murniramli

Karena semua orang pakai

In Islamologi, Renungan, Serba-serbi Indonesia on April 9, 2010 at 10:46 pm

Teman saya dengan sedihnya mengadu bahwa dia telah gagal mendidik anak, dan merasa kekurangan waktu untuk anak-anaknya. Pekerjaannya sebagai dosen telah menyita waktunya, katanya. Padahal saya melihat beliau termasuk di antara banyak orang yang saya kenal sangat peduli dengan anak dan keluarganya.Banyak orang telah lupa tentang perlunya mengamati perkembangan dan pertumbuhan anak-anaknya, dan menurut saya beliau tidak termasuk yang demikian.

Suatu kali dalam perjalanan dia menceritakan anaknya yang dianggapnya telah berubah dari konsep pendidikan yang diingikannya, lalu memintalah dia nasehat kepada saya yang dikiranya lebih tahu. Padahal saya cuma tahu tak lebih banyak daripadanya.

Pernah sekali dia mengajak anak lelakinya yang masih duduk di bangku SMP berbelanja sepatu. Si anak kelihatannya sudah memiliki gambaran dan kriteria tentang sepatu yang akan dipilihnya. Saat dipilihkan sebuah sepatu oleh ibunya, dia menolak dengan alasan, “ini kan dipake banyak orang” Sang ibu tersentak dan menyadari bahwa anaknya telah mempunyai sikap elitis dan kesombongan.

Setiap anak berkembang dengan ragam yang berbeda. Ketika kecil dulu, saya meminta mamak membelikan sepatu pantouvel hitam karena semua orang memakainya. Karena ada masalah dengan ukuran kaki saya yang melebar di depan, maka saya tidak bisa bergaya seperti anak-anak gadis lainnya memakai sepatu yang ujungnya lancip. Saya terbiasa menggunakan sepatu model priašŸ™‚ Pertimbangan mamak saya waktu itu adalah sepatu yang nyaman di kaki. Dan karena kehidupan keluarga kami sama dengan rakyat kebanyakan, jadi saya sama sekali tidak terpikir bahwa saya punya kelebihan status. Tetapi saya masih ingat sepatu yang saya pakai dipuji teman-teman, cukup membuat hidung saya kembang kempis. Kebiasaan memamerkan dan membanggakan barang saya pikir masih disenangi anak hingga SD, sebab di SMP kami mulai serius belajaršŸ™‚

Saya tidak melihat anak teman salah dengan mengatakan itu. Bukankah orang dewasa juga kadang-kadang tidak mau membeli baju di pasar karena takut bertemu dengan “kembarannya” ketika berjalan-jalan di tengah keramaian misalnya? Si anak barangkali berpikiran sama.Tetapi teman prihatin bahwa si anak akan menganggap remeh orang kebanyakan yang memakai barang pasaran. Dia menginginkan anaknya peduli terhadap masyarakat kebanyakan dan tidak merasa diri punya kelebihan dari segi status keluarga atau kekayaan yang mereka miliki. Dia ingin juga anaknya menghargai uang dan mempunyai empati yang besar kepada sesamanya.

Ya, menanamkan sifat dan sikap tersebut memang cukup sulit. Anak sebenarnya belajar banyak hal dari meniru kebiasaan orang dewasa yang ada di sekitarnya, terutama orang tuanya. Teman saya termasuk orang yang gemar membeli sesuatu yang mahal karena menurutnya harga menentukan mutu, dan kebanyakan adalah barang bermerk. Tentu saja barang bermerk identik dengan penggambaran identitas pemakainya. Si anak berkilah, “Ibu juga kalau belanja lebih suka milih barang yang mahal, kok. Kalo ada barang yang sama-sama bermerk, Ibu pasti milih yang lebih mahal” Jadi, si anak ingin membela diri bahwa bukan dia saja yang tidak ingin seperti orang kebanyakan, tetapi ibunya pun sama. Atau dia menerjemahkan pilihan ibunya dalam berbelanja sebagai sebuah sikap elitis yang tidak dilihatnya ada pada kebanyakan ibu-ibu.

Mengajak anak untuk melihat dunia di luar lingkungan dan keluarganya adalah sebuah upaya pendidikan empati. Anak-anak yang biasa diajak ke pasar tradisional akan melihat bahwa banyak orang yang tidak bersepatu, banyak orang yang berbaju sama, bertopi sama, bahkan bersandal jepit sama.Mereka juga akan bertemu dengan anak-anak sebayanya yang terpaksa harus berdiri membantu ayah ibunya jualan.

Anak-anak juga harus diajak mengunjungi masjid, sholat berjamaah agar dia belajar tentang kedudukan dan kewajiban yang sama yang dimiliki setiap orang. Ketika beribadah di masjid tidak ada yang perlu dibanggakan, sebab tidak ada yang peduli dengan merk sajadah, merk kopiah, merk sarung. Tetapi belakangan saya mulai melihat kecenderungan berbangga di kalangan jamaah wanita dengan makin beragamnya model mukenah, baik dari segi bahan kainnya, warna, model dan tentu saja harganya. Mudah-mudahan semuanya tidak mengganggu kekhusyukan beribadah.

Di sekolah anak-anak diajarkan oleh gurunya bahwa uang dapat diperoleh melalui proses bekerja. Tetapi di rumah si anak memahami bahwa uang diperolehnya tanpa bekerja. Arti bekerja dan uang yang diperoleh sangat jarang diajarkan kepada anak-anak dari keluarga berada. Uang bagi mereka adalah sesuatu yang dapat diperoleh dengan sedikit merengek. Barangkali perlu menginapkan anak ke sebuah keluarga yang kehidupannya sederhana, atau memperkenalkan anak pada pekerjaan-pekerjaan sederhana yang dikerjakan pembantu di rumah. Anak-anak kadang-kadang dengan gampangnya menyuruh pembantu untuk cepat-cepat mengerjakan perintahnya; mereka meniru kelakuan orang tuanya. Supaya tidak semena-mena menyuruh, anak-anak perlu mencoba melakukan pekerjaan yang dilakukan pembantu, dan dibayar sesuai dengan gaji yang diterima pembantunya. Bahwa itu bukanlah sebuah pekerjaan yang ringan yang sekejap mata bisa selesai. Bahwa yang diterima pembantu atas kerja kerasnya sehari hanyalah cukup untuk membeli makan siangnya saja hari itu.

Menyadari anak telah salah, melatihnya untuk kembali menjadi manusia yang bersahaja adalah proses yang hanya diketahui oleh orang dewasa yang mempunyai kepekaan. Sayangnya tak banyak orang dewasa yang memiliki kepekaan.

  1. Assalamuallaikum wr. wbr …Terima kasih atas pencerahannya …

  2. artikel yang mencerminkan realita yang kerap terjadi..saya izin share ya..terimakasih

  3. Alhamdulillah anak saya masih mau pake sepatu yang harganya 35 ribuan. Mungkin tahu ibunya tongpes he..he..:)
    Oh ya, anak saya ini ngefans berat sama Jepang. jadi mhn ijin link ya…

    Salam kenal mbak Dewi
    Dari Ibu guru di Tangernag

  4. Maaf salah mbak Murni ya…

  5. Ternyata ada orang lain yang memiliki tipe kaki seperti saya…
    Saya kira saya satu-satunya perempuan yang bertipe kaki seperti itu.
    Hampir semua postingan Mbak Murni menginspirasi saya…Mungkin juga karena saya suka Jepang.
    Mbak Murni, apa ada salah satu post Anda yang bercerita tentang semangat belajar atau menempuh pendidikan? Saya sungguh ingin membacanya.
    Terima kasih.

  6. @Mba Avi : Terima kasih sudah membaca postingan di blog ini. Ada sekitar 500 tulisan dalam blog ini, dan saya sudah lupa apakah pernah menuliskan ttg semangat belajar. Kadang-kadang jika ada waktu, saya membaca ulang tulisan saya karena saya perlu belajar kembali dari apa yg sudah saya tulis.
    barangkali tulisan2 di bawah ini menarik :
    https://murniramli.wordpress.com/2007/02/20/belajar-menjadi-guru-adalah-siklus-yang-tak-berujung/
    https://murniramli.wordpress.com/2007/04/12/orang-berilmu-bagaikan-laut/
    https://murniramli.wordpress.com/2008/05/03/serius-setengah-setengah-atau-banyak-omong/
    https://murniramli.wordpress.com/2008/05/27/karena-cita-cita-itu-setinggi-langit/

    Mudah2an berkenan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: