murniramli

Ujian Nasional ? Meningkat !

In Pendidikan Indonesia, Serba-serbi Indonesia on Mei 1, 2010 at 5:23 am

Wacana tentang ujian nasional tak henti-hentinya diusung. Diskusi terus saja menghangat, sesekali berhenti jika ada masalah politik yg lebih menggemparkan di tanah air. Tetapi akan muncul kembali pada bulan-bulan April-Mei. Begitu terus sepanjang masa !Di satu pihak pemerintah teguh mengatakan UN sebagai alat ukur pemetaan kemampuan akademik siswa yang bersekolah di tanah air. Sebaliknya para pakar pendidikan yang kontra tegas berpendapat UN menghalangi kelulusan dan menimbulkan kecurangan baru di dunia pendidikan.

Pemerintah memutuskan UN harus dilanjutkan, dan para pakar menawarkan dihapus atau diperbaiki.

OK, mari kita berfikir iseng-iseng dan santai-santai tentang UN.

Jika akur dengan pemerintah, baiklah kita sepakat mengatakan UN menjadi tolok ukur pemetaan kemampuan akademik siswa. Saya kebetulan mencantumkan dalam disertasi saya ttg pemetaan UAN th 2007 yg waktu itu rata-rata hasil adalah 5.00. Dari semua provinsi, hanya Maluku Utara dan Sulawesi Tengah yang rerataannya hanya mencapai masing-masing 5.76 dan 5.95. Adapun rerataan tertinggi adalah Jawa Timur, 7.55. Tetapi boleh dikata, pencapaian rerataan UAN sudah melewati target. Peta yang terbentuk sangat bagus !

Setelah memandang-mandang diagram hasil UN 2007, sebagai rakyat awam, mari coba mewakili pemerintah berpikir-pikir akan diapakan data ini ? Karena nilai rerataan siswa2 di Maluku Utara dan Sulawesi Tengah yang rendah, maka baiknya kita alokasikan dana pendidikan lebih besar ke kedua daerah, lalu untuk Jatim, karena sudah bagus-bagus prestasinya, dana pendidikan dikurangi saja🙂 Atau bagaimana kalau kita komentari dulu petanya : “Oh, di Timur masih rendah, ya. Ya, sudah ! Ulangi lagi tes-nya tahun depan, siapa tahu ada keajaiban di Timur !”

Atau kita tunjukkan kepada negara-negara tetangga di Astengg : “Nih, lihat nilai siswa-siswa kami sudah lebih dari lima titik nol nol, bahkan sudah ada yang tujuh titik lima lima !”  Lalu, mendiknas sebuah negara tetangga akan mengatakan : ” Lalu….kenapa di tes PISA atau TIMSS, siswa-siswamu masih ada di nomor bontot ?”

Saya tidak berharap pemerintah akan membalas ejekan itu :”Ah ….itu kan yang ikutan dites anak-anak yang sekolahnya di pinggiran !” Coba kalau yang dites anak-anak kami yg menang di olimpiade sains, pasti posisi kami ndak sejelek itu ”🙂

Pemerintah kalau seperti itu mirip seorang bapak yang punya banyak anak tapi kebanyakan (karena mengikuti distribusi kurva normal) kurang pintar, dan hanya punya dua atau tiga anak yang pintar, lalu dengan bangganya berucap : “Anak-anak kami pintar-pintar ”  Kesimpulan itu tidak salah sama sekali dan sudah mengikuti kaidah bahasa yang benar, karena dua atau tiga sudah bisa dikategorikan jamak dan berhak menggunakan: anak-anak dan pintar-pintar. Tetapi akan salah jika dihitung dengan rumus yang benar (Sayangnya rumus yang dihafalkan sejak SD juga lenyap bersama zaman !)

Lalu bagaimana perjalanan peta mutu pendidikan selanjutnya ? Peta mutu pendidikan yang sudah dibuat Diknas dibawalah ke rapat kabinet, lalu ditunjukkan kepada Pak Presiden dan tak lupa dibawa pula peta buatan tahun lalu, dibandingkan ternyata gambar peta tahun ini lebih bagus, dan Pak Presiden memberinya cap :”Meningkat” Lalu kata “meningkat” dibawa ke DPR, yang karena sudah kebanyakan sidang, tidak sempat lagi melihat peta buatan dulu dan sekarang, dan akur saja dengan pak presiden : “Meningkat”. Kemudian disampaikan kepada para wartawan : “meningkat, meningkat, meningkat dan meningkat”, dan begitu yang tertulis di headline koran nasional sampai daerah.

Lalu anak-anak yang mengikuti ujian sama sekali tak tertarik dengan kata “meningkat” tadi. Yang mereka perlukan hanya ijazah dan waktu untuk beristirahat sejenak setelah berhari-hari tak tidur, sambil menarik nafas dua tiga tarikan, sebelum mendengarkan ceramah orang tua yang mendesakkan deretan pilihan PTN dan PTS yang harus dipilih salah satu. Selanjutnya yang masih punya nyali, harus tidak tidur lagi untuk ikut ujian masuk PTN, atau orang tua yang masih belum cukup tabungannya mesti tak tidur juga memikirkan bagaimana caranya menggenapkan uang masuk yang ratusan juta itu. Orang tua pun tak sempat berpikir dan peduli dengan kata “meningkat”.

Lalu bagaimana dengan guru-guru ? Guru-guru juga tak peduli dengan kata “meningkat”. Yang mereka ingin katakan kepada murid-murid adalah: “Nak, aku sudah bosan mengajarmu tiga tahun, jadi cepat-cepatlah lulus”.Kalau kau tidak lulus-lulus juga, bagaimana nasib adik-adikmu yang mau naik kelas ? sekolah tidak bisa memperbesar ruang kelas dan tidak mungkin menyuruh adik-adikmu duduk di luar kelas, kan ?” Dan ingat, kau harus belajar yang rajin, sebab kalau kau kelihatan plonga plongo saat ujian nanti, bapak/ibu terpaksa harus berbuat dosa, menyelipkan kertas jawaban di balik kertas ujianmu. Kau tahu kan, bapak sebenarnya sangat galak di kelas saat mengajarmu, dan mustahil hil hil memberimu contekan dalam ulangan. Enak saja ! Tapi, bapak terpaksa karena pak kepala sekolah memaksa, dan beliau juga dipaksa….”

Demikianlah, UN begitu terus dari tahun ke tahun….meningkat !”

  1. Mbak Murni, untuk ukuran pemerintah lagi-lagi angka sebagai pathokan. Toh seandainya seorang siswa nilainya di bawah 5 dan tidak diluluskan, apakah tahun berikutnya bisa menjamin anak tersebut mendapatkan nilai di atas 5. Padahal anak yang bersangkutan secara moral baik, tidak mencuri, tidak merugikan orang lain, dan yang penting tak berminat masuk Perguruan Tinggi. Dia hanya ingin cepat lulus dan menjadi petani seperti orang tuanya. Bertani untuk menghasilkan beras, untuk makan dirinya sendiri dan kalau bisa dijual untuk makan masyarakat. Masak anak yang demikian tetap tidak diluluskan.

  2. @Pak Roni : Ya, begitulah, Pak. dari jaman londo sampe skrg masih sama itungane.
    Btw, pemerintah menerapkan UN ulangan bagi yg ndak lulus UN tahap 1, jd dijamin semua lulus, dan ….jumlah lulusan meningkat🙂

  3. ha..ha..lucu banget ya…mau dibawa kemana negeri ini..hari gini masih ngomongin nilai dan angka tuk mngukur kecerdasan seseorg, lama-lama ntar byk yg gk mau sekolah lg…mending baca buku yg byk, jalin networking yg bagus, brtnya ke byk org,..hm…hm…hm…

  4. Saya rutin membaca tulisan mbak murni, tapi ini yang paling MENINGKATKAN lebar senyum saya. He…he…he

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: