murniramli

Pemotret Iseng

In Serba-Serbi Jepang, SMA di Jepang on Juni 19, 2010 at 3:16 am

Saya gemar memotret, tetapi hanya alam, bunga, binatang, atau benda/bentuk aneh saja. Saya kurang pandai memotret orang. Ada suatu masa di Nagoya teman-teman sangat gemar memotret. Barangkali karena murahnya kamera mereka sampai rela menyisihkan uang untuk berburu kamera besar dan lensa-lensa canggih. Saya belum termasuk golongan ini, tapi mungkin suatu saat. Sekarang ini karena sibuk dengan urusan penelitian, saya jarang sekali punya kesempatan dan minat memotret.

Kamera barangkali barang pertama yang dicari mahasiswa asing ketika menginjakkan kaki di Jepang. Saking banyaknya dan pesatnya teknologi kamera, model baru hanya bisa bertahan beberapa bulan saja. Tapi bagi pemotret sejati, mereka lebih menyukai kamera kuno sebenarnya. Entahlah.

Dalam tulisan ini saya tidak akan membahas masalah kamera, tetapi gejala abnormal di kalangan masyarakat Jepang terkait dengan penggunaan kamera.

Kalau hendak dikalkulasi, barangkali semua keluarga di Jepang punya kamera. Dan penggemar fotografi di Jepang, mungkin adalah terbesar di dunia. Oleh karena itu tidak mengherankan jika banyak buku-buku foto yang dicetak. Ensiklopedi burung lengkap dengan foto burung dan dilengkapi dengan suaranya. Ensiklopedi tanaman lengkap dengan foto tanaman. Bahkan buku manual jalan-jalan lengkap dengan foto-foto makanan khas per daerah.

Tetapi entah karena mereka tidak membatasi pornografi, maka foto-foto porno dapat diakses di manapun. Di konbini-konbini yang buka 24 jam, pasti ada magazine corner yang digemari tua muda, sekedar untuk membaca-baca komik, atau mengintip majalah-majalah porno. Saya tidak pernah mendatangi corner ini, tapi sampul majalah-majalah yang dipegang anak-anak muda, bapak-bapak yang berdiri tekun di situ, sudah menggambarkan apa isi bacaan yang mereka sedang nikmati.

Kebiasaan membaca majalah porno tidak saja di magazine corner, bahkan saya pernah mendapatinya di dalam kereta. Seorang bapak-bapak berusia 30-40 tahun sedang membuka-buka majalah foto wanita yang maaf tidak layak untuk dipertontonkan, tanpa rasa malu. Si Bapak bahkan tidak peduli dengan siapa yang duduk di sebelah kanan kirinya.

Beberapa hari lalu ada kejadian yang lebih ekstrim lagi. Saat saya pulang dari rumah seorang teman di dalam kereta yang saya tumpangi, ada seorang bapak berusia 40-50 tahunan diminta turun oleh petugas kereta di sebuah stasiun. Apa yang dilakukannya ?

Si Bapak ternyata diadukan oleh seorang penumpang gadis karena memotret si gadis secara sembunyi-sembunyi ketika si gadis duduk berhadapan si bapak. Saya melihat kejadian itu. Karena sepi (sekitar jam 10 malam), saya memilih duduk di kursi priority seat. Di depan saya si gadis duduk. Mengenakan rok biru pendek dan baju merah lengan panjang. Dari segi kesopanan, dia masih sopan dibandingkan gadis2 lain di Jepang yang biasanya show off pada musim panas. Sederetan dengan tempat duduk saya, si bapak duduk dengan tas besar di pangkuannya. Tasnya terbuka separuh dan tangannya sedang memegang kamera. Saya pikir dia sedang mengecek foto hasil jepretannya. Tetapi matanya mencurigakan, celingak celinguk seperti takut ketahuan. Saya mulai curiga. Dan benar saja, ketika si gadis hendak turun, kamera dia arahkan ke kaki. Masya Allah.

Si gadis ternyata tahu tabiat itu. Maka dia buru-buru turun dan segera melapor ke petugas. Tetapi dasar si bapak, dia masih belum menyadari bahwa perilakunya sudah ketahuan. Ketika dua orang gadis naik dengan pakaian yang lebih tidak sopan, si bapak kembali beraksi. Kali ini tidak memotret tetapi merekam dengan video. Saya mulai tidak tahan, dan bermaksud berdiri menendang bapak yang kurang ajar itu. Tetapi sebelum itu saya lakukan, seorang petugas naik dan memintanya turun.

Demikianlah. Kadang-kadang saya tidak mengerti jiwa abnormal orang seperti itu. Maniak terhadap sesuatu yang kadang-kadang tidak masuk akal. Tetapi pastilah orang-orang yang demikian tidak mempunyai prinsip hidup yang benar dan sehat.

Beberapa waktu lalu dikabarkan di TV tentang pemotret iseng dengan target siswi-siswi SMA. Anak-anak SMA dengan rok pendeknya memang menjadi sasaran empuk. Mungkin ada baiknya pemerintah Jepang mengatur lebih ketat tentang seragam anak sekolah. Paling tidak yang terkait dengan kesopanan dan kesantunan.

  1. NihoN e ikitai yo! Pgen ke jepang! Ehehe *g nyambung*

  2. Asyiik…bu…saya juga hobi memotret …

  3. Saya kira Anda beneran jadi nendang orang itu…

  4. Membayangkan jika mbak Murni menendang bapak tadi..pasti lebih seru ceritanya…
    Mbak, apa bapak tadi bukan pengidap sindrom tertentu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: