murniramli

Kerja Bakti di Kampus Jepang

In Pendidikan Tinggi, Serba-Serbi Jepang on Juni 10, 2010 at 9:52 am

Kalau di level SD hingga SMA kebersihan sekolah dikerjakan sendiri oleh siswa dan guru, maka di lingkungan kampus di Jepang, kebersihan kampus ditangani oleh jasa cleaning service. Setiap hari mereka datang untuk mengumpulkan sampah, membersihkan toilet, dan menyapu tangga. Sebulan sekali biasanya ada jasa cleaning service untuk mengepel lantai koridor.Tetapi karena sampah sudah dibuang dengan benar, dan tempat sampah tersedia di setiap lantai, maka sebenarnya kampus kami sangat bersih. Hanya debu-debu dan sarang laba-laba saja yang kadang-kadang ada di pojok-pojok ruangan, atau pada peralatan yang jarang dipakai.

Setiap menjelang tahun ajaran baru di kalangan senat mahasiswa ada oosoji (bersih-bersih). Pada saat itu biasanya kami mengepel dan menyikat lantai ruang belajar dan lab yang biasanya kotor sekali karena tidak pernah disapu selama setahun.Saya sendiri karena tidak tahan, biasanya melakukan bersih-bersih sendiri di hari Sabtu atau Minggu ketika agak luang.

Kegiatan bersih-bersih lainnya dilakukan menjelang tahun baru. Ini tidak saja di kampus-kampus, tetapi sudah menjadi kebiasaan di rumah-rumah orang Jepang dan di perusahaan. Boleh dianggap sebagai pekan kebersihan nasionalšŸ™‚

Kegiatan bersih-bersih terbesar di kampus dilakukan pada setiap bulan Juni awal, seperti hari ini. Kegiatan dilakukan serentak di seluruh kawasan kampus dan melibatkan rektor, dekan, dosen hingga mahasiswa.

Pada hari ini kegiatan oosoji dimulai pada pukul 3 hingga pukul 4. Suhu udara mencapai 30 derajat, lumayan panas, tetapi angin bertiup semilir. Dekan dan semua dosen berpakaian santai, bahkan ada yang pakai celana pendek, berkacamata hitam dan bertopi lebar. Kami berkumpul di depan gerbang fakultas yang di situ sudah tertumpuk alat-alat kebersihan termasuk sarung tangan kerja. Masing-masing mengambil alat kerja yang disukainya plus sarung tangan dan mulailah kami bekerja, memotongi rumput di halaman kampus, menyapu jalan-jalan yang menuju fakultas, dan mencabuti rumput-rumput liar di taman bunga.

Tidak tampak perbedaan status karena semua bekerja serius. Bahkan dekan pun berpeluh-peluh melakukan hal yang sama dengan yang kami lakukan. Dan tidak ada yang menawarkan bantuan untuk menggantikannya. Jika ada dosen yang tidak ikut berpartisipasi hari itu, karena keperluan misalnya mereka malu dan membungkuk meminta maaf kepada kami semua.

Hari ini sebenarnya jadwal pembahasan disertasi saya dengan dua orang sensei, tetapi karena bentrok dengan oosoji, kentoukai (diskusi) hari ini dibatalkan. Semua kuliah pada jam keempat (mulai dari 14.45 sd 16.15) diliburkan supaya semua bisa ikut oosoji.

Kegiatan oosoji tidaklah berat, sebab rumput yang harus dipangkas beberapa hari sebelumnya sudah dipotong pendek oleh tukang rumput yang dibayar kampus. Jadi, kami hanya mengumpulkan sisa-sisa potongan, atau mencabuti dan memotongi yang luput, atau menyapu jalan.Tidak sampai berpeluh-peluh, tapi biasanya dosen-dosen atau mahasiswa yang jarang mengerjakan ini akan mengeluh, uh…capek!

Saya melihat kegiatan ini sebagai bentuk kebersamaan anggota fakultas. Saat mencabut rumput, obrolan santai antardosen bisa berlangsung. Kami pun dengan santai bisa berbincang dengan dosen atau staf administrasi yang kami sering ganggu dengan segala macam urusan kampus. Malah lebih banyak obrolannya daripada keseriusan kerja.

Setelah satu jam berjalan, sampah-sampah diikat rapat dalam plastik yang sudah disiapkan, dan kami mengembalikan alat-alat kerja, lalu kami berkumpul di depan gerbang fakultas kembali dan di sana sudah ada teh botol menunggu. Hanya teh botol. Acara kerja bakti di Jepang sangat jarang diikuti dengan kegiatan makan-makan. Setelah perwakilan kantor membungkuk mengucapkan terima kasih, dan mempersilahkan kami mengambil teh botol, masing-masing kembali ke ruangan sibuk bekerja lagi.

Demikianlah, walaupun tidak terlalu bersih, tapi halaman fakultas kami menjadi tampak indah dan rapi.

  1. salam kenal: Luar biasa, teringat dengan apa yang dirintis dan dilakukan oleh Bupati Sragen, yang mengajak masyarakatnya untuk menyumbangkan segenggam beras untuk kebutuhan orang yang lebih membutuhkan. Alhasil, hampir 1 ton yang terkumpul, kesamaan dengan cerita kehidupan masyarakat Jepang di atas adalah rasa kebersamaan dan pandangan masyarakat yang sama, sehingga pepatah berat sama dipikul, ringan sama dijinjing dapat terlaksana, ayo kita disiplinkan pribadi untuk mendisiplinkan bangsa kita, ditunggu lagi sharing2nya, thx

  2. Salam : Ternyata memang bukan cuma cerita atawa dongeng,Jepang negara yang disiplin biarpun baru sehari di jepang,tapi kedisipilinan masyarakatpatut menjadi contoh agar bangsa kita juga bisa menjadi tertib seperti mereka,kebersihan dan kesabaran dalam melayani tamu patut di teladani….but kapan yah,makanya mari kita ambil yang positifnya dari perjalanan pendek di negri sakura ini,tk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: