murniramli

Apakah anda mengalami gegar budaya?

In Serba-serbi Indonesia, Serba-Serbi Jepang on Juni 11, 2010 at 2:24 pm

Hari ini adalah hari terakhir menjadi penerjemah di sebuah kursus, dan bahasan hari ini cukup rumit untuk diterjemahkan supaya mudah dipahami oleh peserta. Tadi malam saya keasyikan mengerjakan disertasi dari siang sampai pukul sembilan malam, dan baru bersiap-siap menerjemahkan  makalah kuliah hari ini. Saking susahnya, saya baru selesai jam 2 pagi. Padahal hari ini pagi-pagi, saya masih harus mengajar di sebuah universitas. Saya masih ingin tidur sebenarnya, tapi tidak ada cara lain, jarum jam terus bergerak dan saya mesti bergegas.

Materi yang disampaikan dalam pelatihan hari ini adalah ttg Culture Shock (gegar budaya), ciri-cirinya, gejala serta cara mengantisipasinya.Sambil menerjemahkan saya membayangkan masa-masa awal kedatangan di Jepang dulu. Beberapa mengena sekali !

Sewaktu datang ke Jepang, saya bukan main gembiranya. Siapa yang tidak senang, sebab datang ke Jepang adalah impian lama yang diwujudkan Allah. Enam bulan mengikuti kursus bahasa Jepang, sama sekali tidak ada masalah. Saya masih waku-waku (senang-senang), sebab barangkali karena tidak terlalu khawatir dengan masalah tempat tinggal (saya tinggal di asrama kampus), lalu segala urusan terkait dengan kampus dan kelurahan, sampai urusan membuka rekening dikerjakan dengan bantuan sepenuhnya pihak kampus, jadi tidak ada masalah. Makanan juga tidak ada masalah kecuali 2-3 hari saat kedatangan karena saya belum tahu harus beli makanan di mana, sebab asrama saya agak jauh dari pertokoan. Tetapi karena pada dasarnya saya tidak ada masalah dengan makanan ikan2an, maka tidak ada masalah berarti di sini.

Stress biasanya muncul menjelang ujian akhir bahasa Jepang, sebab saya masih suka bersaing dengan teman2 dari negara lain mengenai skor tertinggi.

Dikatakan bahwa biasanya pendatang di sebuah tempat yang berbeda budayanya, akan melewati fase kegembiraan dalam beberapa pekan (atau hari atau bulan, tergantung orang), lalu setelah itu akan masuk ke fase depresi, yaitu fase ketika kita merasa tertolak oleh orang-orang sekeliling kita, karena kita tidak paham bahasa, budaya dan apa yang kita kerjakan tidak sejalan dengan keinginan mereka. Pada fase ini biasaya pelaku akan mengalami stress berat, dan menunjukkan gejala-gejala misalnya :
1. ingin pulang ke tanah air (homesick)
2. bosan dengan kehidupan yang monoton
3. menyendiri (internet, email, chatting)
4. menangis secara tiba-tiba
5. makan banyak
6. tidur kurang atau tidur kebanyakan
7.menjelek-jelekkan orang Jepang dan membuat stereotype ttg orang Jepang
8. menghindari kontak dg orang Jepang
9. sering jengkel dan kesal
10. stress
11. Lebih banyak berkumpul dengan sesama warga Indonesia

Saya tidak mengalami homesick karena di Indonesia pun saya tinggal terpisah dengan orang tua selama masa kuliah dan kerja. Juga tidak bosan dengan kuliah bahasa Jepang saja atau kehidupan kampus-rumah,rumah – kampus, sebab pada dasarnya saya suka belajar. Tetapi saya terjangkit penyakit nomor 3, 5, 6, makanya berat badan saya naik 5 kilo.

Menjelek-jelekkan orang Jepang atau membuat stereotype ttg orang Jepang tidak saya alami pada tahun pertama dan kedua, tetapi ketika masuk program doktor, tingkat stress meningkat sebab komunikasi dengan sensei mulai semakin susah dilakukan, dan kemampuan bahasa Jepang saya ternyata belum memadai untuk menghadiri kuliah, saya mulai bergosip dengan teman2 sesama orang asing tentang karakter aneh orang Jepang :-)  Misalnya kami berolok-olok, mengapa universitas mengundang banyak mahasiswa asing sementara mereka tidak mempersiapkan kelas-kelas berbahasa Inggris. Terutama di fakultas saya. Lama-lama pandangan seperti ini kikis, sebab saya semakin jago bahasa Jepang dan lebih terbuka dalam berfikir, bahwa sudah sewajarnya saya harus menguasai bahasa Jepang, karena ini di Jepang.

Dari tahapan depresi saya tergolong cepat masuk ke tahapan pemulihan. Saya segera menemukan trik mengenal budaya dan bahasa Jepang secara lebih menyenangkan, yaitu ikut kunjungan ke sekolah-sekolah, minta tutor kepada sensei untuk membimbing saya membaca buku, ikut seminar-seminar guru se-Jepang, dan kalau ada acara pertukaran budaya saya langsung daftar, atau saya jalan-jalan ke lain kota.

Sekarang saya mungkin sudah dapat dikatakan pada tahap akomodasi dan adaptasi, sebab saya sudah bisa mengatasi semua masalah secara mandiri di tengah masyarakat Jepang. Saya tidak segan lagi dengan orang Jepang, bahkan saya bekerja dengan mereka, dan saya tetap memegang prinsip yang saya pahami. Hanya saja saya belum bisa lepas dari stress menghadapi penelitian, penulisan disertasi dan sidang-sidang.

Ketika sudah beberapa tahun tinggal di Jepang, kita akan kembali mengalami gegar budaya saat kembali ke tanah air. Gejala ini disebut re-enter shock. Pada mulanya kita merasa tidak ingin pulang ke tanah air, sebab sudah cukup puas menikmati kenyamanan hidup di Jepang, lalu jika sesekali berkunjung ke tanah air, penyakit “Jepangisme” semakin parah, kadang-kadang kita menganggap semua yang ada di Jepang lebih baik daripada Indonesia. Dan akhirnya kita kembali merasa sebagai orang terasing di tanah air kita sendiri.Yang lebih parah tidak seperti tahapan culture shock ketika datang ke Jepang, tahapan re-enter shock umumnya langsung masuk ke tahap depresi tanpa ada tahap kegembiraan. Banyak orang yang tidak merasa gembira akhirnya pulang ke tanah air🙂

Saya mendapati diri saya dan teman-teman saya seperti itu adanya. Semakin lama berada di Jepang semakin membuat kita bersikap tidak adil terhadap tanah kelahiran sendiri🙂

Tetapi apapun namanya, semua orang akan mengalami itu. Culture shock dan re-enter shock. Jadi tidak usah terlalu khawatir saat mendapati diri anda tiba-tiba ingin pulang saat baru mendarat di Jepang🙂

  1. Assalamu’alaikum wr,wb

    Bu Murni, bagaimana kabarnya ..??? Saya sudah lama sekali tidak berkunjung ke sini ya🙂

    Hmm… menarik sekali, culture shock dan re enter shock,,,, Saya jadi ingin secepatnya bisa mencapai Jepang Bu, tapi tidak punya niatan untuk tinggal di sana,,, Cukup saya menimba ilmu dari sana, selanjutnya akan saya share untuk kampung halaman, karena merekalah yang membutuhkan saya,,,,🙂

    Salam semangat selalu
    Mahasiswa Pekerjaan Sosial STKS Bandung 2008

  2. […] Apakah anda mengalami gegar budaya? « Berguru […]

  3. Assalamu’alaikum wr,wb

    salam kenalBu Murni, saya udah membaca beberapa tulisan bu Murni..
    semuanya sangat menarik,..terutama tulisan yang di atas.
    culture shock dan re enter shock. saya dulunya seorang kenshuusei dan sudah 4 tahun di Jepang. seperti yang Bu Murni bilang sepertinya saya sekarang mengalami re enter shock dan pengen sekali balik ke Jepang.satu hal lagi yang ga bisa saya pungkiri Semakin lama berada di Jepang semakin membuat kita bersikap tidak adil terhadap tanah kelahiran sendiri.
    salam semangat selalu, arigatou gozaimasu(^_^)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: