murniramli

Penelitian di Sekolah dan Karya Tulis Ilmiah Guru

In Dinas Pendidikan Jepang, Manajemen Sekolah, Pendidikan Dasar, Pendidikan Indonesia, SD di Jepang, Serba-serbi Indonesia, Serba-Serbi Jepang, SMA di Jepang, SMK Jepang, SMP Jepang on Maret 24, 2010 at 6:11 am

Saya baca sebuah postingan di milis, banyak guru yang tidak bisa menulis karya ilmiah. Berita lainnya beberapa guru menjiplak karya orang lain, atau membayar orang untuk menulis karya ilmiah. Semuanya ingin mendapatkan sertifikasi sehingga rela melakukan tindakan amoral tersebut.

Menulis memang pekerjaan yang mudah bagi orang yang gemar menulis, dan menjadi momok bagi orang yang tidak suka menulis. Menulis katanya bisa dilatih. Tetapi tulisan orang yang terlatih dengan tulisan orang yang punya bakat menulis sangat berbeda sense dan kedalamannya.Bakat yang dalam bahasa Jepang disebut “saino” adalah hal yang susah-susah gampang ditemukan, dan setelah ditemukan pun tak jarang orang tua dan guru tidak sukses mengasahnya.

Karya ilmiah bagi para guru yang mendadak mencuat pasca kebijakan sertifikasi bisa jadi merupakan momok bagi guru-guru yang sama sekali belum pernah menulis skripsi atau karya ilmiah. Kebijakan ini saya kira sangat baik untuk meningkatkan profesionalisme guru, tinggal bagaimana menjalankannya secara benar dengan komitmen dan kesadaran, yang sekaligus menjadi jalan untuk menghindari kecurangan.

Saya ingin gambarkan sedikit tentang kebiasaan menulis dan membuat laporan guru-guru di Jepang. Guru-guru di Jepang dibiasakan untuk membuat laporan harian, bulanan, semesteran dan tahunan. Misalnya saja, seorang wali kelas SMP bercerita kepada saya bahwa beberapa siswa yang menjadi tanggungannya, ditemukan merokok di sebuah mall. Untuk mengatasi masalah tersebut, dia tidak saja menanyai siswa-siswa satu per satu, mengontak orang tua, tetapi juga perlu membuat laporan tertulis kepada kepala sekolah. Laporan semesteran dan tahunan biasanya diperlukan untuk mengevaluasi guru. Guru harus menyusun rencana pengajaran mapel yang dipegangnya dan melaporkan pelaksanaan sebelumnya.

Setiap kejadian yang terjadi di sekolah, terkait dengan siswa, perlengkapan belajar mengajar, dll pertama harus dilaporkan secara lisan kepada wakasek atau kepsek. Selanjutnya wakasek/kepsek akan memberikan nasehat kepada guru bersangkutan untuk memecahkan masalah tsb, dan pada bagian akhir guru harus membuat laporan tertulis. Siklus seperti ini disebut Ho-ren-sou dalam istilah etika bisnis, yang merupakan kependekan dari houkoku (pelaporan)- renraku (komunikasi) dan soudan (konsultasi).

Selain itu, guru-guru yang mengikuti in-service training di dalam sekolah atau di luar sekolah, sekali lagi juga perlu membuat laporan hasil belajarnya yang akan didiskusikan oleh guru-guru yang lain. Juga, semua bentuk evaluasi terhadap siswa, terhadap kepala sekolah/wakasek disusun dalam bentuk laporan tertulis. Sehingga boleh dikatakan tanpa belajar khusus untuk menguasai tulis menulis, secara otomatis guru-guru di Jepang sudah terbiasa menyusun laporan tertulis.

Laporan tertulis yang disusun oleh para guru, formatnya mirip karya tulis ilmiah, diawali dengan pendahuluan untuk menjabarkan latar belakang masalah, metode pemecahan masalah, dan pembahasan atau pemecahan masalahnya.

Hal menarik lainnya adalah di beberapa distrik, berawal dari inisiatif Teacher Union, beberapa sekolah bergabung untuk membuat link penelitian. Misalnya pernah saya tuliskan dalam blog ini tentang survey kebiasaan anak di Souya, Hokkaido yang dilakukan oleh beberapa SD.

Beberapa guru Jepang yang tergabung dalam Teacher Union juga terlibat sebagai anggota Asosiasi Penelitian Pendidikan yang keanggotaannya tidak saja para guru, tetapi juga dosen, dan mahasiswa. Dalam annual meeting asosiasi tersebut, para guru pun harus melakukan presentasi. Dan tentu saja mereka dianjurkan membuat karya ilmiah yang akan diterbitkan dalam Jurnal berkala asosiasi tersebut.

Jadi, latihan bagi para guru di tanah air yang perlu digalakkan dalam rangka membina kebiasaan tulis menulis adalah, pembuatan laporan harian.Jika guru sudah terbiasa dengan pola berfikir ilmiah, yaitu memiliki kepekaan terhadap masalah, dan selalu berfikir pemecahan melalui logika berfikir ilmiah, maka sesuailah ini dengan peribahasa “ala bisa karena biasa”.

Memang diperlukan seorang pembimbing untuk bisa menulis dengan baik dan benar mengikuti EYD. Oleh karenanya peranan guru Bahasa Indonesia bisa ditingkatkan. Atau kerjasama dengan Universitas  untuk mengembangkan hal ini.

Di Jepang, kerjasama sekolah dan universitas dalam rangka peningkatan profesionalisme guru, bukan barang komersial yang dipublikasikan di mana-mana. Tetapi sepenuhnya dibiayai oleh Dinas Pendidikan Daerah. Dan jangan dianggap bahwa dosen-dosen menerima uang banyak dari kegiatan ini, tak lebih dari 10.000 yen biasanya plus ongkos trasport. Itu pun sudah lebih dari cukup karena gaji dosen sebenarnya sudah sangat memadai. Tetapi para dosen berfikir bahwa mereka sebenarnya mendapatkan masukan atau input penelitian dengan kesempatan berinteraksi langsung dengan pihak sekolah. Jadi, ini semacam simbiosis mutualisme.

  1. Jika ini diterapkan di Indonesia … menulis karya ilmiah tidak lagi menjadi momok …terima kasih infonya bu

  2. Mbak Murni. Assalaamu`alaikum. Kalo di Indonesia, memang demikian adanya🙂. Waktu untuk nulis memang tidak ada, jika memang tidak disempatkan😀. Tapi untung, karena nulis adalah hobi sekaligus ungkapan kerinduan, maka saya pasti kembali juga🙂. Apa kabar Mbak? Kapan kondur? Salam.

    • @ Mas Sany : Alhamdulillah, kabar baik, Mas.Wah, ta pikir wis tenggelem di antara sketsa arsitekturnya, ternyata masih terus nulis jgKadang2 blog-e ta sambangi, tp ra tau diupdate:-)
      Insya Allah tahun ini pulang.

  3. wah seandainya di indonesia antara sekolah dengan universitas ada hubungan mutualisme, pasti bagus ya bu
    oh ya, ibu masih di jepang? atau sedah selesai

  4. selamat siang ibu,
    saya triana, masih muda dan baru saja menjadi guru di daerah gresik sma 1 kebomas. asli saya jogja. Begini bu, kalau lah memang sulit bertemu dan berdiskusi secara fisik, bagaimana kalau mulai saat ini juga dibentuk forum tersebut via net, saya rasa jangkauan akan lebih luas dan mungkin bisa menemukan volunteer yg ikhlas unt ngoreksi EYD dll, seperti Ibu misalnya. saya tunggu responnya ya bu… nuwun.

    • @Mba Triana : Selama ini saya menangani Majalah ilmiah Online bersama teman-teman di PPI Jepang. Saya kira bapak/ibu guru bisa membentuk milis penulisan karya ilmiah guru misalnya, dan saya insya Allah bersedia menjadi reviewer. Untuk pemerikasaan EYD, akan lebih baik diberikan kepada guru bahasa Indonesia atau pakar bahasa.Bagaimana ?

      • Nuwun atas respon yang selama ini saya tunggu2, kalau memang demikian ; apakah diperkenankan bila saya ( kami ) diberikan alamat email bu Murni atau kah bisa lewat blog ini saja. alamat email saya lampirkan jika sekiranya nanti diperlukan.

        terimakasih.:)

  5. saya sangat setuju kalau guru di Indonesia “dipaksa” membaca dan menulis demi kemajuan dirinya dan bangsa ini. kalau nggak dipaksa nampaknya susah, mungkin ini peninggalan kolonialisme ya bu.

  6. wah mba, kok saya jadi minat ingin ke jepang ya untuk bisa merasakan apa yang mba tulis…”Di Jepang, kerjasama sekolah dan universitas dalam rangka peningkatan profesionalisme guru, bukan barang komersial yang dipublikasikan di mana-mana. Tetapi sepenuhnya dibiayai oleh Dinas Pendidikan Daerah.”
    sepertinya perlu kerja ekstra ya tuk mewujudkannya di Indonesia.

    mudah-mudahan kedepannya Indonesia bisa menjalankan hal2 yang mampu membuat guru menjadi kreatif dalam menulis dan menggemari kegiatan menulis.

  7. salam hormat dan salamkenal, sungguh ini suatu yang sangat memalukan dan menyedihkan dan ini benar-benar terjadi pada guru-guru kita, tapi bagi saya sebagai seorang muslim, Allah Maha Melihat, dan apa yang dilakukan telah tercatat dalam buku besarnya, balasan terhadap mereka yang curang itu pasti, tinggal menunggu waktu saja, di dunia atau diakhirat bahkan mungkin keduanya, naudzubillaahi min dzalik

  8. saya anak kelas 2 SMP, dan di sekolah sudah diajari membuat karya ilmiah. ternyata berguna juga ya?

  9. ya begitulah, bismillah ilmu ini membuka semangat dan terus memperbaiki kekurangan2

  10. mbak murni ,

    lama saya tidak mengikuti blog ini . malu rasanya, karena ide yang saya tawarkan ke teman-teman untuk membuat jurnal ilmiah tidak juga terwujud . kalau boleh saya bertanya,

    di zaman modern seperti ini mbak, apakah kondisi siswa seperti merokok, baju tidak rapi, sepatu tidak berwarna hitam, apakah hal tersebut juga harus benar-benar diperhatikan guru mbak ?

    berhubung di dunia barat hal seperti itu tidak begitu menjadi hal yang primer, yang penting adalah etika anak terhadap guru, orang tua dan rekan kemudian interaksi belajar mereka di kelas.

    menurut pendapat mbak bagaimana ? terimakasih

    triana

  11. Mohon maaf terlambat memberikan komentar :
    @Sosmita Arief : mungkin jg bukan peninggalan kolonialis,sebab dulu guru-2nya lebih OK.

    @endang setio : amin

    @gunawan : salam kenal jg

    @faya : ya, sangat berguna

    @fauzan satyanegara : alhamdulillah

    @triana :saya kira di barat tdk semua melegalkan kebebasan. Bahkan di sebuah negara bagian di USA, remaja pria yg memakai celana kedodoran shg kelihatan pakaian dalamnya dikenai hukuman. Amerika yg katanya liberal, cukup keras dalam larangan merokok bagi siswanya.Apalagi di Eropa.
    Perang thd rokok sudah semakin gencar dilakukan di manapun, jd sangat kurang etis jk guru tdk prihatin dg siswanya yg merokok.
    Masalah sepatu yg harus berwarna hitam, cukup pelok jk diterapkan di lingkungan masy. yang tdk berkecukupan. sepatu warna apa saja boleh, bahkan tdk bersepatu pun boleh, asalkan anak mau belajar. Tetapi di sekolah dg lingkungan homogen orang berduit, sekolah dapat saja menerapkan disiplin sepatu wajib hitam. Ini salah satu bentuk pelatihan agar siswa dapat belajar mematuhi peraturan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: