murniramli

Ujian Nasional SD di Jepang tahun ini

In Pendidikan Dasar, Pendidikan Jepang, Pendidikan Menengah, SD di Jepang, Serba-Serbi Jepang, SMA di Jepang, SMP Jepang on April 23, 2010 at 10:13 am

Mumpung ada waktu luang sambil menunggu jadwal mengajar, saya ingin menuliskan “simpanan ide” dari hasil menonton TV🙂 Beberapa hari lalu siaran berita di TV melaporkan dua tema berulang-ulang yaitu masalah kepulangan seorang astronot wanitanya dari bulan bersama tim Discovery dan masalah ujian nasional siswa SD. Keduanya seakan berkaitan dari sisi peningkatan akademik dan kepentingan kemajuan sains dan teknologi.

Ujian Nasional SD dan SMP di Jepang bukan untuk kelulusan sebagaimana di tanah air. Tapi dipakai sebagai alat ukur kemampuan anak-anak yang akan lulus SD dan SMP. Pelaksanaannya pada tahun 2007 hingga 2009 melibatkan hampir semua sekolah (mendekati 100% namun ada beberapa daerah yang menolak). Pelaksanaan tahun ini yang berlangsung pada 20 April lalu, agak unik, yaitu pengurangan jumlah sekolah yang diikutkan dalam program ini (chuusyutsu houshiki) dan diterapkannya sistem jisyusanka (kebebasan memilih).

Sistem seleksi itu menurut saya wajar saja karena tidak seperti di Indonesia, kebijakan penerapan gakuryokutesuto dari segi nama saja dalam bahasa Jepang disebut : 全国学力・学習状況調査 (senkokugakuryoku/gakushuujoukyou chousa), artinya GT ini adalah survey (chousa). Oleh karena itu pemerintah sesuai dengan anggaran yang dimiliki dapat menerapkannya untuk semua sekolah atau memilih sekolah-sekolah partisipan.

Kementrian Pendidikan (MEXT) memilih 9979 sekolah negeri dan swasta, dan ada 13,896 sekolah yang memilih untuk ikut secara mandiri, jadi total sekolah yang ikut serta survey tahun ini adalah 23,875 sekolah dengan total siswa peserta sebanyak 16,205,000 orang. Dari laporan di Yahoo dikatakan bahwa rasio sekolah negeri yang ikut mendaftar sekitar 80% untuk SD dan 75% SMP. Tetapi partisipasi sekolah swasta menurun dari 50% menjadi 24%.

Mata pelajaran yang diujikan hanya dua, yaitu Bahasa Jepang (kokugo) dan berhitung (sansu) untuk SD dan untuk SMP adalah bahasa Jepang (kokugo) dan suugaku (matematika). Kalau di Indonesia penamaan mapel matematika semuanya sama dari SD hingga SMA, di Jepang agak berbeda. SD lebih banyak menekankan pada kemampuan dasar berhitung atau aritmetika, oleh karena itu disebut sansuu. Sedangkan di SMP sudah berkembang lebih luas lagi, mencakup fungsi-fungsi matematika, karenanya disebut matematika.

Kedua mapel yang diujikan dibagi menjadi dua kelompok, A dan B. Sehingga setiap anak akan menerima bundel Kokugo A dan Kokugo B misalnya. Kategori A adalah materi yang cenderung terkait dengan masalah ilmu-ilmu dasar. Sedangkan kategori B lebih banyak merupakan penerapan atau aplikasi. Dalam bahasa Jepangnya disebut kisouchisiki untuk A dan katsuyouchisiki untuk B. Hasil GT akan disampaikan pada bulan Juli.

Ada 13 prefektur yang menunjukkan angka partisipasi 100%, artinya semua SD dan SMP-nya ikut serta. Sementara itu prefektur Aichi tempat saya tinggal hanya 25.5% saja sekolah yang ikut serta.

Gakuryokutesuto sebagaimana pernah saya tulis dalam blog ini diberlakukan pertama kali pada tahun 1956 untuk sebagian siswa SD, SMP dan SMA.Lalu pada tahun 1961 menjadi wajib untuk siswa SMP kelas 2 dan 3, kemudian tahun 1962, ujian untuk SMA berakhir (dihentikan). Tahun 1965, karena protes dari pergerakan guru dan juga masyarakat semakin menguat, maka ujian untuk SMP diterapkan dengan sistem partisipasi mandiri. Kemudian terjadi masalah di Asahigawa, Hokkaido, yang menyebabkan ujian nasional dihapuskan. Ujian Nasional SD dan SMP diadakan kembali pada tahun 1982 dengan sistem yang sama yaitu tidak wajib. Lalu, kemudian Ujian Nasional untuk SMA diselenggarakan kembali pada tahun 2002. Lalu dihentikan lagi, dan kembali dibicarakan dalam Kementrian dan DPR-nya Jepang. Usulan penerapannya kembali menguat semenjak prestasi anak-anak SD dan SMP Jepang dalam PISA dan TIMMS menurun. Oleh karena itu pemerintah memutuskan menerapkannya kembali sejak 2007 hingga sekarang.

Dengan penerapan kembali ujian nasional, pendidikan ala yutori kyouiku mulai dikurangi dan diperbaiki penerapannya. Guru-guru pun kembali dengan tugas-tugas berat untuk menyiapkan siswa kelas 6 SD dan kelas 3 SMP untuk menghadapi ujian ini. Sekalipun bukan penentu kelulusan karena semua anak dalam masa wajar akan naik atau lulus secara otomatis, tapi hasil ujian dipublish secara luas, yang menyebabkan orang tua semakin bersemangat mengirimkan anak-anaknya ke juku (les privat) yang belakangan ini semakin menjamur di Jepang.

Ya, setiap kebijakan pasti diikuti dengan dampak baik dan buruknya.

  1. assalamu’alaikum mbak murni. salam kenal dari saya, temannya mbak retno triwulandari. menarik juga memperhatikan dan menyaksikan system pendidikan di negara lain, khususnya Jepang yang terkenal dengan tingkat produktivitas warganya yang tinggi. jika bukan untuk standar kelulusan UN di adakan di Jepang, apakah artinya bahwa setiap anak berhak maasuk ke sekolah mana saja yang ia kehendaki tanpa harus melalaui serangkaian tes atau seleksi peringkat nilai UN? jika demikian adanya maka akan sangat memberi kesempatan kepada setiap siswa untuk belajar dengan tenang tanpa harus stress memikirkan diterima atau tidak diterima di sekolah yang akan menjadi incarannya. dan bagaimana pula tentang peringkat bonafiditas sekolah di Jepang ? apakah juga seperti di Indonesia? ada sekolah unggulan/favorit dan ada sekolah terbelakang ? thanks sheringnya. jazakillah, wassalam

  2. @Mba Nadia :
    Wa alaikum salam warahmatullah.
    Untuk SD dan SMP, setiap anak harus bersekolah di lingkungan tempat tinggalnya. Jadi misalnya anak dari kelurahan A hanya boleh bersekolah di sekolah yg ada di kelurahan A. Untuk masuk SD atau SMP tidak ada tes. Sedangkan u masuk SMA ada tes.
    Karena SD dan SMP rata-rata mutunya sama semua, ya tdk usah berebut masuk SD atau SMP. Malah ada sekolah y kekurangan murid krn jumlah kelahiran di Jepang sangat rendah.
    Untuk SMA, krn sdh tdk termasuk compulsory education, maka persaingan masuk agak ketat, dan tentu ada sekolah bagus dan tidak berdasarkan kualitas siswa yg masuk. Sekolah unggulan sekolah favorit ada di level SMA. Tp tdk ada di level SD atau SMP. Kecuali swasta, karena prinsipnya persaingan, maka pasti ada yg unggulan atau favorit.

  3. Menurut panjenengan sistem yang dilakukan di Indonesia itu lebih baik atau lebih buruk dari sistem Jepang ?

  4. @Pak Sugeng :
    Penilaiannya seperti ini Pak :
    1. Dari segi tujuan, keduanya baik : sama-sama u memetakan kemampuan belajar siswa
    2. Dari segi sistem pelaksanaan : Jepang lebih baik karena ndak makan biaya besar, sebab sistemnya hanya survey, dan tidak semua sekolah diikutkan
    tujuan memetakan lebih bisa dicapai dengan biaya lebih rendah.
    3. Dari segi pemanfaatan yaitu sebagai penakar kelulusan atau kemampuan, sistem Jepang lebih baik, karena bukan sebagai penentu kelulusan, tp sebagai penakar kemampuan saja.
    4. Dari segi konten soal-soal ujian : saya baru membaca yg punya SD Jepang,dan mnrt saya kontennya
    bagus, soal-soalnya benar2 mampu mengukur kemampuan teori dan aplikasi.

    Tentang penerapannya di lapang, tidak usah dinilai, sebab di Jepang tidak ada laporan kecurangan dalam ujian, baik yg dilakukan oleh murid maupun guru/kepsej.

  5. […] menurut keterangan Mbak Murni Ramli lagi, untuk jenjang SD sampai SMP, memang ada ujian yang diselenggarakan secara nasional. Tapi itu […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: