murniramli

Menjadi orang sederhana

In Islamologi, Renungan, Serba-serbi Indonesia on April 16, 2010 at 11:06 am

Sudah berapa hari lewat saya tidak sempat mencoret-coret di blog ini. Sibuk sekali. Saking sibuknya saya mulai bersikap tega lagi dengan badan saya. Vitamin, juice, sayur, ikan, susu sudah saya asupkan dengan secukupnya, tetapi badan ini perlu rehat, perlu lebih banyak tidur dan perlu direlaksasi dengan membawanya jalan-jalan :-)  Setiap hari memang saya sudah jalan kaki terus, dan kalau diukur barangkali sudah setara dengan jalan kaki seharian. Tapi jalan kaki itu penuh ketegangan, sebab saya harus berpacu dengan waktu. Masa tidur yang biasanya bisa dicuri-curi di kereta, kali ini tidak bisa karena setiap mata saya mengajak terpejam, kepala saya memutar memori paper-paper yang harus saya buat. Jadilah, tak bisa tidur, tetapi malah mengeluarkan laptop dan sibuk mengetik. Saya baru berhenti kalau sudah mulai mual.

Bukan kebiasaan jelek itu yang ingin saya kupas di sini, tapi percakapan dengan sensei kemarin dan ingatan kepada keluarga di Madiun tentang menjadi orang sederhana.Kemarin dalam obrolan tentang jadwal pemeriksaan disertasi dengan sensei, kami sempat membincangkan penggunaan uang proyek. Penelitian di Jepang dananya sangat melimpah, dan jika ada waktu, sehat, dan masih bersemangat dosen-dosen dengan sepuas hati dapat mengajukan rencana penelitian. Tetapi tidak semudah itu ternyata, sebab penelitian berarti adanya tanggung jawab pelaporan, penulisan di jurnal, workshop dan pembuatan buku. Jika tidak ada itu semua, maka penelitian bisa terkategorikan gagal.

Saya tanya ke sensei, apakah dana sebuah proyek penelitian cukup besar? Sensei tidak menyebutkan angkanya, tetapi mengatakan tergantung penelitian dan targetnya. Sekalipun besar mereka sangat harus berhemat menggunakannya dan hati-hati, harus ada pencatatan,dan kuitansi-kuitansi tak boleh dibuang.

Sensei bolak balik ke negara-negara Asia dan tentunya semuanya didanai dari proyek tsb. Ketika bepergian ke negara-negara asing tsb, biasanya beliau berusaha menggunakan trasportasi murah dan aman. Hotel yang ditinggali pun selalu hotel yang biasa saja. Suatu kali kata Sensei, beliau bepergian dengan seorang pejabat dari Indonesia. Si Pejabat menawarkan sensei untuk menginap di hotel berbintang yang tentu saja ongkosnya tetap diambilkan dari dana proyek. Sensei lalu mengatakan, “Kalau seperti ini gaya hidup peneliti, maka penelitian tidak akan ada yang bisa sukses”.

Kesederhanaan itu saya jumpai tidak pada satu atau dua orang sensei saja, tetapi banyak yang telah mengajarkan hal yang sama.

Ketika pulang ke tanah air awal bulan lalu, adik dan keluarga saya juga mengajarkan hal yang sama. Saya mendarat di bandara Juanda malam hari. Biasanya saya menginap di rumah seorang teman dan baru melanjutkan perjalanan ke rumah keesokan harinya. Tetapi kali ini adik saya bersedia menjemput ke bandara, jadi saya akan pulang ditemani adik, naik bis tentunya, sebab kami tidak punya mobil. Sebelumnya di bandara Nagoya saya sempat mengirim email kepada adik untuk menyiapkan uang sebab saya tidak membawa rupiah, dan mungkin tidak sempat menukarnya di bandara.

Adik laki-laki dan adik bungsu saya datang ke bandara dari jam 5 sore. Katanya mereka berangkat dari rumah jam 1 siang. Saya tanya, sudah makan ? Jawabnya, sudah di rumah tadi. Dan barusan nyemil-nyemil. Saya tahu adik-adik saya kelaperan. Kebetulan karena saya membawa titipan teman, ada seorang teman di Surabaya yang menyambut saya di bandara dan membawakan martabak dua kotak, lumayan untuk mengganjal perut. Tak lupa kami ditraktir minuman coklat hangat yang sekalipun tidak ditambahi gula, sudah manis sekali rasanya.

Dari bandara Juanda kami naik bis DAMRI menuju terminal bis Bungurasih, dan adik laki-laki bertugas mencari bis yang akan kami naiki ke rumah. Saya pesan cari yang AC karena kami sudah kecapekan semua. Tapi mungkin karena tidak dengar atau sengaja mencari yang murah, adik malah menggiring kami naik bis MIRA yang dulu sewaktu masih di Madiun, saya tidak berani menaikinya karena terkenal dengan supirnya yang gila ngebut. Saya mulai mengomel menyalahkan adik yang tidak pandai mencari bis. Saya tanya adik bungsu saya apakah dia nyaman naik bis ini. Jawabnya santai sekali : “kami sudah biasa naik bis seperti ini”. Saya jadi tak bisa berkata-kata dan segera meminum obat anti mabuk yang saya bawa dari Jepang, sebab saat itu perut saya sudah mulai tegang mau mengeluarkan sesuatu. Alasan kedua minum obat itu, saya tidak berani melihat keluar karena semuanya seperti berlari, atau pun tidak mau terbangun-bangun karena bis tiba-tiba direm mendadak atau diklakson dengan keras seperti rombongan sirkus yang masuk kota. Sambil komat kamit membaca ayat Kursiy, dan mohon pertolonganNya saya akhirnya terbius obat tsb, tidur pulas tetapi cuma sebentar dan mulai terbangun kira-kira sepertiga perjalanan yang memakan waktu total 3-4 jam.

Alhamdulillah kami tiba dengan selamat di rumah ketika jam sudah menunjukkan pergantian hari. Sekalipun saya mengomel panjang pendek, adik-adik saya tertawa-tawa saja sambil bercanda bahwa uangnya tidak cukup kalau harus naik bis AC. Saya katakan uangnya akan saya ganti, adik-adik cuma cengengesan dan mengangsurkan tangan minta uang ganti. Sekalipun kesal dengan naik bis MIRA, rencana sampai di rumah ternyata lebih cepat dari perkiraan. Jadi rasa dongkol agak terobati. Saya masih mengomel karena teringat si supir bis yang tega sekali meninggalkan keneknya saat menurunkan barang kami dari bagasi bis di terminal. Kenek yang sedang membantu kami berteriak-teriak, tetapi si supir malah tancap gas seperti orang kerasukan. Mudah-mudahan Pak Kenek bisa pulang dengan selamat.

Keesokan harinya persoalan naik bis sudah lewat. Tetapi bagi saya masalahnya tidak lewat begitu saja. Saya tercenung, apa yang kami alami tadi malam sebenarnya seperti itulah yang dialami oleh rakyat kebanyakan, bahkan mungkin lebih parah. Kami masih patut bersyukur karena masih bisa membayar ongkos bis. Saya sebenarnya bisa mengeluarkan uang untuk menyewa mobil dari bandara ke rumah, tetapi kami masih punya pilihan untuk sampai ke rumah dengan biaya yang minim. Dan itulah yang dipilih adik saya.

Teringat dulu saat angkot di Bogor masih 300 rupiah. Ketika ada supir yang mengebut dan penumpang mengomel, si supir dengan santainya menjawab, “Mbayarnya cuman 300 kok minta selamat !”  Ya, jawaban konyol seperti itu menjadi guyonan yang tidak pernah garing di antara rakyat pemakai angkot. Seakan kami mengamini ungkapan awam, “Nyawa anda di tangan supir”
Kemiskinan dan kesederhanaan sepertinya sudah identik dengan ketidakpedulian pada keselamatan jiwa, tetapi masih saja kami bisa memamerkan gigi-gigi putih atau kuning bukti kami masih tergolong rakyat yang masih bisa tertawa.

Beberapa hari setelah kembali ke Jepang, saya bercerita kepada seorang teman tentang pengalaman naik bis di tanah air. Saya mulai menyenangi cerita ini dan menceritakannya berkali-kali dan menganggapnya sebagai lelucon sehat. Seorang teman kemudian menanggapi bahwa kadang-kadang jika pulang ke tanah air dia juga sering merasa dan bersikap sebagai orang yang “berpunya”, karena dia memegang “yen” yang nilainya lebih tinggi daripada rupiah. Daripada naik becak, teman lebih memilih naik taksi karena dia mampu membayar taksi, misalnya. Dia katakan, kadang-kadang dia merasa sombong dengan kepergiannya ke Jepang, dan membuatnya seringkali pamer dengan apa yang dibawanya dari Jepang. Padahal dahulunya kami pun berdesakan di dalam bis yang berbau keringat. Padahal sayapun dulunya mengayuh sepeda ke sekolah hingga memar betis dan menghitam kulit wajah. Padahal kami pun dulunya adalah penikmat-penikmat angkot yang penuh kepulan asap rokok dan lebih sering mogok.

Banyak yang telah dibuat melambung oleh uang dan status. Sehingga menyulitkannya untuk kembali pada kesederhanaan dan kepolosan sedia kala. Bahkan barangkali kita pun lupa bahwa kita berbau tanah. Saya takut pelan-pelan termasuk di dalam golongan ini. Nauzubillah….Semoga Allah selalu mengingatkan tentang kezuhudan dan ketawaddhuan.

  1. izin membagi tulisan ini u teman2 ya bu guru..

  2. @Echie : Silakan….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: