murniramli

Harga sebuah tanda tangan

In Serba-serbi Indonesia, Serba-Serbi Jepang on April 8, 2010 at 6:23 am

Sewaktu masih duduk di bangku SD, saya teringat Bapak guru bahasa Indonesia yang menjadi wali kelas saya menyuruh kami untuk membuat tanda tangan. Kata beliau tanda tangan tersebut akan kalian pergunakan seterusnya jadi buat yang sebagus mungkin. Karena ada pesan khusus bahwa tanda tangan tidak boleh berubah-ubah, maka setiap anak panas dingin selama berhari-hari memikirkan tanda tangan seperti apa yang harus dibuatnya dan bagaimana menuliskannya dengan cepat. Sebab semua orang dewasa tampaknya bertanda tangan secara cepat.

Tanda tangan saya ketika itu jelek sekali. Bentuknya seperti pagar mewakili huruf m, u, r, n dan i yang menyusun nama saya. Saya tidak ingat kapan tanda tangan yang saya pakai sekarang saya buat. Kelihatannya ketika masa SMP.

Tanda tangan saya pakai terus di Jepang, kendatipun semua orang Jepang tidak menggunakannya karena mereka menggunakan stempel nama yang harus didaftarkan di Kantor Pemerintah setempat. Sekalipun saya punya stempel nama (inkan), tetapi karena saat pendaftaran sebagai residen di Jepang saya menggunakan tanda tangan, maka seterusnya saya menggunakan tanda tangan dalam semua dokumen resmi.

Kalau bertemu artis atau olahragawan terkenal, fans berlomba meminta tanda tangannya. Yang kemudian bisa menjadi barang kebanggaan yang bisa dipertontonkan kepada teman bermain. Sayangnya saya tak punya satupun koleksi tanda tangan orang terkenal, sebab saya tidak tahu arti dan kemegahan yang terkandung di dalamnya.

Saya pun sangat udik ketika baru menyadari bahwa tanda tangan menghasilkan uang. Bahwa si pemberi tanda tangan harus dibayar.

Pernah saya mengikuti seminar yang diikuti oleh seribuan guru. Karena di Indonesia, maka semua menginginkan sertifikat (mengikuti seminar di Jepang sama sekali tidak ada sertifikatnya). Maka pejabat yang bertugas membubuhkan tanda tangannya tentu saja sangat pegal tangannya, walaupun di beberapa tempat katanya sudah menggunakan sistem scan. Oleh karena pegalnya tangan, maka pejabat tersebut minat tarif. Sekalipun tidak minta tarif, menurut seorang panitia alokasi dana untuk itu pasti ada. Dan ini sudah biasa di Indonesia.

Saya cuma melongo dan merasa sangat bodoh. Sebab ketika masih bekerja di Indonesia, saya kebetulan bekerja di pesantren dan madrasah yang alhmadulillah serba transparan dan aliran uang jelas diberikan kepada sesiapa yang memang layak menerimanya. Dan tidak menerimanya karena alasan jabatan. Jadi, apa yang saya temui di lapangan dalam kesempatan pulang ke Indonesia membuat saya benar-benar kaget.

Setelah direnungkan, saya bisa memaksa diri untuk menerima itu sebagai sebuah keharusan. Alasannya adalah gaji pegawai negeri yang rendah. Pejabat bahkan pegawai rendahan masih memerlukan tambahan pendapatan karena gaji pokok yang tidak memadai.

Sebuah proyek yang mendatangkan uang atau didanai oleh pemerintah biasanya anggarannya habis untuk dibagi-bagikan dan selanjutnya yang terpakai untuk benar-benar melaksanakan penelitian adalah sisanya. Wajar kiranya jika kualitas proyek atau hasil yang diperoleh tidak optimal. Saya bahkan terkaget-kaget ketika mendengar seorang penting meminta ongkos traspor atas kedatangannya di sebuah seminar.

Coba kita bandingkan dengan apa yang ada di Jepang. Dengan gaji dosen misalnya yang mencapai 500 ribu yen per bulan, dosen-dosen tidak ada yang minta dibayar ketika harus mendampingi kami mahasiswa asing mengunjungi sekolah,pabrik, dll. Tidak ada dosen yang minta bayaran setelah membubuhkan tanda tangan karena itu adalah termasuk dalam tugasnya. Dan tidak ada pula dosen yang minta ongkos ganti bensin ketika mengantarkan tamu-tamu keliling kota atau berkunjung ke tempat-tempat tertentu.

Dan kami mahasiswa yang kadang-kadang diperlukan tenaganya untuk membantu kegiatan seminar misalnya digaji berdasarkan jam kerja yang jelas dengan biaya 920 yen per jam-nya (berbeda untuk setiap kampus). Ini berlaku untuk semua pekerjaan dan semua level mahasiswa. Penggajian dilakukan mengikuti pembayaran gaji bulanan di kampus (per tanggal 26 atau 28 April) melalui rekening bank. Kami tidak boleh menerima uang sisa proyek atau dana sisa. Jika ada dana sisa maka semuanya harus dilaporkan atau dimasukkan dalam kas laboratorium.

Begitulah, tanda tangan ternyata sangat mahal di tanah air. Dan bagi-bagi uang adalah kebiasaan yang masih lestari.

  1. saya izin share di profil facebook saya, bu..terimakasih

  2. Itulah Indonesia …bu …mari kita benahi bersama dengan memulai dari diri kita sendiri, dari yang kecil dan kita mulai sekarang …terima kasih atas pencerahannnya ..

  3. Saya harus bilang itu hal yang luar biasa ….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: