murniramli

Tata tertib perkuliahan

In Pendidikan Tinggi, Serba-Serbi Jepang on Mei 7, 2010 at 10:51 am

Hari ini sehabis tugas mengajar bahasa Indonesia di Nanzan, saya buru-buru balik ke kandang (kampus Meidai maksudnya) untuk menyiapkan presentasi di sebuah universitas swasta yang mahasiswanya perempuan semua, Kinjo Gakuin University. Presentasi ini berkenaan dengan kuliah International Culture, yang setiap kali menghadirkan beberapa presenter dari beragam negara. Ini kali kedua saya diminta untuk memberikan kuliah.

Materi yang saya sampaikan sebenarnya sama dengan tahun lalu, cuma penekanannya berbeda. Tahun lalu saya menyoroti kekhasan suku Bugis, karena saya orang Bugis, dan tahun ini saya lebih cenderung memaparkan keberagaman Indonesia dengan mengaitkannya dengan permasalahan pendidikan. Intinya saya ingin menunjukkan bahwa negara dengan banyak budaya, banyak suku, banyak bahasa dan banyak agama seperti Indonesia sangat sulit mengkondisikan pendidikan yang berkualitas sama untuk semua warganya. Masing-masing titik keragaman itu saya jelaskan melalui slide power point yang kebanyakan berupa foto-foto.

Saya sudah sering berhadapan dengan mahasiswa Jepang, dan pada umumnya mereka lebih suka melihat gambar daripada penjelasan berupa tulisan, terutama mahasiswa-mahasiswa yang malas mencatat tentunya. Karena kuliahnya 90 menit (satu jam presentasi dan 30 menit tanya jawab), maka kalau disuguhi tulisan melulu, pastilah mereka mendengkur. Pengalaman tahun lalu, dari sekitar 100 lebih peserta kuliah, karena umumnya anak-anak gadis belia yang masih senang-senangnya berdandan dan bergossip masalah fashion, jadi hampir sebagian besar mahasiswa mengobrol jika saja dosen yang menemani saya tidak menegur mereka.

Tahun ini dosen Jepang yang mengasuh mata kuliah ini mewanti-wanti mahasiswa untuk : tidak mengeluarkan HP atau mematikan HP, tidak makan/minum, tidak mengobrol, dan tidak ijin ke kamar kecil. Jika terpaksa harus ke kamar kecil karena sakit misalnya, tidak usah balik ke kelas lagi, tapi lebih baik istirahat. Maka alhasil, tadi sore sejak kuliah dimulai dari jam 15.05 sampai berakhir sekitar 16.35 tidak ada mahasiswa yang ke kamar kecil, dan tidak ada yang mengeluarkan HP, tapi masih ada yang mengobrol dan masih ada yang tertidur🙂

Jika dibandingkan tahun lalu, peserta perkuliahan tahun ini lebih bisa diatur, dan agak aktif bertanya. Pertanyaan yang mereka ajukan macam-macam, kadang-kadang keluar dari konteks, misalnya bagaimana saya memakai kerudung? apakah jarum pentul yang saya pakai tidak berbahaya? apakah sebelum ada peraturan kebolehan berjilbab di sekolah (th 1989), orang Islam tidak ada yang berjilbab? atau kenapa dalam program wajib belajar masih ada ujian kelulusan? atau apa yang dimaksud dengan daging halal ? kalau orang Sunda menikah dengan orang Jawa, lalu pindah ke Sumatera, apakah mereka harus membangun rumah adat beratap serupa tanduk kerbau (rumah Minang maksudnya)? dan masih banyak lagi.

Dalam slide saya menampilkan foto2 keragaman suku, dari mulai baju adat hingga rumah adat, dan pada saat menjelaskan ttg kesulitan bahasa, saya membuat sebuah diagram lucu tentang perkawinan antarsuku di Indonesia. Saya ingin menunjukkan bahwa perkawinan antar suku kadang-kadang menghasilkan generasi yang sudah tidak bisa lagi berbicara dalam bahasa ibunya, dan lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi. Apakah ini sebuah bencana atau tidak, tergantung dari sudut pandang mana kita menilainya, saya katakan demikian.

Berbeda dengan kuliah siang hari yang dihadiri sekitar 100 lebih mahasiswa, perkuliahan pagi hari (kuliah bahasa Indonesia) diikuti oleh 21 mahasiswa saja. Kuliah dengan peserta sedikit, tentu saja lebih mudah dikendalikan apalagi menyangkut pembelajaran bahasa yang memerlukan pengulangan dan pelatihan.

Tetapi ada dua fenomena yang sama yang saya dapati selama mengajar mahasiswa Jepang di dua universitas yang berbeda. Jika tidak ditegaskan dari awal tata tertibnya, maka jangan berharap kelas akan normal. Sejak i-phone mulai digemari kalangan muda Jepang, dalam perkuliahan mahasiswa sering meletakkan i-phone di atas mejanya, dan pasti bisa ditebak, tidak ada yang tahan lima menit untuk tidak menggerak-gerakkan telunjuknya menyentuh screen i-phone. Jadi, peraturannya sama : matikan HP dan jangan dikeluarkan ! Dan saya punya aturan kedua : “yang mengobrol akan saya tanya”🙂

Aturan lain saya bacakan di kuliah pertama dan “paksa” mahasiswa untuk bersepakat. Misalnya datang terlambat 15 menit dianggap tidak hadir. Ketidakhadiran hanya boleh 3 kali jika ingin ikut ujian. Setiap pertemuan ada tes kosakata, dan pasti ada PR. Yang mengobrol atau yang tidur harus menjawab atau membuat pertanyaan. Tidak boleh makan minum. Dan sebelum pulang saya akan menyerahkan lembar jikogakushuu, semacam LKS untuk lebih memperdalam bahasa Indonesia, yang harus dikerjakan di rumah dan dibawa lagi minggu depannya untuk saya periksa.

Barangkali mahasiswa-mahasiswa saya sebel juga dengan peraturan itu, tapi kalau tidak ada itu, mereka bisa “menciptakan pasar bebas” di dalam kelas🙂

  1. Assalamualaikum wr. wb

    Afwan mbak Murni Ramli, perkenalkan saya Bowo usia 26 tahun lahir di Jakarta, keturunan Jawa, menetap di Bekasi.
    Sekali lagi maaf, karena saya ingin memberikan tanggapan/pertanyaan yang keluar dari topik ini.
    Maksudku saya, boleh minta bantuan mba Murni ga, tolong referensikan saya gadis dibawah 20 tahun orang/keturunan Jepang yang bisa berbahasa Indonesia dan juga beragama Islam, kemudian semoga Allah mengabulkan, seorang gadis tersebut akan saya colonkan menjadi istri saya, saya serius mba tentang ini.

    Jika ada yang ingin ditanyakan lebih lengkap perihal ini dapat di email ke aku, aku tunggu ya mba bantuannya, terima kasih (semoga Allah ta’ala membalas kebaikan mba)

    Wassalamualaimkum wr wb

  2. kedisiplinan mahasiswa Jepang menurut pandangan saya sudah dari nenek moyang mereka…?mungkin mbak Murni memoles sedikit untuk disiplin di perkuliahan, apakah mereka semua nurut ya…misalkan tugas yang mbak beri dan aktif mahasiswa di Jepang berapa persen(%) jika di nilai bobotnya? saya lihat di TV dan acara2 lain mahasiswa di wajibkan pakaiyan seragam ya..?

    • @Yudi : kedisiplinan orang muda Jepang sdh sangat menurun dibandingkan generasi tuanya.
      Banyak jg mahsw yg tdk mengerjakan PR, kalau dipersentasikan sekitar 50%.
      Saya belum pernah lihat ada kampus yg mewajibkan mahasiswa pakai seragam di Jepang.
      Seragam biasanya hanya sampai SMA.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: