:52 am

Dua hari yang lalu, ada seorang mahasiswa asing dari Cina, meminta saya untuk mengajarinya bagaimana membuat tabel.  Dia katakan bahwa pelajaran membuat tabel dengan program Excel atau Word pernah dipelajarinya, tetapi itu sudah lama sekali, sehingga dia sudah lupa semuanya. Diceritakannya pula bahwa, dia baru mengenal komputer pada masa perguruan tinggi, dan itu pun komputer yang mereka pergunakan bukan model baru, dan hanya berapa jam dalam seminggu. Teman saya itu adalah suku Mongol yang tinggal di padang savana Cina.

Dia menunjukkan sebuah tabel tentang kurikulum sekolah guru di Cina, dan bertanya atau lebih tepatnya menyatakan bahwa membuat tabel itu sangat susah dan mendokusai (merepotkan). Saya katakan bahwa membuat tabel tersebut sangat gampang dan tidak merepotkan. Hanya perlu ketekunan.

Saya kemudian mengajarinya dasar-dasar pembuatan tabel sederhana.Dia menyuruh saya mengulang-ulangnya dan berkeluh kesah, bahwa istilah yang dipergunakan tidak sama dengan yang mereka pergunakan di Cina. Bukankah seharusnya dia lebih bisa membaca perintah dalam bahasa Jepang, sebab kebanyakan ditulis dalam karakter kanji yang notabene dia bisa memahami artinya? Lalu, saya katakan, bahwa saya tidak menguasai kanji dengan baik, tapi saya memahami perintah-perintah dalam komputer yang bertuliskan dalam bahasa Jepang, karena menghafalkan kode-kodenya atau barangkali tepatnya saya terbiasa menggunakannya.

Dalam proses belajar ini, sebenarnya akan lebih baik jika dia mencobanya langsung, tapi kelihatannya dia tak berminat, dan hanya bertanya sambil bolak balik mengatakan susah.Akhirnya saya agak kesal dan mengatakan bahwa jangan mengatakan susah, jika belum mencobanya !

Saya akhirnya menunjukkannya beberapa contoh tabel dan diagram yang lebih kompleks yang saya buat selama masa menyusun disertasi. Saya katakan bahwa saya mengerjakannya dalam keadaan sama dengan dia, belum begitu memahami bahasa tulis Jepang dengan baik, dan tidak menguasai fungsi-fungsi excel di MS office 2007. Tapi saya tidak pernah dan tidak mau mengatakan ini susah, sebab banyak orang yang bisa melakukannya. Yang diperlukan hanya kesabaran dan ketekunan, berhenti banyak bertanya dan segera mengerjakannya.

Saya terus terang cukup kaget dengan kemampuan mahasiswa master yang belum siap dengan software penulisan, pembuatan tabel, grafik dan penyusunan makalah presentasi. Tapi melihat latar belakang dan kondisi ekonomi mereka, maka saya bisa memahami kekurangmampuan tersebut. Tapi itu bukan alasan untuk tidak bisa menguasai sebuah keahlian.

Semasa kuliah, komputer yang saya gunakan pun masih sangat sederhana. Program DOS dengan screen yang hanya bisa menampilkan tulisan dengan warna hijau. Sangat-sangat jauh dibandingkan dengan fungsi-fungsi pengetikan yang super canggih sekarang ini.Tapi beruntunglah saya dianugerahi sifat berani mencoba. Yang karenanya saya bisa menguasainya secara otodidak.

Saya katakan ada sekitar 20 diagram, dan 73 tabel yang telah saya susun dalam penyusunan disertasi, dan memang mengerjakannya sangat menghabiskan energi, sebab saya harus menerjemahkan padanan katanya dalam bahasa Jepang, kemudian menyusunnya dalam bentuk yang mudah dipahami. Mungkin saja saya pernah berkeluh kesah dan hampir putus asa ketika tak bisa menghasilkan tabel atau diagram yang cocok, tapi saya belum pernah menyerah untuk menuntaskannya.

Memang banyak disajikan dalam buku-buku sejarah pendidikan tentang struktur dan sistem persekolahan di Indonesia sejak jaman Belanda hingga OTDA, tetapi berpegang pada prinsip bahwa setiap peneliti perlu bersifat kritis untuk tidak sekedar menyalin itu, dan akan sangat baik jika dia dapat menghasilkan diagram original, maka saya berusaha membuat sendiri bagan sesuai dengan pemahaman literatur yang saya punyai.

Di situlah letak menariknya mengerjakan sebuah karya penelitian.

Saya katakan bahwa keahlian menggunakan komputer dan memahami fungsi-fungsinya hanya bisa diperoleh melalui percobaan yang terus menerus. Sama seperti ketika masih balita kita mempelajari bahwa cara makan adalah dengan memasukkan tangan kanan yang memegang makanan ke dalam mulut. Bayi memahami fungsi tangan setelah menggunakannya.

  1. Tullisan yang bagus dan menggugah. Bu, saya dulu kuliah S1 di IKIP Yogyakarta menulis skripsi juga sistem komputernya masih pakai DOS, sdh begitu belum punya komputer jadi menyewa di rental komputer, waktu itu 1 jam Rp 500,00. Alhamdulillah bisa ngetik di komputer karena jadi sekretaris di KKN, dan diajari oleh teman KKN (Wayan, anak Bali), sesudah itu nyusun skripsi nekad pakai komputer walau kalau ngetik sambil pegang buku petunjuk WS 6. He..he.. dikenang jadi indah dan lucu!

  2. salut dengan kesabaran dan ketekunan yg sdh digambarkan..

  3. saya minta izin mengcopy tulisan2 ibu dengan menampilkan sumbernya ya, Bu…sebelumnya terimakasih banyak..karena tulisan ibu banyak memunculkan inspirasi bagi saya.

  4. terima kasih tulisannya bu, sangat memotivasi dan menginspirasi. mohon izin saya pakai sebagai contoh juga untuk memotivasi murid murid saya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: