murniramli

Mengenang rumah-rumah kami

In Renungan, Serba-serbi Indonesia on Mei 8, 2010 at 1:34 pm

Rumah peninggalan almarhum bapak ada dua, satu terletak di Makassar yang mungkin dibangun tahun 60-an dan satu lagi di Madiun yang dibeli tahun 97. Rumah yang ada di Makassar adalah tempat saya dan kakak diasuh sejak kami bayi, sebab waktu itu bapak bekerja di galangan kapal di Makassar. Rumah itu dekat dengan pelabuhan, dan keberadaannya hampir tergusur di antara rumah-rumah batu yang berdiri di sekitarnya.

Kami tidak pernah berniat mengubahnya menjadi rumah batu, sebab rumah kayu itu adalah hasil keringat almarhum paman-paman yang bergotong royong membangunnya. Rumah itu sangat sederhana, tetapi papan-papannya sangat kuat, diangkutkan dari kampung ayah di Ujung lamuru. Alasan kedua, rumah itu telah menjadi tempat tinggal silih berganti saudara-saudara kami dari kampung yang ingin bersekolah di Makassar, dan tidak punya tempat tinggal atau uang untuk kost-kost-an.Rumah itu juga menjadi tempat bersejarah dua adik saya yang menyelesaikan kuliahnya di UNHAS.

Hanya dua yang ingin kami perbaiki dari rumah itu, WC dan kamar mandinya dan bawah rumah yang dijadikan kamar-kamar oleh saudara-saudara yang ingin tinggal di Makassar dan semakin banyak jumlahnya. Sekarang karena keluarga besar kami tinggal di Madiun, maka rumah ditinggali oleh sepupu dan keluarganya. Jika kami pulang ke Makassar, rumah tua itu menjadi tempat ternyaman di Makassar yang panas. Rumah itu juga menjadi base camp keluarga besar kami yang bertandang ke Makassar. Siapa saja boleh singgah di sana, dan kami biasa tidur tumpuk-tumpuk🙂

Rumah di Madiun tidak lama saya tinggali, sebab masa SMP dan SMA keluarga saya tinggal di kompleks pabrik gula, dan rumah itu dibeli saat saya sudah kuliah master di IPB. Jadi saya hanya menikmatinya saat pulang kampung ke Madiun. Tetapi saya menyukai rumah itu karena sangat asri sekalipun halamannya kecil.

Selain rumah milik tersebut, saya masih ingat rumah-rumah yang pernah saya tinggali di kompleks pabrik gula. Sewaktu bapak masih menjadi teknisi rendahan di PG Bone kami tinggal di sebuah rumah dengan nomor KK 20. Rumah jaman Belanda dengan halaman sangat luas. Di halaman depan ditanami rumput Jepang, tempat kami biasa memasang tenda dari kain seprei yang dibentangkan bapak di atas bambu-bambu yang dipasang melintang. Halaman sampingnya ditumbuhi dua pohon juwet yang biasa saya panjati sepulang sekolah.  Lalu di dekat pohon juwet ada kebun kecil tempat bapak menanam tomat, kacang panjang, cabe, labu kuning. Saya biasa bermain sembunyi-sembunyian di situ dan kadang-kadang mencuri tomat yang sudah ranum. Di halaman depan ada pohon jeruk bali dan nangka yang buahnya jarang, tetapi sekali berbuah rasanya enak sekali. Jika dia berbuah, kami pasti berpesta mengundang tetangga-tetangga. Di samping kiri rumah ada halaman kecil, ditanami belimbing dan bunga-bunga. Di halaman belakang ada pohon juwet dan kandang ayam serta tempat mamak menjemur pakaian. Saya lupa apakah ada pohon mangga di dekat situ, tapi seingat saya ada pohon turi di samping rumah di dekat kebun, karena mamak sering membuatkan kami bedak dingin dari campuran bunga turi.

Ketika jabatan bapak meningkat, kami pindah ke rumah yang lebih besar, nomor S47. Halaman depannya memanjang, dan halaman belakangnya luas sekali. Halaman depan ditanami bapak dengan kacang tanah yang diselingi jagung, dan pojok kiri depan ditanami mamak dengan bunga-bunga semacam kembang berdoa yang daunnya besar, dan saya bisa masuk bersembunyi di tengahnya sewaktu bermain petak umpet. Di halaman samping deretan bunga dan tanaman obat yang ditanam mamak. Halaman belakang adalah surga bagi bapak yang senang sekali menanam. Hamparan jagung manis yang kadang-kadang diselingi labu kuning atau kacang polong. Dan di batas-batas tembok tinggi yang berbatasan dengan rumah tetangga ada pohon kedondong. Saya agak lupa apakah rumah S47 mempunyai halaman samping kanan. Tetapi sepertinya ada, karena saya ingat ada tanaman sayuran di situ. Hasil panen jagung, kacang menjadi santapan kami dengan tetangga. Mamak akan mengundang tetangga sekomplek untuk menikmati barobbo, semacam bubur jagung yang dicampur sayuran dan udang atau teri. Rebusan kacang tanah sangat manis karena baru saja dipanen. Saking banyaknya sayur di rumah kami, jarang sekali mamak berbelanja sayur di pasar. Seperti biasa bapak selalu mendirikan kandang ayam kecil di halaman belakang.

Keluarga kami pindah ke PG Pagotan di Madiun, dan saya tinggal di rumah C-24. Ini juga rumah belanda besar dengan atap tinggi yang memungkinkan kami bermain badminton di dalamnya sewaktu belum ada isinya. Pagarnya tembok pendek. Halaman depannya cukup luas, dengan satu pohon kelapa di tengah, pohon mangga gadung di sampingnya, dan di samping kanan bapak menanaminya dengan pohon jambu mawar dan kersen. Selain itu bunga-bunga dan tanaman obat mamak. Di halaman samping ada dua pohon mangga, gadung dan arum manis. Pohon-pohon mangga itu terus berbuah sehingga kami perlu membagi-bagikan buahnya ke tetangga, sebab gudang penyimpanan sudah tidak memadai. Saya biasa makan pagi mangga, makan siang mangga, makan malam mangga lagi, jika panen tiba.

Karena tanahnya keras, bapak kesulitan menanam sayur, atau kacang-kacangan, tetapi setelah dicangkul dan dikomposi, halaman samping dekat mangga dapatlah ditanami sedikit tanaman. Ketika saya sudah mulai kuliah di IPB, bapak kemudian menanami halaman samping dengan labu belanda, yang bunganya ungu putih cantik dan baunya harum sekali. Halaman belakang tadinya kandang ayam dan kolam lele. Bapak membuat kolam lele karena kami semua senang makan ikan. Sebelumnya ikan-ikan kecil pernah juga dipelihara di situ, dan sering kali kami tidak peduli apakah ikan masih kecil atau tidak, kalau sudah cukup untuk digoreng, maka kami gorenglah:-)  Bapak kemudian berinisiatif membangun kolam renang kecil di belakang rumah. Kolam itu tingginya sebatas pinggang saya, hanya cocok untuk anak-anak kecil, tetapi senangnya kami dan anak-anak tetangga. Setiap hari anak-anak datang berenang atau berendam di situ hingga kulit membiru dan mata memerah. Saya paling suka berendam di situ hari minggu, karena mamak akan menyuapi kami dengan nasi goreng. Saya tinggal di rumah itu selama SMP hingga tahun awal masuk ke IPB. Di rumah, selain ikan, kucing, kelinci dan burung beo adalah peliharaan kami. Selain itu bapak yang penggemar perkutut mewajibkan ada perkutut dan parkit di rumah. Saya biasa berlomba dengan perkutut, saling bergantian membunyikan turukutut kutut tut tut. Tapi saya pasti kalah🙂 Si beo yang pandai meneriakkan suara loko tebu, mati karena kebanyakan makan pisang kata adik, dan dua ekor kelinci mati karena terkena semprotan massal demam berdarah karena bersembunyi di dalam gudang, dan seekor lagi tenggelam di kamar mandi belakang. Adik menguburkannya di depan rumah. Kucing-kucing, entah dari mana jumlahnya cukup banyak.

Setelah pensiun dari pabrik gula, bapak membeli rumah di kota Madiun. Rumah yang sekarang ditinggali mamak, kakak, adik-adik. Halamannya ketika dibeli cukup besar, tetapi rumah kemudian diperlebar, dan jadilah halamannya hanya secuil di belakang dan di memanjang di depan. Tetapi sekecil apapun halaman rumah, bapak dan mamak saya tidak pernah berhenti menanam. Di luar pagar rumah ditanami dengan mangga, yang kemudian ditambahi oleh adik dengan alpukat, sirsak berdesak-desakan di situ, diselingi dengan tanaman obat-obatan mamak. Di bagian dalam pagar, tanaman bunga dan buah serta puluhan lidah buaya. Mamak dan kakak biasanya mengolahnya menjadi juice lidah buaya yang kadang-kadang dijual di bazar 17-an. Di depan kamar almarhum bapak ada kolam lele, yang kemudian ditimbun. Saya sangat menyayangkannya karena dulu, setiap kali pulang ke rumah dari Bogor atau bahkan ketika saya sudah di Jepang, alamarhum bapak selalu memanjakan saya dengan tangkapan lele, dan mamak membuatnya pecel lele yang terenak di dunia. Di halaman belakang yang kecil ada pohon belimbing yang rajin berbuah, dan ada kandang ayam, tempat kami memelihara ayam untuk kemudian disembelih. Tapi kadang-kadang ayam tsb rajin bertelur, sehingga bapak tidak jadi memotongnya🙂 Adik sekarang menanam pohon markisa di belakang sehingga kami bisa menikmati sirup markisa buatan adik. Di depan rumah adik juga menanam pohon aggur, sehingga kadang-kadang kami panen anggur hijau. Sepertinya adik saya mewarisi kegemaran bertani bapak dan mamak. Saking kecilnya halaman rumah kami, almarhum bapak dulu memanfaatkan lahan kosong di depan rumah milik seorang tetangga. Bapak menanaminya jagung, kacang kedele, labu, dan pisang. Saya rajin membawakan bibit-bibit pisang dan benih-benih dari Bogor atau dari daerah2 yang saya kunjungi. Di tanah itu sekarang telah berdiri sebuah rumah, dan masih ada jejak bapak di situ berupa sebuah pohon mangga apel yang mulai rajin berbuah.

Rumah kami selalu dipenuhi dengan tanaman dan ternak. Bapak tidak menggunakan pupuk kimia, tetapi membuat kompos sendiri sebagaimana adik sekarang lakukan. Jika hendak dibandingkan dengan bapak, saya yang bersekolah di IPB, barangkali tidak ada apa-apanya. Bapak sangat pakar karena pengalamannya, sekalipun bidang keahliannya adalah perlistrikan.

Saya sangat merindukan halaman besar yang bisa ditanami jagung, sayur-sayuran, buah-buahan, rumah tidak perlu besar, asalkan halamannya luas dan bisa ditanami, cukuplah itu. Karena tanah-tanah di kota mahal, barangkali saya memang harus tinggal di kampung🙂

Rumah-rumah dengan tanam-tanaman,kolam dan suara binatang peliharaan menurut saya akan membawa kedamaian kepada penghuninya. Sifat-sifat amarah akan hilang dengan menikmati hijau dan warna-warninya bunga, dan akan tenggelam dengan suara percikan air. Jika sudah kembali ke alam, maka manusia pun akan lebih khusyuk beribadah dan mendekatkan diri kepada penciptaNya.

  1. Wahh ternyata pernah tinggal di Madiun ya…
    Saya lahir dan besar di Madiun, meneruskan di IPB….rumah orangtua masih ada, ya cuma ditinggalin orang lain sekedar untuk merawat. Maklum di kota kecil, kalau mau dikontrakkan juga ga laku, karena keluarga muda, yang belum punya rumah akan cari rumah kontrakan yang kecil.

  2. Ya, Bu. Sekarang keluarga pun masih tinggal di sana.

  3. Lagi rindu … dengan suasana di kampung ya bu …

  4. @Pak Bakhrudin : ya.begitulah, Pak. Kebetulan sedang membaca-baca ttg konsep satoyama di Jepang

  5. salam kenal dari Madiun, bu…
    kerinduan kampung halaman memang seringkali tak tergantikan

  6. berarti ibu kakak kelas saya dong, saya lulus dari SMA 2 Madiun tahun 1992. Mulai mengajar di SMA 2 tahun 2002 (sebelumnya di SMP). Kabar Pak Dimyati dan semua guru di sini baik. Pak Dwi dan Pak Muryat juga masih mengajar. sekarang sedang sibuk membina siswa untuk persiapan OSN tingkat Jatim.
    mohon izin saya pasang link-nya dari blog saya ya, bu?

  7. terima kasih kunjungan baliknya,
    berarti ibu kakak kelas saya dong, saya lulus dari SMA 2 Madiun tahun 1992. Mulai mengajar di SMA 2 tahun 2002 (sebelumnya di SMP). Kabar Pak Dimyati dan semua guru di sini baik. Pak Dwi dan Pak Muryat juga masih mengajar. sekarang sedang sibuk membina siswa untuk persiapan OSN tingkat Jatim.
    mohon izin saya pasang link-nya dari blog saya ya, bu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: