murniramli

Penelitian tidak pernah berhenti

In Pendidikan Tinggi, Penelitian Pendidikan on Juni 29, 2010 at 4:29 am

Karena besok saya ada sidang terakhir disertasi, maka saya sebenarnya sudah memutuskan untuk tidak ikut Japan Comparative Education Annual Meeting tgl 26-27 Juni lalu. Saya memang mendaftar untuk menyampaikan makalah, karena saya pikir, materi presentasi tinggal saya ambil dari salah satu bab disertasi. Tetapi mengingat intensitas sidang bertambah, saya jadi panik, dan memutuskan tidak mengirimkan summary presentasi pada saat lewat deadline sekalipun. Ternyata tindakan tersebut adalah tindakan yang tidak lazim, oleh karenanya pihak Komite mengirimi email dan meminta saya mensubmit summary sekalipun terlambat.

Jadilah, kemarin di tengah kesibukan sidang dan memperbaiki disertasi, saya mempresentasikan bab 1 dan bab 2 disertasi saya yaitu tentang perubahan sistem persekolahan dan kurikulum dari jaman Belanda ke jaman Jepang. Sebenarnya sejarah pendidikan Indonesia masa Belanda dan masa Jepang mungkin sudah banyak ditulis baik oleh peneliti Indonesia, Belanda, maupun Jepang. Tetapi dari banyak literatur yang saya baca, kebanyakan hanya menceritakan bahwa sistem persekolahan berubah dari sistem yang sangat kompleks pada jaman Belanda menjadi sistem yang simple pada jaman Jepang. Lalu ada sebuah literatur yang menuliskan juga tentang karakteristik pendidikan jaman Jepang yang cenderung merupakan pendidikan persiapan perang.

Saya penasaran dengan perubahan sistem tersebut. Maksudnya, tidak sekedar menyebutkan perubahan tanpa alasan. Jika hendak mempelajari detil perubahan, alasan perubahan dan bagaimana prosesnya berlangsung, maka mau tidak mau kita harus menggali lebih dalam sistem sekolah, tujuan persekolahan, dan kurikulum pada masa yang dimaksud.

Dengan latar belakang berfikir, bahwa sangatlah susah bagi militer Jepang untuk mengubah secara drastis sistem persekolahan yang beragam pada waktu itu, maka asumsi sementara hanya sekolah negeri yang berubah, sementara sekolah swasta tidak terlalu mengikuti perubahan tersebut. Lalu, sekalipun diterbitkan kebijakan perubahan, tidak mungkin dalam masa 2 tahunan militer Jepang berhasil mengubah Tweede School, Vervolgschool, Volkschool, Schakelschool, HIS, HCS dan HAS menjadi satu bentuk 6 tahun Kokumingakkou. Dengan alasan biaya dan ancaman perang, maka sulit dibayangkan semua sekolah berhasil diubah.

Seorang ilmuwan Amerika menuliskan bahwa militer Jepang menghapus semua sekolah menengah umum jaman Belanda dan mengubahnya menjadi sekolah kejuruan. Inipun menarik untuk ditelusuri lebih dalam. Maksud saya dengan mengkaji data-data yang ada.

Saya menekankan pada presentasi Sabtu kemarin, pada sistem pendidikan yang diadopsi di masa kemerdekaan. Secara alami, pemerintah Indonesia pada masa kemerdekaan akan mengadopsi sistem Jepang, sebab itu yang paling terbaru diterapkan di seluruh negeri hingga tahun 1945. Namun ternyata didikan Belanda lebih kuat, sehingga pemegang kebijakan memilih sistem persekolahan Jepang tetapi meninggalkan kurikulumnya, dan mengadopsi kurikulum sekolah Belanda, khususnya untuk tingkat menengah.

Masih banyak pencerahan yang saya temukan dari penelitian di dua masa itu saja. Dan pada saat presentasi, moderator memuji nilai kuat dan orijinalitas penelitian. Lalu beberapa peserta mengajukan pertanyaan terkait, sebab presentasi dalam waktu 20 menit tidak cukup untuk membahas dan menjelaskan semua perubahan.

Tetapi ada satu komentar dan tawaran menarik yang saya terima dari seorang professor di Tamagawa University. Saya pikir beliau menyegajakan datang ke presentasi saya karena hendak menyampaikan sesuatu yang ketika mendengarnya membuat saya ingin melompat gembira.

Beliau adalah dosen di Tamagawa, sekaligus kepala museum pendidikan di sana. Dari beberapa koleksi yang dimiliki, kelihatannya ada beberapa buku pelajaran yang dipergunakan pada masa militer Jepang. Tetapi dia tidak yakin apakah ada buku yg dipakai di Indonesia. Beberapa buku pelajaran yang terdata adalah buku2 yang dipakai di Cina dan Korea saat militarisme Jepang berlangsung di sana.

Karenanya beliau menawarkan jika saya ingin melakukan penelitian lanjutan, maka beliau bersedia membantu. Saya membungkuk dalam-dalam dan tersenyum gembira, sambil berkata bahwa memang sudah ada rencana melanjutkan penelitian ini. Tapi karena sekarang saya sedang masa penyelesaian program doktor, maka saya akan melakukan penelitian lanjutan setelah disertasi saya submit.

Tidak hanya beliau sebenarnya yang membukakan jalan penelitian, tapi sensei-sensei yang menguji saya dalam sidang (ada 4 sensei), semuanya membantu saya menemukan poin-poin yang masih perlu digarap dalam disertasi yang saya tulis. Saya pikir ide-ide mereka dan ide-ide saya tidak bisa terwujud dengan penelitian mandiri, maka kami pun menyinggung kerjasama penelitian ke depan. Selain mereka ada satu lagi teman baik saya di Tokyo yang juga meneliti tentang Indonesia, dan dia menularkan semangat mudanya untuk menyusun penelitian bersama di masa depan.

Sekalipun meneliti dan menuliskannya dalam bentuk disertasi atau paper ilmiah sangatlah berat, tetapi ketika banyak orang yang tertarik dan mendukung, penelitian dan penulisan menjadi sangat menyenangkan.

Iklan
  1. Selamat, Bu. Sidang terbuka atau tertutup? Semoga berjalan lancar dan sukses.

    Mochammad
    http://mochammad4s.wordpress.com/

  2. semoga sukses bu….

  3. bu ,murni memang murni suka belajar yaaa…
    (nyambung-nyambungin..hehehehe)
    salam kenal (lagi) buuu..

  4. Assalamualaikum….
    Menurut bu murni apakah kurikulum sekolah-sekolah di jepang cocok diterapkan di Indonesia? Dan menurut ibu manakah yang lebih baik kurikulum sekolah Belanda atau Jepang?

  5. @Silent : Ada bagian yg cocok ada yang tidak.
    Sayangnya penelitian saya belum sampai pada analisa konten pembelajaran pada saat itu, jadi penilaian saya masih sangat lemah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: