murniramli

Menjanjikan dan Menggampangkan

In Renungan, Serba-serbi Indonesia, Serba-Serbi Jepang on April 12, 2010 at 9:15 am

Siapa gerangan yang senang menjanjikan? Siapa gerangan yang senang mengiming-iming seseorang dengan sesuatu ? Dan siapa yang cenderung meremehkan masalah ? Biasanya pejabat ! :-)  Saya membaca dan merasakan kecenderungan untuk membuat janji-janji dan sekaligus meremehkan janji di kalangan pejabat dan kadang-kadang menjumpainya di antara teman-teman di Jepang.

Ada pejabat yang dengan ringannya menawarkan sister school dengan sekolah Jepang, training atau kunjungan kepala sekolah ke Jepang, atau malah tawaran bersekolah ke Jepang, karena kedekatannya dengan seorang dosen di Jepang. Adalagi pejabat yang sering berjanji akan menaikkan pangkat si Anu apabila mendukungnya dalam pemilihan. Atau memberikan bonus sekian juta jika ia menang.

Anak-anak pun secara tak sadar sering kita janjikan macam-macam. Nanti kalau ujiannya bagus, Bapak akan belikan sepeda motor. Nanti kalau khatam Al-Quran akan Ibu belikan sepatu baru, dan lain-lain. Ayah ibu berani menjanjikan karena memang punya dana. Para pejabat dan bos menjanjikan karena titahnya tak bisa ditolak. Tetapi alangkah malunya jika janji tak bisa ditepati, apalagi semisal janji hanya sekedar ucapan lip service untuk mencari simpati dan dukungan.

Kebiasaan menjanjikan biasanya sejalan dengan menggampangkan urusan. Perkataan seperti : “Ah, itu gampang, nanti kita bisa usahakan”; “Ah, cingcaylah nanti tinggal bilang Pak Anu”, “Ah, sepele itu….dll termasuk yang sering saya dengar. Atau ada teman yang sering sekali membawa-bawa nama-nama seseorang. Misalnya, “kalo nasi goreng sih gampang tinggal nyuruh si Anu”

Demikianlah, perkara yang susah memang harus dipikirkan gampang, tetapi jangan sampai membuat kita meremehkannya. Saya sering kelabakan menerangkan kepada dosen/guru di Jepang tentang permintaan kerjasama dari kepala sekolah di Indonesia, sebab kita seringkali menganggap persoalan ini gampang dan bisa segera dimulai dengan hanya membawa secarik kertas MoU yang siap ditandatangani.

Sering pula banyak pertanyaan tentang bagaimana bersekolah di Jepang, dan saya kadang-kadang menggampangkan jawaban dengan misalnya menunjukkan link yang bisa dihubungi. Atau sering pula saya mendengar teman-teman mengatakan kalau sudah punya nama professor maka gampanglah untuk kuliah di Jepang. Sehingga banyak teman yang meminta saya memberitahukan alamat email professor, padahal sebenarnya memberitahukan email professor di Jepang termasuk dalam pelanggaran kojin jouhou (informasi pribadi). Alamat email, nomor telepon menjadi barang privacy yang gampang sekali tersalahgunakan. Oleh karenanya sebelum menyampaikan email professor, kami berkewajiban meminta ijin kepada yang bersangkutan.Permasalahan dan prosesnya tidaklah semudah itu. Tidak cukup dengan hanya mengirimkan email sekali dua kali kepada professor bersangkutan, tetapi banyak hal yang perlu dilakukan termasuk mempersiapkan diri pribadi untuk siap dengan proposal penelitian, bekal dana, dan bekal mental memasuki kehidupan dan budaya yang berbeda.

Beberapa waktu lalu saya mendapatkan tawaran menarik untuk memegang jabatan tertentu di sebuah universitas di Indonesia. Saya menolaknya dengan halus dan mengatakan lebih baik memberikan saya posisi yang normal dan biarkan saya tumbuh dan berkembang secara normal. Menurut saya jabatan identik dengan tanggung jawab yang berat, beban kerja, hubungan antarmanusia yang penuh intrik dan jatuh menjatuhkan. Karenanya lebih baik mendapatkannya melalui jalur yang normal setelah semua proses dipahami dengan baik, setelah semua orang dikenal dengan baik karakternya. Saya memang gemar mencoba tantangan, tetapi saya lebih suka menjalankannya dengan kenormalan.

Semoga saja jabatan, uang, hubungan baik dengan sesama tidak membuat lidah kita gampang sekali mengumbar janji dan menggampangkan masalah.

  1. Di suatu daerah ada yang karena kedekatan dengan penguasa (mendukung waktu Pilkada) mendapat jabatan di institusi termasuk pendidikan (di dinas, kepala sekolah dsbnya) …akibatnya mereka seperti dikarbit masak belum waktunya …sehingga menurunkan kualitas manajemen kependidikan ..sekaligus kualitas pendidikan itu sendiri …Intinya Jalan Pintas … memang banyak hal yang mesti kita menirunya dari Jepang ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: