murniramli

Menyeletuk

In Pendidikan Indonesia, Pendidikan Jepang, SD di Jepang, Serba-Serbi Jepang on Mei 27, 2010 at 2:22 pm

Ada perbedaan nyata yang saya temui dari hasil mengamati perkuliahan yang beberapa kali saya ikuti atau saya sebagai pengajarnya. Perkuliahan di sini termasuk kuliah-kuliah yang saya bertugas menjadi penerjemah.

Pada umumnya kuliah dengan peserta orang Jepang, selalu sunyi senyap, yang terdengar hanya suara dosen/pengajar. Mahasiswa Jepang cenderung diam atau tidur kalau mereka bosan mendengar celoteh dosen. Atau kalau pesertanya semua mahasiswi, biasanya mereka asyik berdandan atau mengobrol.

Kelas-kelas yang dihadiri oleh mahasiswa asing barangkali karena terpengaruh oleh budaya Jepang juga senyap saat dosen berbicara, tetapi sangat ramai dengan pertanyaan saat jam diskusi.

Nah, bagaimana dengan perkuliahan/kelas yang pesertanya orang Indonesia kebanyakan? Orang Indonesia ternyata suka sekali menyeletuk selama perkuliahan berlangsung. Mengomentari dengan santai dan kadang-kadang tidak peduli apa perkataan pembicara. Saya tidak tahu apakah ini akibat dari kebebasan bicara yang terbuka lebar pasca Suharto. Sebab selama saya SD-SMP-SMA-hingga kuliah di IPB, saya hampir tidak menemukan kelas-kelas yang mahasiswanya sering nyeletuk.

Tetapi dalam acara seminar yang saya hadiri, sering kali secara spontan bapak ibu guru atau kepala sekolah yang menjadi peserta menyeletuk di tengah-tengah pemateri berbicara. Dan biasanya celetukan akan diikuti oleh gurauan atau celetukan yang semakin mengompori dan membuat suasana menjadi hiruk pikuk.

Lalu, apakah salah jika menyeletuk selama pemateri berbicara ? Tidak salah barangkali, sebab itu adalah bentuk kebebasan. Tetapi celetukan juga bermasalah karena mengganggu konsentrasi peserta lain termasuk pemateri, dan terkesan orang yang menyeletuk kurang memahami adab.

Apakah orang Jepang tidak suka menyeletuk ? Tidak juga. Kalau kita menyaksikan persidangan dewan, maka sudah menjadi kelaziman saat PM berbicara, atau Menteri berbicara, anggota dewan lainnya menyeletuk dengan teriakan. Mereka seakan-akan lupa bahwa di sekolah dasar dulu,mereka sangat dilarang menyeletuk.

Pada sekolah-sekolah atau lembaga pendidikan yang masih memegang keras model pengajaran lama, yang sangat menghormati posisi guru, maka tidak ada siswa yang berani angkat suara kecuali sudah dipersilakan oleh guru.

Tetapi murid-murid saya di sekolah bhinneka selalu saja menyeletuk setiap kali diajar. Saya tidak tahu kenapa, padahal di hari-hari biasa saat mereka belajar di sekolah-sekolah Jepang, mereka pasti tidak pernah menyeletuk di kelas saat guru menerangkan. Barangkali karena mereka menganggap kami tidak akan marah🙂

Saya pribadi tidak suka dengan siswa yang menyeletuk, dan menuntunkan mereka untuk bersikap sopan ketika bertanya, misalnya dengan mengangkat tangan terlebih dahulu, minta ijin untuk bertanya.Celetukan kadang-kadang mengesankan ketidaksantunan seseorang. Apalagi kalau celetukan yang disampaikan asal bunyi.

Beberapa waktu lalu saya mendapat tugas menjadi penerjemah di sebuah perkuliahan yang dihadiri peserta dari Indonesia dalam jumlah dominan. Di tengah perkuliahan beberapa kali dan beberapa orang peserta menyeletuk dengan celetukan yang lucu atau kadang-kadang membuat tertawa peserta lain, tetapi sebaliknya membuat terbengong-bengong pembicara dari Jepang atau peserta dari negara lain. Mereka menunggu saya menerjemahkan dan menjelaskan celetukan tsb, tetapi saya memilih tidak menerjemahkannya. Dalam tugas menerjemahkan saya berpegang pada prinsip hanya menerjemahkan bagian yang dijelaskan oleh pemateri atau pertanyaan yang diajukan oleh peserta dan jawaban dari pemateri, pada jam diskusi. Selebihnya tidak saya terjemahkan.

Celetukan bukan tidak boleh. Celetukan di sela-sela acara keakraban dengan teman sangat menyemarakkan suasana. Celetukan di acara kumpul-kumpul yang santai juga baik. Tetapi celetukan di ruang seminar, ruang kuliah, ruang sidang adalah cerminan kekurangsantunan penyeletuk.

  1. Hal baru bagi saya, kadang lupa pada suasana, karena ingin mencairkan suasana yang hening timbul celetukan! Ternyata mengganggu!

  2. mungkin buah dari reformasi … bahkan di beberapa kampus di Indonesia tidak hanya nyeletuk tapi melempari, merusak dan bahkan membakar kampusnya sendiri …

  3. saya sangat tertarik dengan pandangan saudari, yang mecoba membuka khasanah nasional dengan pembanding internasional. Inilah yang kiranya belum di sadari sebagian besar orang, bahkan barangkali saya juga. Sebab sebagian orang masih membuka wawasan dalam nasionalisme, belum pada global. Sedikit informasi akan dunia luar akan menjadikan seseorang besar dalam lingkungan sempit… Thank atas informasinya

  4. wah baru tahu adat jepang, tabu utk menyeletuk guru…
    tp koq boleh tidur…🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: