murniramli

Berkelana

In Serba-Serbi Jepang on April 11, 2010 at 8:55 am

Kalau sedang penat atau sedang ingin merenung, saya paling senang memutar murattal Quran atau memanjakan telinga dan otak dengan instrumental Yo-Yo Ma & Ennio Morricone. Seperti sore ini, sepulang dari acara welcome party PPI Nagoya di Meijo Koen, tadinya mau langsung pulang ke rumah, tapi seperti biasa, saya tidak bisa mengabsenkan diri untuk tidak menengok ruang belajar saya di kampus. Jadi, alih-alih pulang, saya malah berbelok ke kampus. Fakultas hari ini sepi. Ruang belajar juga kosong. Keadaan ini sudah berhari-hari karena masih masa liburan musim semi. Sambil mendengarkan instrumental saya menuliskan ini.

Di acara welcome party tadi, saya merasakan kegembiraan sekaligus kesedihan. Kegembiraan karena bertemu dg wajah-wajah baru, sekaligus teman-teman lama se-Nagoya, dan ditambah lagi helaian sakura mulai berguguran ditiup angin semilir, menjadikan panorama indah sekali. Kesedihan karena teringat teman-teman lama yang datang berbarengan dulu ke Nagoya atau teman-teman yang sudah lama bersama di Nagoya tiba-tiba berpamitan akan pulang seterusnya ke tanah air. Saya merasa seperti kuncen di Nagoya, melepas semua teman-teman baik pergi. Ya, boleh jadi kami akan bersua lagi di tanah air nanti, tapi mungkin juga sebuah kemustahilan mengingat kami tinggal berjauhan, sementara di Nagoya kami dikumpulkan.

Tahun ini adalah tahun keenam menghirup udara Nagoya. Kota megah ini telah menjadi bagian tak terlupakan dalam hidup. Seakan saya mengetahui seluk beluk kota ini, padahal belumlah. Setiap datang mahasiswa baru menanyakan tentang Nagoya, setiap itu pula saya merasa tak mengenal Nagoya.

Kalau hendak dikata sebagai seorang pengelana, saya bukanlah pengelana sejati. Tetapi saya cukup senang mengunjungi tempat-tempat yang aneh. Teringat masa kedatangan awal di Nagoya dulu, ketika saya nekat bersama seorang teman dari Latvia menjelajahi pelosok kota ini berbekal kamera dan memotret segala bangunan temple dan shrine yang aneh di mata. Saya pun telah mendatangi taman-tamannya. Tetapi masih banyak yang belum saya datangi, sehingga menjelang masa-masa berpisah dengan Nagoya tahun ini, ingin sekali kembali berjalan-jalan menyusuri tempat-tempat indah di kota ini yang belum terlangkahi kaki.

Beberapa teman Jepang yang mengetahui hobi saya bahkan telah rela mengantarkan ke berbagai castle tua yang ada di lembah hingga ke puncak gunung. Saya akhirnya memutuskan melakukan perjalanan sendiri mengunjungi kota-kota di Jepang. Mengenang kembali masa-masa berkereta menggunakan tiket shushin 18 kippu pada musim dingin dan musim semi menyeberangi shikoku island hingga Kochi dan tersesat di Matsuyama castle di Ehime, saya  benar-benar baru menyadari bahwa saya termasuk orang nekat. Tahun-tahun sesudahnya benar-benar membuat saya dikuasai pekerjaan dan penelitian hingga tak terbersit kenekatan baru untuk mendatangi tempat-tempat aneh lainnya.

Almarhum Bapak tidak pernah mengajarkan saya untuk berkelana, tetapi kepindahan keluarga kami dari tanah Bone ke tanah Jawa, kemudian direlakannya saya bersekolah ke tanah Sunda, lalu diijinkannya saya belajar hingga tanah Jepang telah menanamkan keberanian dan kesenangan untuk berkelana. Atau barangkali saya mewarisi titisan pelaut-pelaut Bugis yang gemar berkelana.

Kota-kota yang telah saya datangi seingat saya adalah dari Utara ke Selatan adalah Reibun cho, Souya, Wakkanai, Sapporo di Hokkaido, Sendai , Tokyo, Saitama, Shizuoka, beberapa kota di Nagano, beberapa kota di Gifu, Mie, Aichi, Osaka, Kyoto, Nara, Kobe, Okayama, Kouchi, hingga Ehime di Shikoku. Masih sedikit ternyata, saya masih perlu berkelana melanjutkan perjalanan ke arah Selatan.

Setiap kali berjalan, maka yang menjadi bidikan utama adalah castle, taman, kebun bunga, temple, shrine, lahan pertanian, dan universitas. Saya mengikuti tradisi orang Jepang yang mengharuskan diri mencicipi makanan khas di setiap daerah yang saya kunjungi. Banyak dari kunjungan itu adalah kunjungan dalam rangka gakkai (seminar), dan sedikit yang cuma sekedar berjalan.

Berkelana adalah sebuah kesukaan. Tetapi saya menyadari juga bahwa saya seorang perempuan yang seharusnya pergi ditemani mahrom. Karenanya saya berusaha bepergian dengan teman. Atau dengan rombongan orang Jepang. Tetapi tidak semua teman gemar berjalan mengunjungi gunung, lembah, desa atau perkampungan, sehingga kadang-kadang saya harus pergi sendiri.

Berkelana telah mengenalkan saya banyak teman, banyak tradisi, banyak kearifan dan banyak keindahan. Menyesal saya tak melakukannya sejak muda dulu.

  1. Bagaimana ya ..caranya saya (seorang guru) bisa kuliah atau kursus seperti ibu ke Jepang … itu impian saya …karena tempat yang saya impikan untuk menambah ilmu (Pasca) itu Malaysia dan Jepang ..

    • Bapak bisa apply Teacher Training jk usia masih di bawah atau sama dengan 35 tahun.Silakan liat persyaratannya di web Embassy Jepang di Jakarta

  2. setuju……saya salah satunya bu! Saya ingin mengunjungi bumi Alloh yang lain, ingin melihat budayanya, kebiasaannya dan orang-orangnya. Bismillah!!

  3. Terima kasih infonya ..bu…nampaknya umurnya nggak pas…lewat dikit..pupus impian saya ni

  4. assalamu’alaikum bu. murni bleh saya minta alamat email b. murni? kalo bleh slah kan krim email ke account saya murasaki.sora@yahoo.com saya tnggu b. murni

  5. @Efendi : silakan liat di HOME

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: