murniramli

Apakah anda bersekolah karena disuruh negara ?

In Pendidikan Indonesia on Mei 5, 2010 at 6:37 am

Sekitar bulan Februari lalu, tulisan saya tentang RSBI dan sekolah Jepang pernah diposting di milis klubguru, dan karena saya tidak bergabung dalam milis itu, saya tidak bisa menyampaikan pendapat saya tentang kritikan atau tanggapan. Tetapi kelihatannya milis diset untuk bisa dilihat oleh umum, dan saya bisa membaca jalannya diskusi tersebut. Link-nya di sini. Tanggapannya agak telat memang, tetapi karena saya baru menemukan postingannya lagi🙂

Saya kutip sebuah email yang saya potong hanya pada bagian yg ingin saya tanggapi) :

Mbak Murni sekolah di jepang atas beaya siapa?
Dalam rangka tugas belajar atau mendapat beasiswa murni dari pemerintah jepang?
Untuk koordinator RSBI di Jateng perlu mempertimbangkan lagi untuk tidak memakai Mbak Murni ini. Seharusnya sebagai pendamping justru turut menjelaskan misi kunjungan kepala-kepala sekolah kita terhadap orang-orang jepang tersebut bukan malah larut dengan pemikiran mereka dan malah mempermalukannya.
Mungkin saat ini sedang di jepang jadi pemikiriannya dipengaruhi oleh pemikirin jepang.
Namun dalam tulisan di blog justru menanyakan mengapa program rsbi mengacu pada negara OECD, padahal negara OECD ini kumpulan-kumpulan negera bekas penjajah yang kaya dari jajahan mereka. Mbak Murni ternyata kuliah di Jepang apa gak takut dengan bekas negara penjajah? Mari kita tunggu kiprahnya setelah pulang ke tanah air semoga mampu mengubah mutu pendidikan di Indonesia.

Saya tanggapi seperti ini :

Saya bersekolah ke Jepang bukan karena disuruh negara atau pemerintah manapun. Program doktor yang saya jalani sekarang atas biaya sendiri, dan kebaikan kampus saya sekarang, memberikan saya tunjangan uang kuliah. Saya sama seperti orang-orang muda Indonesia lainnya yang bermimpi mengecap pendidikan di negara lain, supaya bisa mendapatkan ilmu yang lebih baik. Karenanya kami mengabaikan masa muda, menikmati hiburan di luar, bersenang-senang. Kami lebih memilih hidup hemat, tinggal di apartemen murah, bekerja siang malam apa saja asalkan halal, supaya bisa mendapatkan kesempatan menjadi orang yang lebih terdidik di negeri Jepang. Apakah pemerintah pernah peduli dengan kami? tak tahulah sebab kami pun kadang-kadang tidak sempat memikirkannya.

Bukan karena saya dan teman-teman berada di luar Indonesia, maka kami berani mengkritik negara kami sendiri, sebab ketika di dalam pun kami biasa mengkritik. Saya dan banyak teman kebetulan sekali mengenal dan mempelajari sistem yang agak berbeda dengan apa yang selama ini diterapkan di tanah air. Jadi, tidaklah salah jika kami bersuara lain.

Dan saya pikir teman-teman yang mendapatkan beasiswa baik dari pemerintah Indonesia maupun pemerintah Jepang tidak dibungkam mulutnya dan dibelenggu untuk bisa berkata kritis dengan setumpuk beasiswa tsb. Tidak ada pesan sponsor seperti itu ketika mereka harus menerimanya. Dan jangan dikatakan ketika kami bersuara keras, kami adalah pembangkang, tidak punya rasa nasionalisme…..kami tidak perlu bersumpah untuk membela diri.

Tentang statement agar RSBI Jateng tidak memperkerjakan saya, perlu saya jelaskan bahwa saya dipekerjakan oleh pihak Jepang, kampus saya. Jam kerja dan sistem penggajian diatur oleh pihak kampus, dan saya diperlakukan sama dengan mahasiswa Jepang lainnya (ada dua penerjemah pada saat kunjungan). Saya tidak ada sangkut pautnya dengan bapak-bapak kepala sekolah yang berkunjung, juga bukan staf diknas. Jadi, jika mau pihak yang seakuran dan dijamin tidak akan mengkritik memang sebaiknya menggaji dan membawa translator sendiri dari Indonesia.

Saya sama sekali tidak mengerti dengan pernyataan mempermalukan mereka. Mempermalukan di bagian mana, sebab saya tidak menyampaikan uneg-uneg sebenarnya kepada pihak Jepang, bagaimana mungkin saya lancang menjelaskan pandangan saya ttg RSBI (sebagaimana dalam tulisan di blog) kepada para professor sementara tugas saya saat itu hanya sebagai penerjemah? Bisa-bisa saya dipecat🙂 Misi-misi yang mau disampaikan oleh pihak kepsek telah dijelaskan oleh ketua rombongan (Diknas Jateng) dan tugas saya hanya menerjemahkannya. Jadi, bagian mana yang dipermalukan ?

Tentang pemikiran yang larut dengan pemikiran Jepang, saya pernah menuliskan hal ini di blog. Seandainya saya bersekolah di Amerika, saya akan menjadi lebih Amerika daripada orang Amerika sendiri. Pemikiran baik dari negara manapun patut dipegang dan dihargai, pemikiran yang kurang baik sekalipun dari negara sendiri, apakah layak untuk tetap harus dipertahankan? Alat ukur saya untuk menilai ini baik atau tidak, hanyalah ajaran agama saya saja. Jadi sekalipun saya telah terpengaruh pemikiran Jepang, prinsip benar salah tetap tidak berubah, semuanya lari kepada tuntunan agama.

Apakah saya takut kepada negara penjajah dengan bersekolah di Jepang ? Kenapa harus takut? Dengan mempelajari dan memahami baik sistem pendidikan mereka bukankah kita sudah menguasai (menjajah)nya? Sementara di Jepang dan manusia lain di dunia sudah berbusa-busa membicarakan tentang perdamaian dan menghentikan segala peperangan, tak patut apabila kita membangkitkan kembali aroma penjajahan.

Saya terlalu sombong jika mengatakan saya diperlukan oleh negara. Atau bahkan berkiprah mengubah mutu pendidikan di Indonesia. Apatah artinya seorang “murni ramli” yang belajarnya pun masih belum melewati umur balita. Kalau boleh memilih, jika saya diijinkan Allah untuk pulang, saya ingin tinggal di kampung sebagaimana masa kecil saya dulu, bisa bekerja, bisa mengajar dan kalau boleh bisa meneliti, mengamalkan ilmu, hidup normal sebagaimana orang awam lainnya, punya rumah dekat masjid,punya keluarga yang hangat, dan punya kebun kecil untuk bertani, sebab keluarga besar saya sejatinya adalah petani🙂

Saya ingin menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada pengirim email tsb, karena dengannya saya diajarkan tentang keragaman berpikir, keharusan menghargai, dan kehati-hatian bersuara.

  1. “pendidikan bukanlah barang elit yang harus diberikan hanya kepada sebagian anak yang pandai saja. Tetapi pendidikan adalah sebuah hak yang harus diterima oleh semua anak dengan kualitas yang sama. ”

    Setuju, Bu Murni. Bangeeeet!!!

  2. Bagus sekali tulisan ini, Bu. Saya kagum dengan ulasannya. Sebab menurut saya amat personal sekaligus profesional.
    Maju terus, Bu. Selamat belajar dan sekaligus.., selamat berjuang!

  3. mbak murni, dari anda saya banyak belajar. Terimakasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: