murniramli

Penyandang Cacat dan Fasilitas untuknya

In Renungan, Serba-Serbi Jepang on Juni 18, 2010 at 10:01 am

Pekan dan bulan-bulan pertama tiba di Jepang dulu, saya belum bisa menawarkan jasa kepada orang yang kebingungan mencari jalan, sebab saya pun tak begitu kenal seluk beluk Nagoya, apalagi Jepang. Waktu itu bekal saya berjalan-jalan hanya sepotong kalimat : ここへ行きたいんですが、どうやって行くんですか(baca : koko e ikitain desuga, douyatte ikun desuka, arti : saya ingin pergi ke tempat ini, bagaimana caranya ?) Dan pertanyaan umumnya saya ajukan kepada petugas di stasiun ataupun pak polisi. Semuanya dengan sukarela menjelaskan sedetil-detilnya.

Setelah semakin sering jalan, dan saya merasa sudah tahu liku-liku Nagoya, plus hafal jalur-jalur kereta yang biasa saya lewati, saya mulai berani menawarkan bantuan kepada orang Jepang yang kebingungan. Kadang-kadang mereka agak kaget dan ragu melihat penampilan saya yang berjilbab, dan sebagaimana kebanyakan orang Jepang yang tidak begitu percaya dengan orang asing, maka mungkin mereka kurang percaya dengan penjelasan saya.

Umumnya yang sering tersesat dan kebingungan adalah kakek nenek. Mereka sudah banyak yang tidak mengikuti kemajuan pembangunan perkeretaan di Jepang misalnya. Sekalipun rata-rata orang tua Jepang melek huruf, tetapi kalau melihat jalur kereta yang demikian rumit, sudah tua pasti bingung juga. Yang muda saja kadang-kadang bingung.

Saya mengenal istilah sopan untuk menanyai orang Jepang yang kebingungan dan mereka biasanya menghargai sekali. Kalimatnya begini : どこへ行かれるんですか(baca : doko e ikarerun desuka, arti : mau ke mana ?). Sudah beberapa kali saya pakai kalimat itu untuk membantu kakek nenek yang kebingungan.

Hari ini saya pulang bekerja dan menyempatkan mampir sebentar ke stasiun Aratamabashi. Saat keluar dari platform, saya melihat seorang bapak-bapak yang tidak melihat, mengetuk-ketukkan tongkatnya menuju eskalator yang seharusnya untuk turun. Si Bapak kelihatannya agak bingung, sebab dia tidak berhasil menemukan jalan kuning yang disiapkan untuk orang buta di Jepang. Setelah saya tanya, dia katakan mau ke pintu tiket. Saya kemudian membimbingnya, di jalan beliau berucap bahwa tolong jangan di panel, tetapi di pintu khusus untuk penyandang cacat. Saya iyakan. Setibanya di pintu tiket, si Bapak masih kebingungan dengan arah, dia berjalan balik menjauhi pintu tiket. Saya kemudian mengarahkannya dan membantunya melewati pintu untuk orang cacat lalu, saya sendiri lewat pintu tiket normal.

Keluar dari pintu tiket saya pikir beliau sudah tahu jalan, sebab langsung berjalan ke arah tangga. Agak mengkhawatirkan, maka saya tanya lagi, Bapak mau naik tangga ? Beliau menjawab: haik, daijoubu desu . Arigatou gozaimasu (Ya, saya baik-baik saja, terima kasih). Kelihatannya beliau masih bingung, sebab tak berapa lama, beliau berbalik arah menuruni tangga dan kembali ke arah pintu tiket. Saya hendak turun menghampirinya, tetapi saya putuskan tidak. Si Bapak sepertinya tidak mau kembali merepotkan orang lain menilik dari jawabannya, haik daijoubu desu, arigatou gozaimasu. Mudah-mudahan ada orang Jepang yang membantunya di bawah sana.

Saya mendadak prihatin sekali. Pasti gelap sekali dunia di mata Bapak tadi. Yang terdengar hanya keramaian dan suara-suara saja. Ketika bingung dan tersesat di sebuah tempat, maka sungguh sedih ketika tidak ada yang menanyai dan menawarkan bantuan.

Bagi orang-orang yang mempunyai kecacatan, kadang-kadang mereka merasa tersingkirkan dari sistem. Atau sistem tidak berpihak pada mereka. Di Jepang, pemerintah sangat peduli dengan orang-orang cacat. Sehingga bagi orang-orang yang tak bisa melihat disiapkanlah jalan-jalan kuning yang bentol-bentol (tidak rata) di pusat-pusat keramaian. Lalu, di tangga-tangga berjalan, di panel elevator disiapkan visualisasi braille, sehingga mereka dapat menggunakannya. Mereka juga tidak perlu membayar tiket, dan mereka melewati pintu tiket khusus. Jika mereka hendak naik bis, supir bis akan turun dan menolongnya untuk naik.

Tidak hanya untuk orang buta, bagi mereka yang menggunakan kursi roda, maka di bis atau di dalam kereta pasti ada space khusus untuk mereka. Di stasiun kereta, mereka tinggal mengontak staf stasiun yang akan segera bergegas menyiapkan papan seluncuran untuk dilewati naik ke kereta. Dan informasi tentang adanya penumpang berkursi roda akan sambung menyambung ke seluruh stasiun, di manapun si penumpang berkursi roda turun, maka tepat di pintu keluar sudah berdiri petugas dengan papan seluncurannya.

Saya tidak melihat hal itu sebagai bentuk keistimewaan, tetapi menerimanya sebagai bentuk kewajaran berfikir. Bahwa sudah selayaknya pemerintah menyiapkan fasilitas demikian untuk warganya yang mengalami kekurangan.

Dan sudah selayaknya pula kita yang diberi kenikmatan melihat, membantu dan meringankan penderitaan dan kesulitan mereka. Sangat beruntunglah kita yang dianugerahi mata yang dapat melihat benda, menikmati warna, dan indahnya alam. Maka hendaknya dia dipakai untuk hal kebaikan saja.

  1. tulisannya bagus sekali. Sudah sewajarnya orang normal membantu orang-orang yang cacat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: