murniramli

Memberantas Korupsi ala Jepang : Jigyou shiwake

In Serba-Serbi Jepang on Mei 23, 2010 at 5:40 am

Banyak orang yang berpandangan bahwa Jepang adalah negara yang nihil atau minim korupsi, bahkan kejujuran orang Jepang sudah sangat masyur di mana-mana. Termasuk saya yang awalnya menelan informasi itu begitu saja.Tetapi belakangan ini saya dan mungkin kebanyakan rakyat Jepang menjadi tahu kebobrokan lembaga atau institusi yang dibiayai pajak rakyat Jepang. Saya termasuk orang yang merasa dirugikan sebab saya juga membayar pajak di Jepang karena saya bekerja, sekalipun itu hanya pekerjaan paruh waktu.

Semenjak PM Hatoyama memerintah, ada sebuah tim yang ditunjuk untuk memeriksa semua lembaga atau institusi pemerintah yang memanfaatkan pajak dari rakyat Jepang, apakah uang rakyat telah benar-benar dipakai dengan adil. Tim tersebut adalah行政刷新会議 (dibaca gyouseisasshinkaigi atau Goverment Revitalisation Unit), yang tugas utamanya disebut 事業仕分け(baca : Jigyoushiwake) atau pemeriksaan keuangan proyek.

Membicarakan tentang jigyoushiwake atau disingkat shiwake tidak bisa dilepaskan dari Ren Ho Murata, seorang wanita blasteran Taiwan dan Jepang. Ayahnya berkebangsaan Taiwan dan Ibunya Jepang. Tahun 1985 dia mendaftarkan diri sebagai warga negara Jepang, dan selanjutnya wanita yang mempunyai keahlian hukum ini terjun di bidang politik, masuk sebagai anggota Partai Demokrat, dan sekarang menjadi wanita paling disegani dalam proses Jigyoushiwake. Data selengkapnya silakan menengok liputan mas wiki.

Jigyoushiwake telah berlangsung sejak tahun lalu, dan sudah ada ratusan institusi yang mereka periksa. Saya mengikuti siarannya di TV beberapa saja, salah satunya adalah kegiatan JICA yang pemeriksaannya berlangsung April lalu. Salah satu yang dikritik adalah gaji dan bonus yang diterima oleh staf JICA yang bekerja di luar negeri. Selain gaji tetap bulanan staf JICA menerima tunjangan sebesar 440 ribu sampai 640 ribu yen, yang dianggap oleh anggota tim shiwake membuat kaget masyarakat Jepang. Adapun penghasilan tahunan rata-rata staf administrasi JICA adalah sebesar 16 juta yen dengan jumlah staf 13 orang dianggap sangat besar. JICA diminta mengurangi jumlah stafnya, dan juga mengurangi pembiayaan proyek di luar Jepang.

Satu lagi yang cukup membuat shock beberapa hari lalu adalah shiwake terhadap Pusat Industri Garam Jepang (塩事業センター, baca shiojigyou senta). Yang dikritik adalah aset sebesar 60 miliar yen, sementara harga garam di pasaran tidak turun. Pusat Industri Garam dianggap memonopoli produksi garam dan tidak menjalankan pasar bebas. Tim shiwake meminta mereka untuk menyerahkan kepada negara aset tersebut.

Yang baru-baru ini mereka garap adalah 日本宝くじ協会(baca Nihon takarakuji kyoukai, NTK) atau Japan Lottery Association. Pada tahun anggaran 2008, Nihon takarakuji kyoukai memiliki penghasilan sebesar 1,049 triliun dari hasil menjual lottery kepada warga Jepang. Sebesar 45.7% disalurkan dalam bentuk tiket lottery dan 14.2% dinikmati oleh pengurus NTK dan 自治体総合センター(baca : Jichitai sougou senta- atau Pusat Otonomi Daerah, JSS). Pengurus NTK sebanyak 3 orang, dan pengurus JSS sebanyak 5 orang termasuk mantan birokrat. Lalu lembaga yang bertugas menjual Lottery Jumbo ada 4 dengan staf sejumlah 66 orang. Mereka dianggap menerima apa yang disebut 天下り (baca : amakudari, atau jabatan yang diturunkan dari surga). Gaji yang diterima para pengurus kira-kira sebesar 19,41 juta yen per tahun.  Ketika seorang anggota tim shiwake menanyakan kepada pengurus, mengapa gaji mereka begitu tinggi ? Dengan gampangnya pengurus NTK menjawab : “karena pegawainya sedikit”. Jawaban tersebut mengundang tawa semua peserta sidang (jawaban yang logis tapi sangat menunjukkan kebodohan-red). Tim shiwake menganggap pengurus yang kebanyakan birokrat senior telah menggunakan uang rakyat dengan semena-mena dan meminta mereka untuk hidup sederhana dan tidak menghamburkan uang rakyat.

Jigyou shiwake dibahas di beberapa media sebagai pendekatan yang cukup bagus untuk memeriksa penggunaan uang rakyat di lembaga atau institusi yang dikontrol negara. Terdapat sekitar 447 proyek yang akan diselidiki dan tim ini bekerja sangat cepat sehingga sudah puluhan masalah yang dibongkar. Pertanyaan yang sering diajukan adalah “ke mana uang itu pergi ?” atau “kenapa pembiayaan terlalu besar?”

Program ini menjadi sangat menarik dan ditanggapi positif oleh rakyat Jepang, karena dengannya mereka dapat mengetahui bagaimana penyalahgunaan pajak yang mereka bayarkan.Tetapi mereka juga mengkritisi apakah proyek-proyek yang diputuskan berhenti atau ditinjau ulang benar-benar dilaksanakan, yang dengan demikian rakyat bisa menikmati hasilnya, misalnya dengan penurunan harga garam.

Demikianlah, saya yang sekalipun kadang-kadang tidak mengerti detil pembicaraan dalam Sidang jigyou shiwake, sangat menikmati kepandaian anggota tim bersilat lidah, dan berharap tim seperti ini ada di Indonesia.

  1. Kayaknya lebih cepat geraknya dibanding KPK ya… bu…

  2. Ayo KPK berjuanglah!
    Apa rakyat Indonesia boleh menyewa Shiwake untuk membongkar semua kasus korupsi di Indonesia ya?
    Apa pemerintah Jepang sering melakukan perbaikan kinerja?
    Semoga pemerintah Indonesia bisa cepat tanggap seperti itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: