murniramli

Kalau ingat mati

In Islamologi, Renungan, Serba-Serbi Jepang on Mei 14, 2010 at 3:40 am

Kalau ingat bahwa anda akan mati, apa yang akan anda lakukan ?

Entah kenapa saya tiba-tiba saja teringat tentang mati ketika selesai sidang/pembahasan kedua disertasi saya kemarin. Dari jam dua lewat sedikit sampai jam lima sore, lumayan membuat penat dan kepala klieng-klieng, karena bab dua yang dibahas hari ini tentang pendidikan Indonesia masa Jepang.

Seperti sudah pernah saya bahas dalam blog ini bahwa penulisan disertasi bab dua sungguh berat karena kekurangan data otentik tentang kondisi pendidikan Indonesia pada masa itu. Saya hanya mengandalkan satu buku utama berisi dokumen militer Jepang di Jawa yang diterbitkan pada tahun 1991. Buku terbitan selanjutnya tentang pendidikan jaman Jepang di Indonesia kebanyakan mengacu pada tulisan tsb.

Pada sidang kemarin, sensei-sensei sengaja membawakan saya buku-buku yang kira-kira bisa dipakai sebagai referensi. Buku-buku tsb tidak terbeli oleh kocek saya karena harganya yang selangit. Saya beruntung dengan kebaikan sensei. Setelah membolak-balik buku-buku tersebut, sensei menyampaikan beberapa pertanyaan yang terkait dengan studi literatur yang saya lakukan. Saya cukup berhati-hati menuliskan kutipan dan data terutama penggunaan istilah pada masa itu. Setiap nomenklatur sekolah akan dicek kembali oleh sensei di literatur yang lain dan saya senang dengan keketatan sistem seperti ini. Kutipan yang saya buat diperiksa ulang, apakah saya sudah menyebutkan sumbernya dengan jelas. Sebenarnya gampang sekali mengetahui mana kalimat yang saya buat dan mana yang mengutip, sebab bahasa Jepang saya tidak memadai kecanggihan kalimat yang saya kutip. Jadi, saya selalu sadar menuliskan halaman kutipan. Itu pun sangat membantu saya dalam melacak kembali.

Sidang diakhiri dengan keadaan yang sudah lelah sekali baik saya maupun sensei. Sedianya hari ini akan membahas dua bab, tapi bab tentang pendidikan Jepang sangat menarik, dan tidak ada waktu membahas bab tiga. Sensei menilai apa yang saya tulis menarik tetapi masih perlu perbaikan di bagian pengantar bab, dan menggarisbawahi beberapa poin yang dapat menjadi tema penelitian masa depan.

Sambil dibantu seorang adik kelas saya mengangkuti buku-buku tebal tersebut ke ruang belajar. Saya pandangi satu per satu buku-buku yang hampir semua penulisnya telah meninggal dunia. Sungguh beruntung mereka diberi kemampuan menulis, sehingga tertinggalah itu sebagai jejak-jejak yang akan dibaca dan dipelajari sepanjang masa untuk memahami kemajuan yang telah diraih manusia.

Bagi seorang peneliti apa yang ditemukannya seharusnya dipaparkan dan dituliskan agar orang yang terkait mengetahui hasil kerjanya. Seorang pengajar perlu mengajarkan semua ilmu yang dimilikinya kepada murid-muridnya tanpa perlu menutupi-nutupinya. Seseorang yang mempunyai beragam ilmu dan keahlian, hendaknya mengajarkan itu kepada siapa saja yang bersungguh-sungguh ingin mempelajarinya karena kalau ilmu itu tidak diajarkannya, maka pelan-pelan dia akan pergi.

Saya mempunyai kesempatan mempelajari tafsir Al-Quran di pesantren semasa kuliah di IPB dulu, dan ilmu itu menjadi lekat sekali dulu, ketika saya masih rajin mengajarkannya kepada ibu-ibu dan mahasiswi2 yang berminat. Setelah berangkat ke Jepang, saya hampir terkunci dengan skedul kuliah dan kerja yang padat, sehingga tidak ada waktu untuk mengajarkan itu. Sekitar tiga bulanan lalu, tiba-tiba saja Allah memberi jalan, dengan teman-teman yang mau belajar dan bersedia berkumpul setiap pekannya. Maka jadilah saya mengajarkan ilmu itu.

Saking bersemangatnya, seorang teman pernah bertanya atau tepatnya mengeluh, mengapa harus diadakan setiap minggu ? Mengapa tidak diadakan sebulan sekali saja atau dua minggu sekali ? Kadang-kadang saya berfikir saya terlalu bersemangat dan tidak kasihan dengan teman-teman. Tetapi sejatinya saya merasa waktu saya semakin terbatas. Tidak semua hari dibuat lapang oleh Allah, karenanya ketika ada waktu lapang, saya menawarkan siapa yang ingin belajar maka saya bersedia mengajarnya. Saya tidak pula ingin teman-teman merasa bosan dan terpaksa, karenanya absen tidak berlaku, dan siapa saja boleh ikut serta.

Saya mungkin berbeda pandangan dengan teman-teman tentang urgensi orang memperlajari Al-Quran dan perlunya mengamalkan itu. Jika teman-teman menganggap mempelajarinya hanya perlu sesekali saja, maka bagi saya setiap hari seharusnya kita mempelajarinya. Karenanya saya merindui kehidupan di pesantren dulu, ketika setiap subuh kami mempelajari tafsir tanpa pernah merasa bosan.

Bagi teman-teman hanya ahli agama saja yang semestinya belajar giat untuk mengetahui tafsir Al-Quran, bagi saya semua orang harus bisa memahami dan bahkan bercita-cita menjadi guru untuk mengajarkan Al-Quran : membacanya, memaknainya dan mengamalkannya.

Ilmu itu semestinya dipelajari hingga kita mampu mengajarkannya.

Begitulah, saya merasa dikejar-kejar waktu datangnya ajal, yang kadang-kadang membuat saya takut.

Tetapi saya sama dengan manusia lainnya, yang tidak setiap detiknya ingat mati. Ketika ingat mati, maka menjadilah kami orang-orang yang sangat khusyuk beribadah, bersemangat melakukan kebaikan. Tetapi ketika sekejap saja kami lupa, maka dipenuhilah hidup ini dengan waktu yang habis sia-sia dan ambisi mengejar dunia.

Sungguh kami perlu pengingat tidak saja setiap hari, setiap detik bahkan…

  1. subhanallah bunda.. jazakillahu khoiron sudah diingatkan

  2. do’a utkmu🙂

    AL MU’MINUUN (23) : 97-98

    97. Dan Katakanlah: “Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan.

    98. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau Ya Tuhanku, dari kedatangan mereka
    kepadaku.”

    THAA-HAA (20) : 25-28

    25. Berkata Musa: “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku[915],

    26. Dan mudahkanlah untukku urusanku,

    27. Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku,

    28. Supaya mereka mengerti perkataanku,

    AL AHQAAF (46) : 15

    • • •

    15. Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu
    bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan
    susah payah (pula). mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan,
    sehingga apabila Dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa:

    “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau
    berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang
    saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan)
    kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya
    aku Termasuk orang-orang yang berserah diri”.

    AN NAML (27) : 19

    19. Maka Dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) Perkataan semut itu. dan
    Dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang
    telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk
    mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu
    ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”.

    ALI ‘IMRAN (3) : 8

    • •

    8. (mereka berdoa): “Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau jadikan hati Kami condong
    kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada Kami, dan karuniakanlah
    kepada Kami rahmat dari sisi Engkau; karena Sesungguhnya Engkau-lah Maha pemberi
    (karunia)”.

    ALI ‘IMRAN (3) : 147

    147. Tidak ada doa mereka selain ucapan: “Ya Tuhan Kami, ampunilah dosa-dosa Kami
    dan tindakan-tindakan Kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami[235] dan
    tetapkanlah pendirian Kami, dan tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir”.

    [235] Yaitu melampaui batas-batas hukum yang telah ditetapkan Allah s.w.t.

    AL A’RAAF (7) : 23

    23. Keduanya berkata: “Ya Tuhan Kami, Kami telah Menganiaya diri Kami sendiri, dan
    jika Engkau tidak mengampuni Kami dan memberi rahmat kepada Kami, niscaya
    pastilah Kami Termasuk orang-orang yang merugi.

    AL MU’MINUUN (23) : 109

    109. Sesungguhnya, ada segolongan dari hamba-hamba-Ku berdoa (di dunia): “Ya
    Tuhan Kami, Kami telah beriman, Maka ampunilah Kami dan berilah Kami rahmat dan
    Engkau adalah pemberi rahmat yang paling baik.

    AL MU’MINUUN (23) : 118

    118. Dan Katakanlah: “Ya Tuhanku berilah ampun dan berilah rahmat, dan Engkau
    adalah pemberi rahmat yang paling baik.”

    AT TAHRIIM (66) : 8

    • •

    8. Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa
    (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-
    kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-
    sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang
    bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka,
    sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb Kami, sempurnakanlah bagi Kami cahaya Kami
    dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

    NUH (71) : 28

    28. Ya Tuhanku! ampunilah Aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahKu dengan
    beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. dan janganlah Engkau
    tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan”.

    AL MAA-’IDAH (5) : 114

    114. Isa putera Maryam berdoa: “Ya Tuhan Kami turunkanlah kiranya kepada Kami
    suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi Kami Yaitu
    orang-orang yang bersama Kami dan yang datang sesudah Kami, dan menjadi tanda
    bagi kekuasaan Engkau; beri rzekilah Kami, dan Engkaulah pemberi rezki yang paling
    Utama”.

    HUUD (11) : 47

    47. Nuh berkata: Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari
    memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya. dan
    Sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaKu, dan (tidak) menaruh belas kasihan
    kepadaKu, niscaya aku akan Termasuk orang-orang yang merugi.”

    AL A’RAAF (7) : 126

    • •

    126. Dan kamu tidak menyalahkan Kami, melainkan karena Kami telah beriman kepada
    ayat-ayat Tuhan Kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami”. (mereka berdoa): “Ya
    Tuhan Kami, Limpahkanlah kesabaran kepada Kami dan wafatkanlah Kami dalam
    Keadaan berserah diri (kepada-Mu)”.

    AL BAQARAH (2) : 200-201

    • ••

    200. Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, Maka berdzikirlah dengan
    menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek
    moyangmu[126], atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara
    manusia ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan Kami, berilah Kami (kebaikan) di dunia”,
    dan Tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.

    • •

    201. Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan Kami, berilah Kami
    kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari siksa neraka”

  3. waktu sangat mahal ga bisa terulang. klo mati ga bisa hidup lagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: