murniramli

Omocha byouin : rumah sakit mainan

In Serba-Serbi Jepang on April 23, 2010 at 10:44 am

Kadang-kadang saya berpikir orang tua di Jepang ngga ada matinye :-)  Ada-ada saja yang mereka kerjakan. Pernah saya perbincangkan dengan seorang teman Jepang mengapa populasi penduduk tua di Jepang semakin banyak dan anak-anak semakin sedikit. Alasan makanan dan pola hidup sehat sudah awam diketahui. Teman saya sambil bergurau mengatakan bahwa karena bidang kedokteran juga maju dan asuransi kesehatan baik, lalu ditambah lagi uang pensiun yang cukup besar menyebabkan banyak orang tua yang sekalipun tidak sakit rajin datang mengecek kesehatannya di rumah sakit. Alhasil mereka terhindar dari macam-macam penyakit.

Beberapa hari lalu saya juga menonton di sebuah channel TV yang menyiarkan sebuah desa dengan penduduk berusia di atas 100 tahun cacahannya mencapai 50 orang. Kakek dan nenek-nenek itu bukan orang yang pikun dan terlihat sehat pun masih nyambung ketika diajak mengobrol.

Hal lain yang membuat saya berdecak kagum adalah sebuah kelompok ojiisan yang kira-kira berumur 65 tahun ke atas, membuat rumah sakit mainan (omocha byouin) bernama Tonkachi. Kelompok ini ada di Nagoya.

Pada tayangan TV yang saya saksikan beberapa ibu datang membawa anak yang memegang boneka atau mobil2an kesayangannya. Semuanya tidak bisa berfungsi lagi. Ada mainan yang bisa diperbaiki hari itu juga dalam waktu sekejap, ada pula yang perlu diotak-atik selama seminggu. Ada sekitar 5-6 orang kakek yang stand by di sana, semuanya sibuk memperbaiki sambil sesekali mengajak bicara anak-anak yang memperhatikan dengan seksama.

Perbaikan mainan tidak dikenakan biaya. Karenanya ibu2 sangat senang🙂 Beberapa anak yang merasa sangat berterima kasih dengan kebaikan kakek-kakek Tonkachi, dan mengirimkan kartu ucapan terima kasih yang ditulisi sendiri oleh si anak, yang sudah menjadi kebiasaan anak-anak Jepang.

Ketua Tonkachi mengatakan bahwa mereka ingin mengajarkan kepada anak-anak untuk menghargai mainan yang dimiliki. Sering orang tua tidak tahan dengan rewelan anak ketika bersama berbelanja misalnya. Jika anak sudah merengek minta dibelikan mainan tertentu maka orang tua biasanya langsung mengeluarkan dompet. Memang tidak salah dari satu sisi, sebab jarang-jarang orang tua bisa membelikan misalnya atau serial mainan tsb langka,dll. Tetapi di lain sisi orang tua perlu bersikap kritis dengan memperhatikan apakah anak sudah mampu menghargai mainan yang dibelikan untuknya. Bentuk penghargaan tersebut tidak akan dimengerti anak kalau tidak diajarkan dan dilatihkan. Oleh karena itu membiasakan anak untuk menyimpan mainan di tempat yang disediakan, berhati-hati dalam memainkannya adalah contoh-contoh praktis yang bisa dituntunkan.

Keberadaan kakek-kakek di Tonkachi menurut saya tidak hanya menguntungkan orang tua tetapi juga melestarikan sebuah mainan🙂

  1. saya jadi ingat dengan mendiang kakek saya,
    beliau pernah memperbaiki salah satu mainan fav saya yaitu mainan truck,

  2. waw, sudah berumur tapi masih produktif yaaa..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: